
Penutup wajah tidak lupa terpakai, agar orang tidak mengenali wajah yang sudah diburu. Ingin menghirup udara segar, setelah sebulan lebih berkurung dalam kamar kost. Topi sebagai pelengkap juga tidak lupa. Taxi sudah kuhentikan. Masih tidak ingin memperlihatkan wajah. Kepala tertunduk terus. Sopir taxi sempat melihat heran namun kuacuhkan, jika berbuat masalah akan semakin runyam.
"Aku akan datang padamu, sayang? Gimana keadaanmu sekarang? Kamu pasti sangat bahagia sudah lama tidak bertemu denganku. Pasti akan banyak perubahan darimu."
Orang yang dulu selalu patuh, entah mengapa diriku mengebu ingin melihatnya. Sebenarnya memang tidak ada cinta, namun dia cukup membuatku tertarik akan pesona dan sikap manisnya.
Tangan sudah banyak dosa menyiksa. Kalau dikenang ada rasa menyesal juga. Gemerlap dunia dan rayuan wanita membuat terbuai, sehingga lupa bahwa dia wanita yang tepat dijadikan istri. Otak kemarin sering dicuci oleh selingkuhan. Tega itulah yang sering terjadi. Walau dia mengiba diiringi tangisan selalu tidak peduli, bahkan pulang selalu menghamburkan uang dengan mabok dan main wanita.
Mau bertobat, waktu tidak bisa diputar. Selama hidup susah dikost, banyak keadaan yang menyadarkan diriku tentang arti kesengsaraan. Belajar bersabar dan ikhlas adalah yang utama. Bahkan sering puasa dan makan nasi basi, sebab tidak ada yang dimakan. Uang sering menipis dan kalau ada, itu kiriman dari orangtua. Namanya juga banyak kebutuhan dalam hidup sendiri, pasti akan selalu merasa kekurangan uang.
Bekerja dan mendapatkan uang adalah jawaban, namun laporan tentang kesalahan yang sudah fatal, membuat harus jadi buronan. Tiap langkah harus berhati-hati, jangan sampai terbongkar tempat persembuyian. Banyak yang bercerita, kalau sudah masuk dibui akan tambah dahsyat kesengsaraan. Bisa gawat jika ketahuan. Bukan hanya kelaparan, pasti pihak berwajib akan memberikan pelajaran yang setimpal sesuai kesalahan, maka dari itu tidak boleh ketangkap.
"Berhenti di depan gang itu, Pak!"
"Iya, Mas."
Dompet dalam kantong celana segera kurogoh. Uang tinggal beberapa lembar saja. Kalau lagi tidak terkena masalah, ogah mau menghamburkan uang sebab kendaraan sendiri ada. Tapi mau gimana lagi, nasib lagi apes akibat perbuatan bejat sendiri. Nafsu akan mengusai harta, telah membutakan mata untuk merampas yang terjaga, milik perempuan terhormat seperti Jihan.
"Ini, Pak. Terima kasih!"
__ADS_1
"Iya, sama-sama."
Ongkos sudah kuberikan. Tatapan beliau sempat tajam, mungkin sudah merasa aneh atas gerak-gerikku, namun bisa mengimbangi dengan bersikap santai. Malahan jika tidak tenang atau gugup, pasti beliau akan bertambah melakukan sesuatu agar diri ini bisa ditangkap.
"Semoga wajahku tidak terpampang dimana-mana. Bisa gawat jika ada yang mengenali."
"Hhh, kenapa sih ngak bisa diajak damai keluarga Jihan ini, bikin makin sengsara aku saja nih. Mau ngajak nego, sepertinya akan susah sekali. Nasib ... nasib, sungguh malangnya diriku ini."
Berjalan dengan penuh kehati-hatian. Tiap ada orang berjalan dengan memasang kecurigaan, kepala langsung tertunduk agar tidak diketahui.
Mendatangi rumah Jihan. Ingin melihat keadaannya. Apakah dia semakin dirundung kesengsaraan, atau malah bahagia setelah melaporkan.
"Bukankah ini mobil, pak de? Kok bisa ada disini? Ahh, mungkin saja Satria sedang memakainya."
"Anak sialan itu, kelihatannya makin gencar saja mendekati dengan Jihan. Apa dia ada perasaan sama si mantan istriku itu, ya?
Terus memperhatikan keadaan rumah mantan mertua. Disamping pagar dekat tetangganya, tubuh ini kusembunyikan.
Sempat dibuat terheran, saat ada beberapa orang tengah berbincang ramai. Gelak tawa mereka terdengar bahagia.
__ADS_1
"Ada apa ini? Kok Bu dhe sama Pak dhe ada disini?"
"Pakaian mereka sangat rapi? Dih, apa yang sebenarnya mereka lakukan disini?
"Wajah mereka juga bahagia banget. Apa jangan ... jangan-?"
Sangat dibuat penasaran. Telapak jari kaki sedikit maju, walau harus kena duri tanaman bunga. Ingin menguping, sebab sangat kepo apa yang sebenarnya terjadi. Pasti ada berita penting yang harus kuketahui.
"Terima kasih sudah sudi menerima anak kami, yang sebentar lagi akan menjadi menantu kalian nanti," Bapak Jihan berbicara.
Deg, tidak menyangka berita itu. Semua tulang persendian terasa terlepas dari badan. Hanya bisa menanggapi dengan diam penuh pernyesalan.
"What? Wah, ini sangat gila jika mereka akan menikah."
"Benar-benar kurang asem si Jihan ini. Aku ditimpa kemalangan dan seksengsaraan, dia malah akan merasakan bahagia dengan menikah. Si Satria juga , dasar keponakan brengs*k, ternyata kamu berani menikung saudara sendiri, ya! Awas kalian. Aku tidak akan tinggal diam."
"Eeh, tapi Jihan sudah aku ceraikan, jadi wajar saja kalau dia ingin menikah lagi. Tapi kenapa aku koj jadi tidak rela begini, ya? apa yang sesungguhnya yang terjadi padaku?"
Hati jadi galau sendiri. Perasaan tidak bisa diartikan. Jihan dulu memang kubenci, namun setelah berpikir ulang, ternyata kdia wanita yang terbaik dan penyabar. Tangan lebar ini selalu kupandangi, dan disitulah banyak dosa yang bersemayam. Yang ada hanya berterusan menyesali.
__ADS_1