
Suami yang melakoni drama, hanya bisa membuatku terbungkam didepan mertua dan kedua orangtua sendiri. Aktingnya sangat bagus, sampai ingin membantahnya saja mulut terasa terkunci.
Ternyata baru tahu, jika pak Satria adalah masih kerabat suami. Sungguh mengecewakan, saat rumah tangga yang tidak sehat jika nanti akan diketahui oleh orang lain.
"Semoga saja Pak Satria tidak akan curiga atas rumah tangga kami. Bisa mati kalau orangtua tahu dari dia nanti."
"Semoga dia benar-benar hanya menumpang seminggu. Kalau tidak, pasti suami akan selalu uring-uringan dan main kasar," Kekhawatiran hati berbicara pada diri sendiri.
Tangan sudah sibuk mencuci semua bekas makan para keluarga. Mereka sudah pulang dengan memberikan senyuman indah pada kami. Seandainya mereka tahu dibalik kehidupanku, pasti tidak akan terlontar senyuman itu dari wajah mereka.
"Apakah perlu bantuan?" tanya seseorang yang menyapa dari belakang.
"Eeh, Pak Satria."
"Tidak usah, saya bisa mengerjakan ini semua sendirian, kok!" jawabku sudah gugup.
"Beneran, nih?" imbuhnya tidak percaya.
"Iya, Pak!" Tangan terus fokus menyabuni piring sambil mulut menjawab.
"Oh, ya. Jangan panggil Pak dong, kayak saya tua saja. Lebih baik panggil nama saja, lagian mas Bayu adalah kakak yang masih saudara dengan kami," suruhnya.
"Iya, Pak. Eeh, maksudnya adalah Satria," Kegugupanku kembali ada, sambil kepala mengangguk sebentar sebab malu.
"Kamu kelihatannya orang pendiam dan mas Bayu orangnya suka pecicilan, jadi harus extra sabar dan banyak menahan rasa kesal padanya," ucap Satria memberitahu.
__ADS_1
"Maksud kamu apa? Kalau bicara jangan sembarangan. Aku tahu kamu adalah saudaranya, tapi maaf ya! Aku adalah istrinya jadi lebih tahu sifat suami dari pada kamu. Bukankah selama ini kamu tinggal diluar daerah, jadi jangan bicara asal jeplak saja," ketusku kesal.
"Bukan itu maksudku," imbuhnya ingin membantah.
"Aah ... sudahlah, Satria. Jangan mentang-mentang kamu diizinkan tinggal disini, kamu bisa seenaknya ikut campur urusan rumah tangga kami." Karena muak mendengar ocehan Satria, maka aku langsung ingin berlalu pergi menghindarinya.
"Tunggu!" cegahnya sudah mencekal tanganku secara tiba-tiba.
"Lepaskan!" langsung kubanting ulahnya itu.
"Eeh, maaf ... maaf," ujarnya yang sudah mengangkat kedua tangan ke atas.
"Jangan kurang ajar kamu. Baru sehari saja sudah bersikap tidak baik pada tuan rumah. Awas saja, kalau kamu aneh-aneh disini, sebab aku tidak akan segan-segan mengusir kamu dengan kasar alias tidak hormat," ancamku tidak takut padanya.
"Aku tadi benar-benar tidak sengaja, karena ingin mencegah kamu pergi, agar aku bisa menjelaskan atas kesalahpahaman ucapan tadi," terangnya.
"Tidak usah menjelaskan, semuanya sudah nampak jelas. Maaf, saya permisi dulu," ketus berkata, yang kali ini benar-benar melangkah akan pergi.
"Dasar manusia aneh. Baru tinggal disini saja sudah banyak komentar. Eeh, tapi apa kata-kataku tadi tidak keterlaluan, ya! Semoga saja dia tidak tersinggung maupun marah kepadaku," guman hati yang menyesal.
Semua pekerjaan beres-beres kukerjakan sendirian. Suami hanya duduk santai, sambil sembari tadi sibuk memainkan gawainya terus.
Lagi-lagi harus menghadapi semuanya penuh kesabaran. Peluh terus saja membasahi baju, ketika banyak sekali kerjaan numpuk yang harus segera terselesaikan, karena harus cepat-cepat menyiapkan segala peralatan mengajar besok.
******
__ADS_1
Malam terus saja merangkak untuk mengelapkan harinya. Sekarang sudah bersiap-siap untuk waktunya tidur. Pakaian baju tidur sudah bertengger rapi melekat dibadan.
"Wah, kalian kelihatan mesra sekali sampai baju tidur saja sama," puji Satria.
Netra langsung saja melirik kearah suami, yang baru datang ingin bergabung dimeja makan. Ternyata benar saja apa yang dikatakan adiknya itu. Baju hadiah pernikahan kemarin benar-benar membuat masalah buat kami sekarang.
"Hidih mesra dari mana, coba? Ini hanya kebetulan saja sedang sama memakai," rancau hati yang kesal atas ceplas-ceplosnya Satria.
"Emm, kami dari dulu memang mesra!" jawab pura-pura suami santai.
"Baguslah itu. Memang harus begitu, saat aku tahu kalau Mas Bayu itu suka santai sama hubungan pada setiap wanita," jawab Satria yang membingungkan maksudnya.
"Ya, harus seriuslah mulai sekarang. Jihan adalah istri sahku, maka kami tidak boleh main-main dalam berumah tangga," imbuh suami yang terdengar memuakkan.
"Hmm, harus itu. Sejatinya rumah tangga yang baik itu harus selalu romantis pada pasangannya sendiri. Menjaga baik hubungan antara keduanya, yang terutama jangan main kasar pada pasangan," Ceramah Satria sambil menyendok makanan.
"Betul sekali."
"Apa yang kamu katakan itu benar. Hmm, kamu belum menikah saja kayak sudah pengalaman," ucap Mas Bayu pada Satria.
"Banyak buku yang sudah kubaca, biar nanti kalau mau menikah sudah ada ilmunya."
"Ooh, begitu. Bagus itu."
Aku hanya bisa menjadi pendengar saja, sambil cepat-cepat menyelesaikan makan malam biar bisa pergi segera. Kalau lama-lama hanyut ikut masuk dalam perbicangan mereka, pasti Mas Bayu tidak akan suka dan ujung-ujungnya pasti akan ada penyiksaaan.
__ADS_1