
Cincin nampak indah dijari kami berdua. Terus berpegangan bagaikan dua sejoli yang tidak akan pernah terpisahkan. Baru kali ini merasakan kenyamanan bersama pria. Dulu tidak pernah ada kata pacaran, namun ketika mengenal Satria dia begitu memanjakan diriku sebagai bidadari penambat hati.
"Kau sangat baik sekali, Satria! Kamu adalah penolongku, maka semua terbayarkan dengan mencintaimu. Terima kasih."
Selalu dimanja. Mungkin efek hamil juga, maka dia lebih berhati-hati menjaga. Tidak menyangka dia sangat perhatian dan selalu waspada. Pria seusia dia, jarang bisa mengerti bagaiamana menjaga ibu hamil dengan baik. Adakalanya sikapnya sangat berlebihan khawatir, namun aku juga memahami dia ketika dia sangat mencintaiku, makanya dia tidak ingin terjadi sesuatu yang membahayakan.
"Jangan terlalu capek. Jaga kondisi tubuhmu dan si baby dengan baik!" Satria memeluk erat tubuh ini dari belakang.
Kami berdua sedang jalan-jalan dipantai. Perut membesar, jadi dia tadi mengangkut memakai mobil. Katanya aku tidak boleh stress, maka dia mengajak cuci mata dengan melihat pemandangan air berderukan ombak itu.
"Mana ada aku capek. Selalu sehatlah, lihat nih!" Mengelus pelan pipinya yang bermanja ria tergolek dibahuku.
"Hmm, percaya. Tapi kalau bisa jangan melakukan hal-hal berat dulu. Kalau butuh bantuan bisa memanggilku nanti."
"Hadeh, ngak gitu juga, Satria. Masak kamu sedang repot, aku harus menyuruhmu datang, 'kan itu ngak etis dan sangat tidak sopan."
"Tidak apa-apa, sayang. Yang penting kamu bahagia dan aman. Aku tidak ingin kau sakit hanya gara-gara masalah kerjaan sepele."
"Ngak berat kok. Paling-paling masak, cuci piring, nyapu."
"Nah, kalau banyak pasti berat 'lah itu."
"Iiichh, engak juga. Justru kalau sudah hamil tua begini, aku harus banyak bergerak. Anggap saja pekerjaan itu sebagai olahraga. Justru kalau hanya diam, maka akan menyusahkan proses persalinan."
"Hah, bisa gitu, yah? Baru tahu."
"Iya, sayangku, Satria. Makanya sekarang mulai mencari info dan belajar lebih banyak lagi yang contohnya ada di google, 'kan kamu sebentar lagi mau jadi calon ayah," Membelai terus pipi halusnya.
__ADS_1
"Hmm, benar juga sih. Oke, aku akan belajar, siapa tahu ada hal yang penting belum aku ketahui."
Sikapnya masih manis sambil bermanja ria. Deru ombak nampak mengebu mengelombang, tanda ikut antusias menyemagati hubungan kami. Tatapan kami terus kosong, menikmati keindahan alam yang tak terperi lagi indahnya.
"Makan yang banyak, apalagi sayur-sayuran ini," Satria menunjuk ke arah piring.
Setelah puas menikmati pantai, perut yang lapar minta diisi. Menuju restoran yang duduk lesahan, agar aku nyaman duduk ketika perut tidak bisa diajak kompromi. Banyak menu yang dipesan menggunakan aneka ala sayur, sedangkan Satria serba dari laut seperti kerang dan ikan.
"Iya, makasih." Senyuman manis terlempar untuknya.
"Oh ya, ikan juga baik lho buat ibu hamil."
"Masak sih?"
"Nih, lihat!" Tangan menunjuk gawai, agar segera memperhatikan layarnya.
"Hmm, apa aku harus mencicipinya."
"Boleh, tapi yang goreng saja. Jangan yang memakai rasa balado ini, takutnya malah bikin mules perut kamu sebab terlalu pedas. Lihat! Cabenya saja terlalu merah begini."
"Iya." Lagi-lagi diperhatikan berlebihan.
Disitu tertera beberapa makanan dan minuman yang baik untuk ibu hamil. Ternyata Satria benar-benar ingin belajar. Baru pengalaman pertama, mungkin membuat dia harus tetap siap siaga dan banyak pengetahuan, agar tidak terjadi yang tak diiginkan.
"Wah, kamu beneran mau belajarkah?"
"Tentu saja. Kalau kurang pengetahuan, takutnya kamu akan salah makan dan efeknya menjadi tidak baik buat si bayi dan kamu sendiri."
__ADS_1
"Iya juga sih."
Senang rasanya mendengar kegigihan Satria. Pria ini terlalu berlebihan khawatir, padahal kami belum sah. Pria yang langka dan jarang ditemui dizaman sekarang. Sangat berbeda jauh dari sikap mas Bayu.
Perut kuelus pelan. Ada sedikit kesedihan didalam hati, ketika ayah sendiri tidak seperti Satria. Andaikan dia, tahu pasti juga ikut merasakannya.
Selamanya harus mengubur dalam-dalam rahasia itu. Selain agar tidak menyingung Satria, ketika sudah mengerti suatu saat nanti, biar si kecil tidak sedih juga.
"Gimana, apa kamu senang hari ini?"
Dengan pelan dia menuntun menggunakan tangan. Jalan diperhatikan seksama, agar tidak tersandung dikarenakan batu lumayan besar bertebaran didekat pasir pantai.
"Tentu saja aku senang. Terima kasih, ya. Kamu sudah membawaku ke sini. Seumur-umur baru merasakan keindahan pantai."
"Masak sih?" Wajahnya mengisyaratkan tidak percaya.
"Iya. Orangtua terlalu sibuk bekerja dan mas Bayu sibuk sama urusannya sendiri.
"Oh gitu. Emm, ngomong-ngomong masalah mas Bayu, apa ada perkembangan kabar darinya?"
"Aku tidak tahu. Itu urusan orangtuaku, sebab aku tidak ingin mendengar namanya lagi. Entah mengapa rasanya sakit sekali walau hanya namanya disebut."
"Eeh, maaf kalau membuat kamu tersinggung atau jadi beban pikiran." Dia tidak enak hati.
"Tidak apa-apa. Mungkin kamu lagi penasaran saja sama kabar dia. Mungkin lain kali, kita lebih baik jangan bicarakan dia lagi, ya. Tidak ada gunanya juga 'kan? Malahan bisa-bisa bikin kita salah paham saja nanti, gimana?"
"Benar juga. Baiklah."
__ADS_1
Akhirnya setelah bikin kaki pegal, sampai juga dimobil. Dia membukakan dengan senang hati. Masih menuntun tangan perlahan, agar aku bisa duduk dengan benar dan baik. Jika salah posisi duduk, pasti bikin tidak nyaman dan pegal pinggang akibat kelamaan.