MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Pembelaan bagian 2


__ADS_3

Rasanya emosi kian memuncak, saat Jihan telah berani membela suami yang tak ada guna itu.


"Minggir kamu, Jihan. Aku ingin memberi pelajaran sama suami kamu, agar dia sadar atas apa yang barusan dia lakukan," pintaku yang masih mendengus kesal.


"Sudah, Satria. Hentikan ini. Memang ini semua adalah kesalahan Mas Bayu, tapi kamu jangan memakai kekerasan lagi," cegahnya yang memelas.


"Jangan bilang begitu, Jihan. Dia memang lantas diberi pelajaran, sesuai apa yang dia lakukan tadi," bantahku yang masih emosi.


Perdebatan kian memanas. Namun tak menyangka jika Jihan masih berbaik hati membela suami, yang sudah menyakiti hati dan raganya itu.


"Cuuuihh!" Sebuah ludahan air liur ditujukkan Mas Bayu.


"Minggir kamu," Mas Bayu sudah mendorong kuat tubuh Jihan, sehingga hampir saja hilang kendali ingin oleng kesamping kanan.


"Apa kamu tidak bisa berbicara baik-baik sama istrimu sendiri," Emosi mulai tersulut lagi, saat berhasil menangkap tubuh Jihan.


"Diam kamu. Tahu apa kamu mengenai rumah tangga kami. Jangan mentang-mentang kita masih keluarga, seenak jidat kamu ikut-ikutan dan masuk dalam urusan kami," bantah Mas Bayu.


"Gimana tidak marah, saat kau tak bisa menghargai istri kamu sendiri, bahkan sering kali dengan kasarnya berani main tangan. Ingatlah, Mas! Kelakuanmu ini lama-kelamaan tidak akan abadi, dan akan segera terbongkar jika kamu tetap tak bisa bertobat," keluh tak kenal takut.


"Ah, dasar. Tahu apa kamu tentang tobat?


Cuuih, dasar sok suci," hinanya lagi.


"Em, lagian apa maksud kamu dengan terbongkar," Sikapnya mulai melangkah maju, nampak ingin mengajak berduel lagi.


"Hentikan ini semua, Mas!" cegah Jihan berbalik membelaku.


"Haiissst, dasar!" umpatnya yang menahan tangan, saat ingin melayangkan mentahan kepalan lagi kearahku.


"Dasar wanita pembuat masalah dan tak becus. Gara-gara kebodohan kamu itu, kami jadi bertengkar sekarang," ucapnya berbalik marah pada istri sendiri.

__ADS_1


"Iya, Mas. Maafkan aku!" Lemahnya sikap Jihan sekarang, apalangi diiringi suara yang mulai terdengar mengeluarkan isak tangisan.


"Maaf ... maaf, itu saja yang bisa keluar dari mulut kamu," ketusnya jawaban.


"Lha, terus mau Mas apa? Kalau Jihan memang salah dan tak becus melakukan apa yang kamu minta, seharusnya 'kan bisa bicara dan meminta baik-baik, bukan malah menghajar tubuh dia habis-habisan. Apa kamu tidak takut jika ini semua akan diketahui oleh keluarga besar kita?" saut perkataanku.


"Aaah, diam kamu. Bawel amat itu mulut. Mana mungkin mereka tahu, mereka 'kan terlalu bodoh," Sikap Mas Bayu yang meremehkan.


"Jangan kamu anggap enteng. Selain itu aku tidak akan tinggal diam mengenai ini," bantahku.


"Haiist. Sekarang tidak usah banyak cap cuap. Kemasi barang-barang dan segera angkat kaki kamu dari sini," usirnya sambil telunjuk mengarah ke pintu yang terbuka.


Jihan sudah mengeleng-geleng kuat, mungkin tidak terima atas sikap suami yang sudah tega mengusirku mendadak.


"Jangan lakukan itu, Mas!" cegah Jihan.


"Kenapa jangan? Apa maksud kamu, hah? Ini adalah rumahku, jadi berhak siapa saja yang mau kuterima baik disini maupun kuusir kasar."


"Tapi Satria disuruh orangtua kamu untuk tinggal sementara disini."


"Aku tidak peduli itu."


"Tapi, Mas. Pasti orangtua kamu akan banyak tanya, jika Satria mendadak angkat kaki dari sini."


"Tidak usah banyak bawel kamu, atau mau kugampar lagi mulut yang sok tahu itu.


"Maaf, Mas." Jihan sekarang hanya bisa pasrah menundukkan kepala, saat kalah omongan sama suami.


"Sudah biarkan saja, Jihan. Aku ngak pa-pa, kok. Mungkin hari ini saatnya aku harus pergi dari rumah ini," cakapku mencoba menenangkannya.


"Tapi, Satria."

__ADS_1


"Hemm, itu lebih bagus. Lagian dia itu hanya orang luar yang numpang dirumah kita, ngapain juga kamu harus bela dia. Jika tidak pergi maka aku akan membuat cerita tentang kalian berdua, sehingga orangtua akan marah besar pada kalian. Gimana?" mulut Mas Bayu sudah menyunging sedikit keatas, akibat berhasil mengancam dengan membalikkan fakta.


"Tidak usah mengancam, dengan memberi keterangan palsu. Sebelum kamu tuduh dengan kejam, lebih baik aku angkat kaki sekarang. Lagian sudah muak sama sikap kamu yang kejam itu. Tapi ingatlah, aku ini tidak bodoh. Jangan macam-macam lagi dengan Jihan, atau?" Suara tertahan berbalik mengancam.


"Atau apa?."


Tangan langsung saja merongoh saku, untuk segera mengambil gawai yang tersimpan rapi didalamnya. Kata sandi sudah ketekan agar segera terbuka layar utama. Sebuah applikasi penyimpanan foto segera kubuka.


"Lihat!" Sebuah foto langsung kutunjukkan didepan mata Mas Bayu.


Matanya terbelalak kaget, saat melihat bukti yang nampak didepan matanya. Sikap yang kaku emosi tadi, kini berubah pucat pasi seperti orang sedang ketakutan.


"Sial. Dari mana kamu dapatkan itu?" tanyanya lemah.


"Tidak perlu tahu darimana aku dapat ini, yang jelas ini akan jadi bukti jika kamu telah menduakan Jihan, jadi jangan macam-macam lagi sama istrimu itu atau gambar ini akan kuberitahan pada anggota keluarga dan pastinya akan kusebar. Jadi siap-siap hancur, jika Mas berulah lagi pada Jihan," ancam.


"Jangan lakukan itu, atau aku akan---?" Tertahan suara mas Bayu.


"Atau apa? Aku tidak takut atas ancamanmu itu. Kesalahan yang nyata ada pada dirimu, jadi jika kau mengancam maka semua bukti ini akan menjadikan boomerang."


"Heheheh, maafkan aku, Satria. Jangan lakukan itu." Cegegesan mas Mas Bayu yang penuh drama.


"Tidak usah berbasa-basi. Yang jelas aku akan tetap angkat kaki dari sini, sebab tak sudi satu rumah dengan pria kasar dan sukanya hanya bisa menyakiti wanita saja. Ingatkah perkataanku tadi, untuk tidak berbuat kasar pada jihan lagi, atau ancamanku itu akan belaku segera untuk kamu."


"Hemm. Yah ... ya."


Akhirnya mulut dan sikap Mas Bayu bisa aku bungkam juga, walau sebelumnya ada drama saling pukul dulu.


Tak ingin banyak berkata, langsung saja melenggang pergi meninggalkan suami istri yang masih menyimpan ketegangan itu.


Tangan segera mengemasi barang-barang pribadi untuk dimasukkan dalam koper. Sikapnya yang mengusir bisa kuterima dengan tulus. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa sama Jihan, setelah aku meninggalkan rumah penuh drama yang memuakkan.

__ADS_1


"Semoga kamu tidak akan disakiti lagi, Jihan. Aku berharap kamu bisa membela dirimu sendiri, saat aku tak lagi berada disampingmu untuk menolong," guman hati yang bersedih akan angkat kaki dari sini.


Wajah sudah kurangkup dengan kedua tangan. Kuusap kasar wajah, yang sekarang menghadirkan pikiran tak tega meninggalkan Jihan sendirian.


__ADS_2