
Emosi dicampur geram begitu meluap-luap. Penghianatannya bikin sesak dada saja. Tidak menyangka perjuanganku selama ini hanya dipandang sebelah mata. Memang cewek matre, kalau bukan pria yang dia pacari orang kaya dan mau ganti rugi pasti akan kuhajar babak belur juga tadi. Rasanya cukup tidak terima atas perlakuan wanita si*lan itu. Cikup terhina aku sebagai pria. Padahal kemarin apapun yang dia minta pasti akan kulakukan. Setiap gaju bulanan aku serahkan padanya, namun sakarang apa balasannya dari, Hesti? Ujung-ujungnya malah dicampakkan.
"Dasar wanita lucknut. Kau berani-beraninya mempermainkanku, Hesti. Tunggu saja apa yang bakalan aku lakukan padamu. Aaah, sial!" umpat sudah mengebrok stang kemudi mobil.
"Kenapa beberapa hari ini kesialan selalu datang? Harta tidak bisa kumiliki, dan sekarang pujaan hati malah menghianati dengan beselingkuh dengan orang lain. Aaah, dasar. Ini semua gara-gara, Jihan. Awas kau jihan, aku tidak terima atas kejadian ini," Malah mengalihkan kesalahkan pada Jihan.
Pedal gas kuinjak begitu kuat, agar bisa secepatnya sampai ditempat Jihan bejerja. Bersandar santai sambil menunggu perempuan itu keluar. Waktu masih jam dua belas, masih ada sekitar satu jam menunggu. Perut jadi lapar dan tenggorokanpun terasa kering. Rasanya ingin membeli sesuatu, tapi rasanya kok malu dengan wajah sudah babak belur begini. Berkali-kali membalikkan wajah. Terlihat dari kaca spion kalau sudah parah.
"Shessssh, ternyata kuat juga pria tadi menghajar. Kurang asem betul. Andai saja kamu tidak orang kaya pasti akan kulawan dengan gesit juga," Desis ada rasa sakit.
Untung didalam mobil ada obat oles untuk meredakan rasa sakit. Mulut tak henti-hentinya mengeluarkan suara desisan sakit. Perlahan-lahan kububuhkan pada luka. Ada yang sudah membiru. Wajah tampanpun jadi hilang.
Ketika sibuk mengobati luka, terlihat dari kejauhan anak-anak sekolah mulai berhamburan keluar.
"Hadeh, ganggu saja anak-anak itu. Bising banget suara mereka. Apa tidak tahu kalau orang lagi kesakitan."
Ngoceh sendiri. Efek rasa sakit yang dahsyat, jadi melempar kesalahan pada mereka yang tidak tahu apa-apa.
"Mana sih perempuan itu. Kok lama sekali keluar. Sudah selesai juga mengajarnya. Kalau ketemu saja akan kutabok, sebab sudah membuang waktuku dengan sia-sia," Kekesalan yang tidak sabar menunggu Jihan keluar.
Hampir lima belas menit menunggu dari jam pulang, tapi Jihan masih saja tidak muncul. Dengan seksama memperhatikan satu persatu orang yang keluar takut jika kelewat.
Akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul, tapi jadi sebal sebab ada Satria yang tengah asyik ngobrol. Mereka berjalan beriringan sambil menuntun motor masing-masing.
"Aah, sial. Kenapa ada Satria juga. Pasti akan menyulitkanku untuk ketemu sama, Jihan. Apa aku harus menunggu mereka terpisah tempat dulu, baru meminta Jihan untuk berbicara sebentar denganku. Emm, kayaknya memang harus menunggu Satria pergi dulu."
Mereka berdua sudah sama-sama menghidupkan motor. Kunci mobil tidak lupa kuputar juga. Perlahan-lahan aku membuntuti Jihan dari belakang. Begitu sial, kenapa Satria masih saja mengantar jihan dengan menjalankan motornya dari belakang.
"Kenapa sih tuh bocah masih saja mengikuti, Jihan. Apa mereka ada hubungan, sehingga Satria kayak tidak rela jika Jihan naik motor sendirian? Jangan-jangan memang benar! Dasar bocah tengil, bisanya mau menyerobot mantan istri saudara sendiri," Keheranan atas sikap mereka berdua.
Sungguh memuakkan melihat sikap mereka yang sepertinya memang sedang ada jalinan khusus. Akupun jadi panas. Entah mengapa, walau dia sudah jadi manta tapi ada rasa tidak rela saja, jika Jihan dekat-dekat dengan orang lain. Perasaan apa ini? Tidak kumengerti juga. Mereka mulai saling melambaikan tangan. Dipertigaan tikungan akhirnya mereka terpisah. Ternyata Jihan menuju jalan pulang ke tempat orangtuanya.
Setelah Satria nampak sudah jauh mengendarai motor, aku langsung tancap gas untuk mengejar Jihan.
Tin ... tin, klakson langsung ingin memberhentikannya. Jihan perlahan-lahan mulai menepikan motor. Mobil sedikit menyalipnya. Langsung turun ingin menghampiri. Jihan sudah membuka helm.
__ADS_1
"Mas Bayu, kamu?"
"Hai, mantan. Apa kabar nih? Sudah lama kita tidak bertemu. Wajah kamu kelihatan ceria dan bahagia benget. Apa gara-gara lepas dariku, ya?" Mengajak berbasa-basi.
"Aku baik. Ada apa, Mas? Kenapa kau secara mendadak menghentikan laju motorku? Bukankah kita sudah tidak urusan lagi," tanyanya aneh.
"Tidak ada sih. Aku hanya ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja, dan terutama bersilaturahmi. Btw, kamu makin cerah saja ya, tidak sepertiku yang makin sial dan nyungsep saja."
"Maksud kamu apa, Mas?" tanya bingung.
"Hilih, tidak usah berpura-pura. Kamu bahagia 'kan menfaatkan harta warisan dari kedua orangtuaku."
"Bukan gitu, Mas. Aku sudah berkali-kali menolaknya, tapi mereka tetap memaksa untuk memberikan."
"Halah, jangan munafik dan banyak b*cot. Mana ada orang dapat rezeki nomplok menolaknya. Aku tahu kamu. Kalau ada yang kayak gituan pasti langsung ambil cepat," tuduhan.
"Astagfirullah, Mas. Jangan menuduh sembarangan kamu. Aku bukan wanita seperti itu."
"Ok, kalau kamu bukan wanita seperti itu, sekarang ikutlah denganku sebab aku mau bukti."
"Hadeh, 'kan bisa ditunda dulu sebentar pulangnya. Aku ada hal penting yang ingin dibicarakan. Sekarang ikutlah, atau aku akan melakukan hal-hal diluar dugaan kamu jika tidak nurut sekarang. Kamu tahu sendirilah bagaimana sikapku," Ancaman mulai datang
"Baiklah, Mas. Tapi jangan apa-apakan, aku."
"Nah, gitu. Jangan dari tadi mbuletti. Buang-buang waktu dan tenaga saja. Ayo,sekarang berangkat. Kita akan kerumah. Tenang saja, asal kau ikuti perintaku, aku tidak akan macam-macam sama kamu."
"Iya, Mas. Kamu duluan saja. Aku akan menyusul dibelakang memakai motor ini."
"Ok 'lah. Awas kalau kabur, akan kubuat perhitungan nanti."
"Iya. Tidak akan. Aku bukan wanita yang ingkar janji."
"Baguslah kalau begitu."
Sesuai rencana kami, aku kembali menaiki mobil sendiri. Ternyata wanita bodoh itu mau saja menuruti perkataanku. Wajah sudah menyiratkan senyuman kerahasiaan. Mudah tanpa mengotori tangan, untuk mengiring Jihan masuk dalam perangkapku.
__ADS_1
Jarak antara sekolah dan rumah tidak jauh, jadi kami bisa datang dengan cepat ke tempat tujuan. Kami sudah sama-sama saling memarkirkan kendaraan masing-masing. Tangan sibuk memutar kunci untuk membuka pintu rumah, tapi mata nyelanang melihat Jihan yang nampaknya begitu canggung sekali masuk rumah kenangan pahitnya.
"Masuklah. Lebih baik kita berbicara didalam saja."
"Baiklah." Tidak ada senyuman sama sekali. Wajahnya nampak kecut dan ketakutan.
Walau aku pernah berlaku kasar padanya ketika dulu, namun kini mencoba mengontrol sikap, agar tidak melalukan hal bodoh yang membahayakan diri sendiri.
"Duduklah. Mau minum apa? Akan akylu buatkan," Mencoba sok baik.
"Tidak usah, Mas. Sekarang bicaralah pada intinya, sebab aku tidak ada waktu banyak untuk berada disini." Sikap Jihan nampak gelisah.
"Hadeh. Kenapa buru-buru, sih. Kamu saja belum merasakan air dari rumah ini. Santai saja, kenapa! Aku tidak ngapai-ngapain kamu lho, kenapa kamu kayak ketakutan begitu."
"Ee'eeh, tidak ada kok, Mas."
Walau dia memungkiri, tapi tetap saja bisa kubaca.
"Masak sih. Sikap kamu ketara banget lho. Kamu saja duduk kayak tidak tenang begitu."
"Eeh, masak sih, Mas. Aku hanya tidak tenang sebab sedang ada janji sama orang, jadi secepatnya harus sampai rumah," Jihan nampak kelabakan saat kupergokki.
"Hhh, oh gitu. Ok, kalau begitu kita berbicara dalam kamar saja. Ada beberapa surat-surat yang aku mau tunjukkan. Kamu tahu sendiri kalau kita berduaan dalam rumah gini, takut jika dilihat para tentangga maka mereka akan bergosip yang enggak-enggak. 'Kan kita sudah cerai, masak terlihat masih berduaan begini dalam rumah," Alasan yang ingin mencuci otaknya.
"Apa tidak lebih baik kita berbicara disini saja. Mungkin akan lebih aman."
Tidak menyerah membujuk.
"Halah, banyak bicara kamu. Kalau kamu memang mau buru-buru keluar dari rumah ini, sekarang kamu turuti saja perkataanku. Ada hal yang harus kamu bantu dikamar. Lagian ada bebarapa barang kamu yang tertinggal tuh, dan ambil bawa pulang."
"Benarkah itu. Perasaan semua barang sudah kubawa."
"Apa kamu tidak ingat, kalau orangtuaku dulu waktu nikah memberikan hadiah beberaoa baju dan perhiasan. Sekarang kamu ambil sebab aku muak melihatnya."
"Oh, baiklah, Mas." Jihan sudah nampak gemetaran saat sorot mata tajam ini fokus melihatnya. Mungkin takut jika aku akan tersulut emosi.
__ADS_1
Lagi-lagi mudah membujuk. Bagaikan terhipnotis jihan nurut saja. Kini dia mengikutiku dari belakang. Perangkap demi perangkap telah berhasil. Harta itu harus jadi milikku, jadi apapun resikonya aku akan menjalankan aksi ini. Semoga Jihan tidak membantah sehingga aku tidak melukainya. Jika dia menolak pasti kemurkaan terhadapnya akan datang.