MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Ingin meminta hak atas warisan


__ADS_3

Lagi menikmati udara kebebasan, saat berhasil lepas dari si kuper Jihan, namun yang jadi masalah adalah harta orangtua apakah akan benar-benar lepas dari genggamanku atau justru keberuntungan.


"Aahh, masalah orangtua gampanglah. Tinggal merengek sama mereka pasti diberikan, 'kan aku ini anak tunggal dan kesayangan mereka, jadi tidak ada kemungkinan kalau harta tidak bisa ditanganku," Keyakinan hati.


"Harta orangtua akan kita nikmati dan hamburkan bersama, sayangku Hesti. Kali ini aku akan menikahi dan membahagiakan kamu. Semoga apa yang jadi angan-angan kita kemarin dapat terwujud semua." Kegembiraan dengan percaya diri.


Seperti anak kecil, jalan berjingkat-jingkat dan sedikit ada lompatan. Rasa bahagia begitu memuncak. Wajahpun sumringah tersenyum sendirian.


"Dengan warisan kamu itu, Pak. Aku akan jadi orang kaya sekarang. Mungkin akan jadi bos tanpa harus bersusah payah jadi buruh."


Maksud kedatangan ke rumah orangtua ingin tahu kejelasan semuanya. Terasa sepi rumah mereka, saat sudah diambang pintu namun sepertinya pintu sedang dikunci.


"Kemana mereka? Tumben rumah sampai dikunci segala. Emm, kalau bapak ada urusan pasti ibu akan dirumah, tapi kali ini rumah kok sepi amat kayak kuburan gini, yah!" guman hati yang merasa janggal.


Untung saja diluar rumah ada kursi, jadi aku bisa menunggu mereka sampai pulang. Butuh sekali infomasi harta, jadi kalaupun sampai malam akan tetap setia menunggu.


Tangan mulai sibuk berlayar ke gawai. Mencari nama si pujaan hati yaitu Hesti. Baru satu hari tidak ketemu, rasanya bagaikan sewindu tidak melihat wajahnya. Rasa cinta yang mengebu, membuat mabuk kepayang ingin lengket terus dengan dirinya.


[Hai, sayang. Lagi ngapain sekarang?]


[Eeh, kamu mas Bayu. Tidak lagi ngapain-ngapain. Lagi bermalas-malasan saja kerjaan dari tadi]


[Heeh, mungkin kamu lagi bosan, ya? Sehingga malas-malasan. Emm, gimana kalau kita akan jalan-jalan ke mall saja nanti]


[Wah, benarkah itu? Tentu saja aku mau banget, dong. Tahu sendirilah kamu, aku itu orangnya paling suka shopping]

__ADS_1


[Apa sih yang tidak hafal sama sifat kamu, 'kan ku selalu dihati jadi semua yang suka dan tidak suka aku tahu]


[Aaah, mas Bayu memang yang terbaik]


Pujiannya bikin hati mekar. Inilah yang suka dari dirinya, selalu memuji dan mengerti banget akan semua sifatku. Beda dengan Jihan, yang ada hanya ketidak becusan, suka ngeluh, dan parahnya apa-apa lelet mengerjakan dan ujung-ujungnya mewek.


[Tentu dong, sayang. Kamu juga yang terbaik. Oh ya, tapi tunggu aku pulang deri rumah orangtua dulu, sebab mau tahu kejelasan semua harta pasca setelah bercerai dari Jihan]


[Ok 'lah. Kalau sudah selesai langsung kasih kabar saja, jadi aku bisa siap-siap dulu]


[Sipp, bye ... bye. Ya sudah kututup dulu telephonenya, sebab orang yang ketunggu sudah datang]


Telihat orangtua telah turun dari mobil. Bisa mati jika ketahuan menelpon kekasih hati. Takutnya malah kapak yang akan diberikan bapak, bukannya harta.


[Iya, Mas. Selamat berjuang untuk mendapatkan hak kamu]


Gawai kumatikan. Langsung berdiri ingin menyambut mereka. Wajah yang penuh tanda tanya, saat mereka nampak aku sudah berdiri dirumah mereka.


"Hei, Pak, Bu!" sapa yang mencium tangan punggung mereka.


"Untuk apa kamu kesini?" ketus Bapak.


"Lah, Pak. Memang aku tidak boleh datang kesini 'kah? Ini juga rumahku, walau atas namamu juga sih," jawaban yang berani.


"Siapa bilang ini rumah kamu. Nama kamu sudah tercoret dari daftar keluarga," Kekasaran beliau menjawab.

__ADS_1


"Hah, maksud kamu apa, Pak?"


"Iya, Bayu. Kamu telah melakukan kesalahan besar sebab menyia-nyiakan Jihan, maka dari itu kamu telah menyia-nyiakan juga harta yang sempat ingin kami wariskan padamu. Kamu yang berbuat, maka ambil 'lah resikonya kalau semua warisan kami akan diberikan pada orang lain," simbat Ibu menjelaskan.


"Apa? Tidak bisa begitu 'lah kalian. Aku ini anak kalian yang sah, kenapa bisa memperlakukan aku begini. Sayang kalian kemana? Sampai tega menyerahkan sama orang lain," Kekecewaan menjawab.


"Rasa sayang kami sudah hilang, saat rasa sayang kamu juga hilang dari Jihan. Dia adalah wanita yang begitu berharga yang sudah tega kamu sia-siakan. Kurang baik apa Jihan kepadamu, sampai seluruh gajinya hanya untuk mengenyangkan perut kamu, jadi sebagai balas budi atas sikap dia, maka warisan juga telah kami berikan padanya," terang Bapak yang begitu mengejutkan.


Rasanya masih tidak percaya dan bagaikan mimpi, saat wanita kumel itu ternyata mendapatkan warisan yang seharusnya jadi hakku.


"Tidak bisa begitu 'lah, Pak. Kami sudah berpisah, jadi seharusnya dia tidak berhak atas harta kalian."


"Maafkan kami, Bayu. Ini sudah keputusan bulat kami. Banyak waktu yang tersisa kemarin untuk kamu membujuknya kembali, tapi sayangnya kamu banyak lengah atas ancaman kami. Sekarang kalau sudah jadi kenyataan jangan protes, sebab dari awal Bapak kamu sudah memperingatkan," Wanita yang menimangku dulu, suaranya terdengar memuakkan.


"Tapi, Pak, Bu. Aku adalah anakmu."


"Maaf, Bayu. Ini keputusan bulat kami. Mungkin ada beberapa yang memang akan jadi bagian kamu, tapi maaf jika pembagiannya akan lebih besar dari Jihan."


"Kamu renungi kesalahan kamu. Jangan ulangi, sebab kami percaya kamu akan berubah."


Mereka melenggang pergi, meninggalkan diriku sendirian yang masih mematung akibat syok mendengar semua penjelasan.


"Aaah, sial. Kurang asem bener itu si Jihan. Awas kamu, sebab masih mengusik dan ikut campur dalam urusan kehidupanku."


"Memang wanita miskin yang tak tahu diri. Sudah salah, masih saja ngemis minta warisan. Akan kuperbuat perhitungan dengamu, tunggu saja. Kamu berani melangkah mengusikku, berarti kamu juga barani mengambil resikonya," Kedongkolan hati yang mulai ada kilatan dendam.

__ADS_1


Tangan terus mengepal. Rasanya dengan cara itu, bisa meluapkan emosi yang mengebu namun sedang tidak bisa melampiaskan. Segera pergi dari rumah orangtua, ingin mencoba mencari keberadaan mantan istri yang bagiku selalu membawa sial.


__ADS_2