MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Kesedihan Akan Hadir Si Kecil


__ADS_3

Tangan Ibu terus saja kuremas-remas. Ada juta rasa tidak tenang yang mendera. Bagaimana tidak, jika dalam perut ini ada benih yang tidak diinginkan. Sebenarnya bahagia jika mendapatkan bayi mungil, namun tidak ingin dari keturunan pria yang sangat aku benci.


Bapak yang awalnya tidak tahu, kini ikutan bingung atas kondisiku yang bisa jadi sedang berbadan dua. Kendaraan sewa milik keluarga, akhirnya berhenti juga dipekarangan bangunan berwarna putih dengan penuh ppetugas-petugasnya yang berseragam putih juga.


"Kamu jangan bersedih begitu, Nak!" Beliau mengelus pipi ini.


"Hhh, ingin sedih tapi semua telah terjadi, jadi aku akan mencoba pasrah saja atas keadaan ini, Bu!"


"Kami sebagai orangtua sangat prihatin atas keadaan ini, dan hanya bisa menyemangati kamu saja. Apapun yang terjadi kami akan tetap ada dan mendukung kamu."


"Terima kasih, Pak. Maaf jika sudah membuat kalian kesusahan. Sebagai anak selalu saja membuat khawatir."


"Tidak apa, Jihan. Kami malah senang bisa membantu kamu."


"Iya, Bu."


Dengan perasaan was-was akhirnya memasuki ruangan pemeriksaan. Tubuh sudah terlentang. Tangan dokter mulai memeriksa beberapa bagian yang menjadi pemicu ada tidaknya janin. Pikiran menjadi kosong. Tidak bisa lagi menterjemahkan semua rasa dalam hati.


Dokter sudah tersenyum tipis. Aku dan Ibu saling berpegangan tangan. Wanita berseragam putih itu masih sibuk membolak-balikkan beberapa helaian kertas.


"Gimana, Dok?" tanya Ibu tidak sabar.


"Ini berita bagus, Buk."

__ADS_1


"Apa benar berita bagus itu kalau anak saya sedang hamil?"


"Iya, Buk."


"Astagfirullah!"


Sorot mata orang yang dulu mengandungku sembilan bulan, sudah membulat sempurna diiringi ada ekspresi kesedihan.


"Ada apa, Buk? Kok dapat berita bahagia malah kaget."


"Eeh, enggak Dok. Sedikit saja agak kaget tadi, saat yang dinanti bertahun-tahun kini telah datang," Ibu sudah bisa berbohong.


"Oh, gitu. Selamat untuk kalian. Usia kandungan sudah dua minggu lebih. Walau belum ada tanda-tanda berkembangan yang signifikan tentang si dedek bayi, namun kalian bisa mendengarkan lewat detak jantung nanti. Jika ingin memastikan kebenarannya bisa lewat pemeriksaan USG."


"Tidak perlu, Bu Dok. Cukup dari pemerikssan tadi kami sudah percaya kok."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Secarcik kertas diberikan. Rasa kacau dalam lubuk hati, terpaksa menyuruh ibu kandung untuk mengantri dalam giliran pengambilan obat.


"Apa yang harus kulakukan terhadap anak ini, Pak?"


Kami berdua tengah duduk santai diruang tunggu.

__ADS_1


"Kita akan sama-sama membesarkannya."


Tangan beliau menepuk pelan tangan ini, yang sembari tadi terus saja gemetaran. Pikiran benar-benar sedang kusut. Tidak mungkin kembali pada suami yang ringan tangan itu, tapi kalau tidak bersamanya pasti kehidupan anak akan nelangsa tanpa belaian kasih sayang.


"Tapi jika suatu saat nanti bayi ini akan menanyakan ayahnya gimana itu, Pak?"


"Kamu tenang saja, Nak. Masalah itu kita akan atasi bersama. Jika sudah besar kita jelaskan dan semoga dia akan mengerti. Yang terpenting sekarang jaga kondisi dan kesehatan kamu, jangan sampai kamu lemah dan sakit."


"Entahlah, Pak. Tidak kepikiran sampai kesitu. Aku begitu takut atas masa depan anak ini nanti."


"Jangan khawatir, Jihan. Ada kami para keluarga yang akan terus menyayangi kamu serta si kecil. Masa depan biar yang diatas mengaturnya. Memang tidak mudah menjalani itu semua. Kamu harus kuat dan buktikan pada Bayu kalau kamu bisa tanpa ada campur tangan dari dia sekalipun. Cukup sudah harga dirimu direndahkan dan selalu diinjak-injak."


Tangan kasar yang sudah membesarkan sampai mengenal kata berumah tabgga, terus saja menepuk pelan supaya memberikan aluran kekuatan, biar bisa sukses mengarungi lautan kehidupan yang penuh kelikuan.


"Baiklah, Pak. Hanya kalianlah penyemangatku sekarang. Kalau tidak ada kalian tidak tahu lagi apa yang terjadi padaku. Jasa kalian tidak terhitung harganya. Sungguh, begitu malu menjadi anak yang selalu menjadi beban serta menyusahkan saja."


"Cukup. Jangan katakan itu lagi, Nak. Seorang ayah atau ibu, mereka tidak akan lelah mengasuh dan terus mengasuh, walau mereka sudah berkulit keriput sekalipun. Kasih sayang tidak akan pernah putus. Lelah kami mengurus, hanya butuh bayaran dengan melihat kalian bisa tersenyum bahagia."


Ucapan beliau terus saja merasuk dalam hati, hingga tak terbendung lagi butiran embun jatuh. Lelah yang tanpa pamrih dan balasan jasa. Kini aku akan mengikuti jejak mereka ketika hadirnya bayi didalam perut yang masih rata bentukmya.


"Ayo pulang. Akhirnya selesai juga antriannya," Kelegaan Ibu saat habis mengambil obat.


Rasa pusing dikepala membuat beliau harus rela berdesakan memanjang. Awalnya ingin mengambil sendiri, namun akibat stres memikirkan masalah berbadan dua membuat kepala terasa berputar-pitar.

__ADS_1


"Iya. Alhamdulillah kalau sudah ditebus," sahut tenang Bapak.


Kami bertiga berputar arah untuk pulang. Urusan dengan rumah putih yang membantu orang banyak tekah selesai. Walau menyisakan kesedihan, kami harus tegar dan kuat melawan masa tersulit sekalipun.


__ADS_2