MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Penyiksaan Yang Bertubi-tubi


__ADS_3

WARNING 👉Ada adegan kekerasan


👉Bocil harap menyingkir


👉Banyak kata-kata Toxic


👉Adegan tidak patut ditiru


Sepanjang perjalanan kami terus saja bedebat, mengenai perempuan ganjen yang berhasil mengusai suamiku. Berkali-kali stang kemudi terus saja digebrak kuat, akibat dia emosi terhadap istrinya ini. Tangannya sedang fokus menyetir, jadi tidak bisa melakukan kekejaman untuk menyiksa


Ada rasa takut jika suami akan bertindak melukai, namun tekad yang merasa benar ingin mendapatkan keadilan, terus saja berani untuk adu mulut dengan suami atas kelakuannya yang salah kaprah itu.


Bhugh, dengan kasar suami sudah membanting pintu mobil.


"Sini kamu. Keluar ... ayo keluar!" suruhnya kasar sambil menarik tangan.


"Tidak usah menarik tangan. Aku bisa berjalan sendiri tanpa kamu suruh sekalipun," ketus menjawab, diiringi tangannya kubanting agar tidak menarik lagi.


"Diam. Jangan banyak omong mulut kamu itu, ayo!" kekuhnya masih ingin memaksa untuk mengikutinya.


Terpaksa kuturuti saja keinginannya sekarang. Langkah kaki seribunya yang tidak bisa kuimbangi, akibat dengan tergesa-gesa dia mengajak ingin segera masuk ke dalam rumah.


"Lepaskan aku, Mas. Kenapa kamu memaksa begini. Lagian sudah tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi, jika kamu benar-benar ingin bersama wanita brengs*k itu," ocehan mulut ingin rumah tangga berakhir.


"Diam kamu."


Saat mendekati kamar sendiri yang kecil dan sumpek, sekarang tangan dibanting kasar suami. Tidak seimbangnya tubuh membuat jatuh tersungkur dilantai.


"Kamu tadi bilang apa didalam mobil? Ingin berpisah? Ucap sekali lagi didepan mukaku sekarang," suruh Mas Bayu ketika tangan mencengkram kuat pipi.


Kepala sudah mendongak keatas, dengan wajah kami saling bertatapan muka. Beda sekali penglihatan ini ketika merasa ketakutan, namun beda dengan dirinya yang melotot tajam ada api kemarahan.


"Iya, aku ingin kita mengakhiri pernikahan ini. Untuk apalagi dipertahankan, kalau sudah tidak ada kecocokkan lagi diantara kita."


"Bukankah kamu lebih mencintai wanita brengs*k itu daripada diriku, jadi buat apa dipertahankan pernikahan yang tidak harmonis lagi," jawabku dengan geram tidak kenal takut lagi.


"Jangan harap aku akan mengabulkan itu."


"Kenapa tidak bisa? Bukankah kau senang jika aku tidak ada didekatmu lagi," singgung tidak mau kalah berbicara.


"Aku memang akan senang, tapi akan menyusahkan kehidupanku kelak jika kita berpisah, sebab harta papa semuanya tidak akan jatuh ketanganku. Jangan berharap lagi aku akan melakukan permintaanmu itu., paham!" Dengan santainya Mas Bayu mengatakan semua yang tidak masuk akal.

__ADS_1


"Buls*t, atas ucapanmu itu. Papa tidak mungkin akan melakukan itu," bantah tidak percaya.


"Aku yang lebih tahu sebab adalah anaknya.


"Pers*tan dengan harta itu, yang jelas aku minta kau lepaskan aku segera," cakap sudah tidak sopan lagi.


"Diam, perempuan brengs*k."


Cuuih, secara respon air ludah tepat mendarat diwajah suami.


Mata suami yang sempat melotot, sekarang terlihat akan meloncat keluar saja. Wajahnya berubah menjadi merah padam, bagaikan ingin menerkamku bulat-bulat saja.


"Ternyata berani juga kau sekarang melawan," Suami sudah mengelap air liur itu dengan kasar dari wajahnya sendiri.


"Aku akan melawan sebab sudah tidak bisa kau hargai lagi sebagai wanita dan istri. Jadi selama ini kau hanya memanfaatkan diriku untuk dijadikan istri. Dasar pria brengs*k tidak punya otak," Kemarahan yang sudah tidak terkontrol lagi.


Plak, pipi secara kuat kembali tertampar, sehingga tubuh sudah tergolek dilantai. Rambut mulai acak-acakkan tak berbentuk lagi.


"Wanita si*lan yang tidak tahu diri. Masih untung kemiskinan kamu itu kami angkat, tapi begitu tidak ada malunya kamu malah memaki-maki, serta tidak mengerti atas rasa terima kasih," Balik hinanya.


Karena kesal sekarang bangkit untuk mendekati suami, yang masih bermuka merah padam akibat emosi.


Bhugh ... bhugh, tangan yang mengepal kuat, berhasil memukul kasar dada bidangnya.


Tamparannya begitu kuat, sehingga kehilangan keseimbangan dan jatuh tergolek dilantai lagi.


"Dasar wanita tak tahu diri, sial*n!" Sikapnya kini maju mendekati ingin memukul pipi lagi.


Sakit dan panas yang berada dipipi tidak tertahan, sehingga secara reflek tangan terayun mencoba mencakar wajah suami.


"Brengs*k, sialan dan wanita bodoh!" umpatnya yang sudah meraba pipi, akibat merasa ada goresan luka dan sedikit mengeluarkan darah.


Muka ikutan memanas akibat emosi yang selama ini terpendam.


Rasa takut mulai hadir kembali, saat tangan Mas Bayu sedang sibuk melepaskan ikat pinggang dari celananya.


"Rasakan ini."


Kepala mengeleng-geleng kuat saat tahu apa yang akan dilakukan suami. Secara cepat ingin mencoba berlari, tapi kalah kuat saat suami berhasil menghentikan langkah, yang sudah menangkap dan membanting tubuhku jatuh dilantai.


"Jangan harap kamu bisa lari bergitu saja dariku."

__ADS_1


Ceplas, sabetan pertama ikat pinggang itu mendarat ditubuhku.


"Maafkan aku, Mas."


Ceplas, cambukkan kedua kembali mendarat.


"Aaaa ... aaah. Jangan lakukan itu, maafkan aku yang sudah berani menentang ucapan kamu barusan," Permohonan yang sudah kesakitan.


Ceplas ... ceplos, cambukan demi cambukan telah mendarat. Aku hanya bisa menahan rasa sakit ini dengan cara mencengkram kuat jari-jari.


"Tiada ampun lagi buat kamu. Rasakan ini, agar otak kau yang konslet itu bisa kembali sadar," ucapan yang pedas kembali terlontar.


Bhugggh, disaat rasa pedih dan sakit hadir, tanpa ampun suami sudah mendaratkan ijakkan kakinya ditubuh yang mulai tak berdaya.


Remuk redam yang kurasakan. Seluruh tubuh tidak berbentuk lagi terasa sudah mati rasa, ketika tanpa henti suami terus saja menganyunkan ikat pinggang dan menginjakkan kakinya.


Hanya tangisan yang tidak bisa mengeluarkan airnya itu yang terjadi. Ingin tersedu-sedu tetap tidak bisa, karena siksaan begitu sakitnya telah melanda.


Ceplak ... ceplos, tanpa ampun suami benar-benar menghajarku habis-habisan sekarang. Akibat tidak tahan siksaan, sampai wajahku terbaring lemah menempel dikeramik, tidak kuat lagi menyangga tubuh sendiri.


Ceplas ... ceplas, ikat pinggang terus saja menyiksa.


Entah sudah berapa cambukan terdarat, yang jelas dari pinggang, bahu, tangan, bahkan kaki mulai nyeri, perih, ngilu, pokoknya sudah tercampur aduk jadi satu rasa sakit itu.


"Ampun, Mas! Ampunilah aku," rintihan lemah yang berharap Mas Bayu mau menghentikannya.


Suara ngos-ngosan terdengar kasar keluar dari mulut suami. Sepertinya dia sudah mulai lelah menyiksa diriku. Samar-samar kulihat kedua tangan sudah berada dipinggul, seperti ingin menantang memberi pelajaran lagi.


"Dasar wanita si*lan! Cepphaaak!" Ikat pinggang itu sudah terbuang dilantai dengan kuatnya.


"Ini belum berakhir sebab kau melawan. Tunggu saja apa yang akan kulakukan padamu lagi. Makanya jadi perempuan itu harus diam saja, tidak usah banyak tingkah dan ulah, dasar!" ancamnya yang masih kesal.


Airmata rasanya mulai kering, tidak bisa lagi mengungkapkan rasa hati yang begitu terhina dan sakit.


"Rasakan akibatnya itu. Tunggu saja perhitungan dariku lagi, siapkan tubuhmu untuk mendapatkan pelajaran dariku lagi nanti," ucapnya kian membuat bulu kuduk merinding ketakutan.


"Aaaaa, dasar wanita sial*n. Akibat sikapmu yang mencakar tadi, wajahku yang tampan ini telah hilang. Tunggu saja apa yang akan aku kulakukan padamu lagi," ocehan yang terdengar memuakkan.


Suara deru langkah mulai menyingkir. Rasanya hati mulai ada rasa gembira saat dia sudah pergi, namun tubuh tidak bisa segera bergerak untuk sekedar bangkit. Tubuh yang penuh luka, membuatku tidak kuat untuk mencoba duduk.


Airmata mulai mengalir menitik jatuh diubin keramik. Mengerak-gerakkan jari saja rasanya lemah tidak kuat lagi.

__ADS_1


"Ya Allah, selalu kuatkan aku untuk menghadapi cobaan ini. Hindarkan dan selamatkan aku dari masalah ini. Aku mohon singkarkan suamiku, yang benar-benar kejam dan tidak berperikemanusiaan lagi pada istrinya sendiri. Berilah pertolongan Engkau padaku, agar aku bisa hidup bahagia dari suami yang kejam dan tanpa ampun lagi terus saja menyiksa bathin dan ragaku," Doa dalam hati yang sudah tidak kuat lagi.


__ADS_2