MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Kaget Tahu Dia Hamil


__ADS_3

Walau wanita itu penuh penderitaan, namun sebagai pria sejati tidak boleh menghindarinya, justru kita rangkul agar dia tidak drop atas keadaan dan musibah yang sering menimpanya. Kenyataan yang masih saudara, semakin muak atas keadaan itu sebab nama keluarga besar ikut terseret juga.


Andaikan punya kekuatan lebih, untuk melawan pasti akan kuhancurkan tuh pria. Umurku cukup jauh terpaut, tidak baik jika yang muda akan mulai duluan cari gara-gara. Mengalah bukanlah berarti kalah, namun mencari aman agar pihak keluarga tidak saling bermusuhan. Lebih baik mendekati sang istrinya saja, supaya dia lebih semangat lagi menjalani hari-hari yang terus saja terjadi kesuraman.


"Hai, Buk!" Sapa pada Ibu Jihan.


"Eeh, kamu Nak Satria. Mari sini, masuk."


Beliau dengan ramah menyambut kedatanganku. Walau kami baru beberapa kali bertemu, tapi orangtua Jihan sangat akrab sebab dari keterangan mereka aku ini orangnya baik, apalagi suka membantu anak mereka ketika dilanda kesusahan.


Ikutan duduk. Kursi zaman kuno masih bagus. Dari cat terus saja dijaga. Walau dari bahan kayu, tetap enak dan nyaman didudukki.


"Gimana kabar kamu, Buk. Kok kanan kiri memakai koyok begitu? Memang lagi sakit kepala?" Mencoba kepo.


"Alhamdulillah, Ibuk baik. Iya nih, lagi pusing. Makanya pakai koyok kanan kiri."


Mencoba memeriksa rumah. Terlihat keadaan sepi. Sepertinya hanya Ibu Jihan dirumah.


"Tumben kok sepi banget?"


Tangan keriput itu terus memijit pelipis. Sesekali ada desisan. Efek nyut-nyutan membuat beliau memejamkan mata.


"Tadi Bapak sama Jihan lagi keluar. Katanya ada urusan sebentar."


"Oh gitu. Apa kepalanya sakit banget, Bu? apa butuh bantuan untuk memijitnya."

__ADS_1


Tangan dari tadi menekan-nekan memutar.


"Tidak usah, Nak Satria. Cuma sakit ringan saja, tapi Ibu selalu begini, kalau sudah tidak tahan sama rasa sakitnya."


"Tapi kelihatan sakit banget itu."


"Aku baik. Mungkin ini efek memikirkan Jihan saja. Anak itu selalu saja bermasalah."


Setiap orangtua selalu menyayangi anaknya, namun jika membuat susah mereka pasti ada saja keluhan. Mendidik bukan hal mudah. Anak perempuan tetap harus diwaspadai kena masalah. Wanita terlalu lemah menghadapi cobaan rumah tangga, karena sudah dikodratkan harus banyak mengalah dari suami. Kadang harus ada ikut campur orangtua. Tidak bisa memikirkan sendirian, sebab jika melakukan tindakan salah langkah bisa fatal efeknya. Orangtua kadang menjadi penengah utama, jika anak-anak mereka dalam keujungan tanduk membina keluarga impian.


"Masalah Jihan, jangan dipikirkan lagi, Bu. Nanti kamu sendiri yang akan sakit. Biarkan kami para pria yang menyelesaikan, sebab lawan Jihan bukan orang yang gampangan menyerah."


"Kamu benar, Satria. Ibu sudah menthok memikirkan rumah tangga Jihan. Sudah selesai satu, tapi habis itu akan muncul beribu masalah baru. Kenapa anakku yang malang itu tidak ada habisnya menderita."


"Memang masalah apa lagi, Bu? Kok kelihatanya kamu sampai menderita sakit kepala akut begini."


"Sebenarnya ini aib keluarga, namun kamu adalah teman baik Jihan, maka apa sebaiknya mengatakan sesungguh, ya?"


"Kalau itu berat dan jadi rahasia keluarga, maka tidak apa-apa jika tidak bisa diceritakan, Bu. Aku hanya khawatir saja atas keadaan Jihan. Takut jiwa dan mentalnya terguncang, akibat ulah mas Bayu yang tidak bertanggung nawab itu."


"Kalau itu tidak masalah, cuma-?"


"Cuma apaan, Bu


"Baiklah, Ibu akan cerita. namun kamu harus serapat-rapatnya merahasiakan ini. Kalau sampi terbongkar bukan hanya jihan yang malu, kami semua pihak keluarga juga terseret rasa malu itu."

__ADS_1


"Iya, Bu. Saya paham. Mana mungkin sebuah rahasia keluarga kalian, aku akan membeberkan pada orang lain. Tidak sepicik itu. Kita harus melindungi Jihan, bukan bisanya hanya mencemooh dan menghina saja."


"Benar sekali yang kamu katakan. Terima kasih atas pengertiannya."


"Iya sama-sama."


"Ssshhhh, duh sakitnya nih kepala."


"Sebenarnya ada masalah besar yang sedang menimpa Jihan. Kamu begitu malu atas kasus ini."


"Loh, kok bisa. Memang apaan itu, Bu?."


"Huuuff. Jihan sedang hamil."


"What?" Wajah ini seketika membulat sempura akibat telalu kaget.


"Asfagfirullah, cobaan apalagi buat kalian sekeluarga?"


"Hhh, kami hanya bisa pasrah dan sabar. Ya itulah, Nak Satria. Yang membuat Ibu jadi sakit kepala begini."


"Yang sabar, Bu. Badai pasti akan cepat berlalu. Dibalik kesedihan ada kebahagiaan. Pasti itu!"


Tangan beliau kutepuk pelan. Mencoba menenangkan. Patut jika sang Ibu mengeluh kesakitan terus dari tadi. Masalah besar datang, namun sang empu yang berbuat lepas dari tanggung jawab.


"Iya, terima kasih atas nasehatnya."

__ADS_1


__ADS_2