MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Ingin Memilikinya


__ADS_3

Wajah keriput itu semakin mengkerut. Cahaya kebahagiaan sudah pudar. Tangan menyangga kepala, seolah-olah beban hidup menimpa badan. Tak elak hanya termenung bisa dilakukan. Teh yang tersedia sudah dingin. Lupa akan meminum, malah teringat akan nasib anak.


"Assalamualaikum!" Salam suara dua orang yang baru datang.


Menoleh sekejap, ingin memastikan apakah yang datang memang orang yang kukenal atau tidak, dan ternyata Jihan dan Bapaknya baru saja datang. Tangan beliau membawa sekantong kresek hitam. Nampak berat, namun tidak ingin bertanya apakah isinya itu. Tebakkan kalau itu buah, sebab tembus samar-samar dan ngecap berbulat-bulat.


"Waalaikumsalam!" Jawab kompak kami berdua.


Beliau mendekat, akupun dengan rasa sopan ingin menyambut hangat tangannya untuk dicium takzim.


"Eeh, ada Nak Satria. Sudah lama disini?"


"Ngak kok, Pak. Baru sebentar saja."


Jihan dan beliau langsung ikut bergabung duduk dengan kami. Meneliti sedikit wajah ayu perempuan yang ingin kutemui, dan nampak dia begitu pucat serta lemah.


"Kirain sudah lama. Maaf jika menunggu kami lama."


"Ngak pa-pa, Pak. Tidak ada hal penting mau datang ke sini tadi, cuma hanya ingin mengunjungi Jihan sebab ingin melihat keadaan dia."

__ADS_1


"Oh, begitu. Alhamdulillah dia baik, walau ada sedikit permasalahan besar yang sedang kami hadapi."


"Benar itu, Pak. Gimana kita mau menghadapinya sementara hubungan sudah terpisah begitu, hadeh pusing!"


"Bapak sama Ibu ngapain sih gamblang cerita sama orang lain. Aku tahu jika sedang menyusahkan kalian, tapi tidak seharusnya aib ini diumbar sama orang lain. Semakin bikin malu saja."


Jihan sepertinya tidak senang, mungkin karena diri ini adalah keluarga jauh, maka dia sedikit malu atas cerita yang dikatakan Ibunya tadi. Wajahnya sudah memunculkan tanda-tanda kesedihan dengan kepala ditekuk ke bawah.


"Tidak usah malu, Jihan. Aku sudah tahu ceritanya."


"Kok bisa?"


"Ibu yang ceritakan, Nak. Habisnya Ibu sudah pusing mikirin ini. Nasibmu, ah entahlah!" Beliau kembali menitikkan airmata.


Melihat keluarga mereka ada desiran kasihan, yang tidak terjelaskan oleh kata-kata lagi. Ditambah lagi nasib Jihan yang tidak ada habis-habisnya nelangsa. Sebagai wanita yang pernah kukenal, dia kuat dan selalu menghadapi dengan senyuman.


"Tidak ada yang namanya anak selalu menyusahkan, yang ada itu hanya nasib untuk menguji keimanan dan kesabaran para orangtua saja. Kita sebagai manusia lemah harus tetap bersyukur dan menghadapi dengan tenang. Jangan sampai salah langkah dan terlalu gegabah dalam mengambil keputusan apapun itu," Saut Bapak Jihan.


"Iya, Pak. Maaf!" Tertunduk lesu.

__ADS_1


Suka sama keluarga ini yang tetap santai mengahadapi masalah rumit sekalipun. Jiwa orangtua pasti menjerit, namun bisa menutupi itu semua dengan senyuman.


.


Anak sudah berat menerima beban, pasti orangtua tidak mau menambah kesan beban itu dengan menambah masalah pada anak.


"Maafkan saya sebelumnya, Pak. Kalau seandainya telah ikut campur urusan kalian."


"Kamu tidak perlu minta maaf, Nak Satria. Semua takdir dan mungkin juga kamu perlu tahu, sebab sebagai teman karib yang baik bagi anakku."


"Iya, Pak. Tapi tetap saja saya terlalu kepo sama urusan orang."


"Sudah, Satria. Semua sudah terjadi. Nak berkata apa lagi. Ditutupipun serapat apapun itu, pasti orang lain akan juga tahu."


"Iya, Jihan. Sekali lagi maaf banget."


Semua menyiratkan senyuman ramah. Betah bila berada ditengah keluarga mereka. Walau terkesan sudah hancur dan jelek nama keuarga, namun bila masuk ke tengah mereka pasti akan salut dan terkesan kagum.


"Maaf jika saya lancang lagi. Bayi itu tidak bersalah, dan kasihan sekali jika nanti akan tanya bapaknya. Jika kalian semua mengizinkan, saya ingin menikahi Jihan."

__ADS_1


"Apa?" Semua menjawab kaget.


Entah dari mana keberanian ini muncul, ditambah lagi mimik mulut seakan-akan tidak sadar jika berucal seperti itu. Didalam dasar hati mengatakan kalau aku harus menikahi Jihan. Walau dia audah dipandang rendah dan hina oleh semua irang, tapi bagiku dia wanita hebat dan berderajat tinggi sebab bjsa menjalani ilmu ikhlas dan mesabara sebagai istri walau siksaan bwrtubi-tubi datang padanya.


__ADS_2