
Cukup tenang jika beberapa bagian harta dipegang mantan menantu. Rasa bersalah apa yang dilakukam anak, bagiku masih cukup kuramg atas ukuran harta yang kami berikan. Untung saja istri sangat mendukung. Sebagai wanita dia juga merasakan bagaimana jika tersiksa oleh bathin dam raga. Sebagia orangtua kami harus bertanggung jawab atas kejadian kemarin.
"Ini kopinya, Pak."
Istri sudah menyediakan kopi pahit berwarna hitam pekat. Tidak terlalu manis namun harus kental adalah ciri khas kesukaan menikmati secangkir kopi. Istri sudah bertahun-tahun menemani dalam membina rumah tangga, jadi tahu betul apa yang kusukai dan tidak.
Kopi masih banyak mengepulkan asapnya. Baru diseduh. Mau menyeruput takut lidah malah lecet kepanasan, tapi sudah tidak tahan ingin menyeruputnya.
"Hhh, alhamdulillah semua masalah sudah selesai. Semoga tidak ada kejadian yang membuat kepala kita pusing, atas ulah anak kita Bayu," Istri curhat.
"Iya, Bu. Kalau berulahpun Bapak akan bertindak tegas lagi. Anak kalau dibiarkan terus ya gitu, makin lama makin ngelunjak dan sewenangnya saja. Jangan sampai mantan menantu kita kena ulah Bayu lagi. Kasihan dia," jawaban yang santai sambil menghirup aroma kopi yang semakin mengugah selera.
Istri sambil ngajak ngobrol, mulutnya bergerak-gerak menikmati cemilan yang dia bawa. Dimeja tidak pernah sepi akan makanan kalau ada kopi. Kami selalu melakukan ini diwaktu senggang, kalau sedang tidak berjaga ditoko usaha kami. Walau ada orang kepercayaan yang sedang menunggu, tapi tetap harus kami kontrol.
Dert ... drzzzzt, gawai telah berdering.
"Angkatkan, Bu. Siapa tahu dari orang penting."
"Iya, Pak. Sebentar."
Istri penurut. Langkahnya sudah berjalan kearah nakas dekat sofa. Jari lentiknya mulai mengeser handphone dan segera mengangkat. Wajahnya menatap ke arahku, yang sepertinya memang dari orang penting.
"Ini, Pak. Dari pak Subur."
"Oh, iya."
Tangan yang sempat sibuk membaca koran, kini kuletakkan segera diatas meja dekat kopi.
[Hallo, Pak. Apa kabar? Tumben menelpon, ada apa nih?]
Beliau adalah salah satu teman yang terbaik. Masih ada ikatan keluarga. Rumahnya dekat dengan keluarga mantan menantu.
[Duh, gawat banget nih, kawan]
__ADS_1
[Maksudnya apa, ya?]
[Ini mengenai anakmu]
[Maksud kamu Bayu[
[Lah, iya. Kalau bukan dia siapa lagi, anakmu 'kan cuma dia]
[Terus kenapa dengan dia?]
[Hadeh. Apa kamu tidak tahu jika dia telah tersandung masalah]
[Masalah apa'an? Kok bisa?]
[Wah, sebagai orangtua kamu gimana sih! Perbuatan anak sendiri tidak tahu]
[Sudah, jangan berbelit-belit bicaranya. Cepat katakan apa yang telah dilakukan anak itu]
[Apa? Astagfirullah. Aah, apakah yang kamu katakan ini benar]
Istri memasang wajah cemas, saat ikutan serius mendengarkan penjelasan teman.
[Duh, ngapain aku bohong. Kurang kerjaan saja jika aku memang mengarang cerita. Siap-siaplah jika ada pihak kepolisian datang kerumah kamu, sebab tadi istri dapat info kalau Bayu sudah dalam tahap pelaporan]
[Oh, ok ... ok, aku percaya]
Tut ... tut, gawai langsung kumatikan. Tanpa menunggu lagi ocehan teman, sebab ingin tahu kebenarannya.
Panik saat mendengar kabar buruk ini, langsung saja menghubungi anak yang semakin kurang ajar saja kelakuannya itu.
"Cepat ... cepat, angkat teleponnya anak sialan!" umpat yang penuh emosi.
"Sabar, Pak."
__ADS_1
"Gimana mau sabar, sementara anakmu yang bodoh itu makin gila saja kelakuannya," Istri sudah kusemprot, saat masih bisa-bisanya ingin membela.
Untuk beberapa kali gawai terus menghubungi orang ada diseberang sana.
[Duh, ganggu saja sih, pak. Apa tidak tahu lagi kerja. Aku lagi sibuk banget nih]
[Diam kamu. Kalau tidak penting, bapak tidak akan menghubungi kamu, paham!]
[Iya ... iya. Katakanlah, ada apa sih?]
[Dasar anak kurang ajar. Cepat jelaskan pada kami, apa yang kamu lakukan pada Jihan?]
Suara mulai berintonasi tinggi.
[Jihan? Maksudnya apa?]
[Dasar anak sialan. Tidak usah berpura-pura kamu. Cepat katakan]
Makin dibuat emosi, saat Bayu masih bisa-bisanya menjawab santai.
[Eghem ... hmmm. Hanya pelajaran kecil agar dia sadar kalau sudah berani membangkang dan melakukan kesalahan]
[Dasar anak tak tahu diuntung. Kelakuanmu semakin bejat saja. Apa kamu tidak sadar kalau kalian sudah pisah]
[Sadar sih, tapi aku hanya melakukan hal kecil kok, yang bisa membuat Jihan sadar akan kesalahannya padaku]
[Cuuih, sadar dari apa? Kau tuh yang harus dirukiyah biar bisa sadar. Masalah kecil yang kamu bilang? Jangan salah menduga kamu, ini akan jadi besar jika kamu tidak minta maaf sama dia dan pihak keluarga besarnya]
[Ogahlah. Aku tidak salah, ngapain meminta maaf. Sorry ... sorry saja, gini-gini masih punya harga diri]
[Duh, persetan sama harga diri kamu itu. Ya sudah kalau tidak mau. Tidak masalah bagi kami, tapi ingatlah satu hal yaitu jika kamu tertimpa masalah jangan sekali-kali meminta maaf. Kami tidak akan memaafkan kami, jika kamu saja tidak mau meminta maaf sama orang lain. Ingat itu]
Tiiit, gawai kumatikan. Emosi jiwa sudah merajai. Kalau didepan kami saja, pasti sudah kuhajar dia. Walau anak sendiri tetap akan ngamuk dan memukulnya. Kalau tidak dikasih pelajaran, Bayu akan tetap bandel dan mau seenaknya saja melakukan kesalahan.
__ADS_1