MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Kebingungan Atas Tawarannya.


__ADS_3

Nasib baik mungkin datang, itulah yang terjadi padaku. Apakah kejelekan akan bisa dia terima dengan lapang dada. Banyak keraguan yang tersimpan. Trauma akan pernikahan pertama, membuat diriku harus berpikir seribu kali. Satria memang pria baik, tapi belum tentu jika berumah tangga denganku bisa berbaik padanya. Sikap yang tidak bisa membuat suami bahagia, takut jika akan kulakukan pada pria yang kini tulus ingin memilikiku.


"Ya Allah, berikan aku petunjukMu. Apakah dia pria yang tepat untukku? Ataukah aku harus menghindar darinya, sebab takut jika diri ini tidak bisa membahagiakan dirinya. Banyak kesalahan fatal yang membuat pernikahan pertama telah hancur, apakah aku harus mundur agar tidak terjadi lagi?"


"Suatu saat anak ini pasti akan bertanya tentang ayahnya? Apakah dengan bersama Satria bisa menerima keadaan itu? Bagaimana jika mereka nanti tidak bisa akur? Anak ini adalah anugerah yang Engkau berikan, tapi apakah bisa bahagia jika tanpa ayah, atau dia butuh ayah seperti sosok Satria?"


Pikiran terus melayang. Keraguan terus melanda. Pusing rasanya memikirkan hal ini. Keadaan yang tercemar membuat semuanya ingin mundur dan sembunyi saja, namun kenyataan hidup harus dilawan agar bisa membesarkan anak ini. Memang bagus jika semua ditutupi dengan hadirnya Satria, tapi takut jika ketahuan oleh masyarakat pasti akan tembah dihina. Dia pria yang terlalu baik selama kukenal, jadi tidak mau jika dia ikutan kena masalah.


"Kamu masih memikirkan tentang penawaran Satria?"


"Eeh, Ibu. Duduk sini."


Saat melamun dipembaringan beliau menghampiri. Mengusap pelan bahu. Untaian senyum itu sangat mendamaikan. Separah apapun masalah, tempat terbaik untuk meluapkan isi hati adalah Ibu kandung sendiri. Tiap masalah kadang tidak bisa dipikir sendiri, maka jalan terbaik adalah mengeluarkan semuanya dengan berbagi cerita.


"Ya begitulah, Bu."


"Kalau ini jalan takdirmu, maka menikah dengannya saja, Nak. Setiap kesusahan pasti akan datang kebaikkan, bagi orang yang sabar dan ikhlas menjalani itu semua."


"Tapi aku takut, Bu. Satria, terlalu sempurna untukku. Aku jadi merasa tidak pantas saja untuknya."

__ADS_1


"Pantas atau tidak, hanya Allah yang dapat menilainya. Beriman dan beribadah padaNya, serta berbakti sama suami adalah jalan terbaik menuju keindahan akhir akherat. Hanya kalian yang bisa menjalankan rumah tangga yang layak mendapatkam kedamaian atau tidak. Sekasar apapun dia, cukup diam dengan penuh kebaktian, pasti suami tidak akan berbuat kasar. Beda dengan kasus suami pertama kamu, sebab dia menikah bukan karena mencintaimu. Sedangkan Satria kelihatan tulus mencintaimu."


"Entahlah, Bu."


"Hhhh, Ibu sangat berharap kamu bisa merasakan kebahagiaan hidup. Kamu berhak dan pantas mendapatkan itu." Ibu terus meyakinkan diri ini.


Pelukan hangat kuinginkan. Serak-serak basah suara mulai mengeras, dengan diiringi deraian airmata.


"Aku juga ingin sekali merasakan kebahagiaan menjadi istri yang bisa melayani baik suami, tapi apakah wanita yang tidak becus sepertiku ini mampu dan lolos melayani Satria yang penyabar itu."


"Kemampuan seorang istri terletak pada ketulusan hatinya melayani. Kalau ada salah atau kamu tidak bisa mewujudkan apa yang menjadi keinginan suami, maka belajarlah tanpa lelah dan tetap terus berusaha bahwa kamu bisa membuat hatinya senang. Jangan mengecewakan dia, sebab peluh keringatnya sangat berharga. Kadang seorang suami seharian penuh banting tulang, maka sambutlah dia dengan senyuman terbaik suatu saat nanti."


"Sama-sama, Nak. Ini adalah tugas seorang Ibu yang harus merangkul anak ketika sedang kesusahan. Tidak ada Ibu yang tega memakan anak sendiri, kecuali dia telah buta akan dunia atau mata hatinnya. Seorang Ibu akan terus mendoakan yang terbaik, sekalipun dia kena lara hati akibat ulah sang anak itu sendiri."


Nasehat beliau sangat bermanfaat. Banyak pengalaman hidup yang sudah beliau jalani. Dari kesusahan atas kekejaman dunia, maupun kebahagiaan sebab banyak anugerah yang tidak terduga. Rasa syukur harus sering terucap agar kita tidak lupa diri bahwa diatas langit masih ada langit. Tidak perlu sombong akan dunia, sebab itu tidak akan pernah abadi.


"Jika kamu masih tetap dalam kebingungan. Mintalah pada Allah, untuk memberikan petunjuk dengan melakukan sholat Istikharah."


"Iya, Bu. Terima kasih sudah mengingatkan."

__ADS_1


"Jika sudah ada petunjuk. Mantapkan jiwa dan hati kamu, jika itu memang jawaban terbaik. Ibu hanya bisa berdoa, semoga kamu segera mendapatkan jaawabanya."


"Amin ya robbal alamin. Terima kasih, Bu."


"Iya, Nak. Tetap semangat dan tersenyumlah. Jangan sampai kamu lemah. Berikan jawaban tetangga yang julid dengan senyum, biar mereka tidak banyak tanya dan terlalu kepo urusan pribadi kamu."


"Siip, Bu. Insyaallah, aku akan bangkit dari keterpurukan yang menyedihkan ini."


"Alhamdulillh. Syukurlah kalau hatimu sudsh terbuka, dan bisa membedakan mana yang baik dan benar."


Pelukan terlepas. Air tetesan embun yang sempat menyeruak, kuseka pakai tangan sendiri. Senyuman mulai hadir. Ada sedikit kelegaan setelah berbagi cerita. Plong, tidak ada beban berat yang terpikirkan lagi.


Dalam kegelapan malam dan dinginnya angin, ingin menundukkan kepala Disepertiga malam mencari jawaban. Sujud dan pasrah pada yang maha kuasa. Tangan menengadah meminta petunjuk. Deraian airmata tak lupa ikut menemani. Semua yang menjadi uneg-uneg didalam hati tercurahkan semua. Untain demi untaian kalbu terus terbaca. Alunan kalam-kalam Ilahi, tak luput mengiringi dalam doa yang terpanjatkan.


"Engkau diatas segala-galanya. Tahu akan hati yang gundah gulana ini. Tidak ada jawaban yang tepat, kecuali Engkau yang memberikan. Kegagalan dimasa lalu, kupinta padaMu jangan terulang lagi. Berikan petunjukMu, semoga pria yang Kau hadirkan adalah pilihan yang terbaik, namun jika semua itu akan menjadikan diri hambaMu ini tersiksa lagi, maka jauhkan sejauhnya agar kami tidak dipersatukan dalam ikatan apapun itu," Doa dalam hati.


Lantunan dzikir terus mengema, dalam kamar khusus untuk sembahyang. Walau netra sempat ingin terpejam namun tetap kutahan. Kata orang, doa terbaik adalah ketika dipertengahan malam. Manusia lemah sepertiku hanya bisa pasrah atas keadaan yang akan diberikan nanti, mungkin saja itu jalan terbaik untuk kami. Jika didekatkan, untaian rasa syukur pasti tak akan terhenti terucap. Manusia hanya bisa berharap dan meminta, namun takdir serta keputusan hanya Yang Maha Kuasalah yang bisa menentukan semuanya.


Kerjaan hanya mengurung diri. Kehampaan telah hadir. Kegagalan itu terlalu membekas dihati. Mengingatnya akan merasa kesakitan saja. Melupakan kepahitan sangatkah sulit. Mungkin itu cobaan agar bisa lebih dewasa lagi. Belum banyak pengalaman, sehingga diperlakukan semena-mena oleh suami. Bertahan dalam siksaan, sebenarnya ingin membuktikan kebaktian sebagai istri dan sangat mencintainya, namun semua itu salah dan berunjung malapetaka pada diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2