
Badan yang lemah karena sakit, membuatku harus terbaring dikasur agak lebih lama. Rasa pusing dikepala sudah tidak tertahan lagi atas sakitnya. Obat yang begitu kuat mengadung rasa kantuk, membuat badan terus saja terpejam dipembaringan sampai tidak terasa malam telah datang.
Brok ... brok, suara pintu diketuk kasar.
"Jihan ... jihan, bangun kamu!" Suara Mas Bayu memanggil.
"Iya, Mas!" jawabku kemah.
"Astagfirullah, ada apa lagi ini?" keluhku kesal dalam hati.
Brok ... brok, suara pintu terus saja diketuk keras oleh suami.
"Iya ... ya, Mas. Sebentar dulu."
Dengan berjalan tertatih-tatih lemah, sekarang kaki berusaha mendekati pintu.
"Ada apa, Mas?" tanyaku saat sudah membukakan pintu.
"Ada apa ... ada apa?" ketusnya.
"Apa kamu tidak lihat! Aku habis capek pulang kerja, hah!" bentaknya marah-marah.
"Iya, aku tahu." Kepala sudah tertunduk tidak berani menatap wajahnya yang kini ada emosi.
"Tahu ... tahu. Lha, terus mana ... mana makanan untuk makan malam. Apa tidak lihat! Dimeja makan kosong tidak ada apa-apa." Amarahnya kian terdengar ngeri saat gigi saling bergemerutukan.
"Maaf, Mas. Aku belum sempat masak sebab sedang sakit."
"Maaf ... maaf. Enak saja minta maaf."
"Sekarang cepetan masak sana. Aku rasanya sekarat dari tadi belum makan sama sekali."
"Iii ... iya, Mas."
"Jangan jawab, iya ... iya saja. Cepetan sana buatkan."
"Jangan malah begong saja disini," gertak suami makin menjadi-jadi.
"Baik, Mas."
Rasa pusing dan badan yang remuk redam tidak kuhiraukan lagi, sebab jika tidak dituruti keinginan suami pasti dia akan berbuat kasar.
Satria masih ada dirumah ini, rasanya tidak enak saja kalau sampai dia tahu jika kami ada keributan dalam rumah tangga nanti.
Tangan mencoba mencari bahan-bahan yang tersisa dikulkas. Terlihat ada beberapa kubis dan telur saja. Kemudian tangan bergeser mencoba melihat rice cooker, untuk melihat masih ada nasi apa tidak.
"Alhamdulillah, masih ada ternyata. Semoga saja mas Bayu tidak akan marah jika kumasakkan nasi goreng," guman hati yang sudah sedikit lega.
Spatula kini sudah siap untuk mengaduk-aduk nasi dan beberapa bahan campuran yang tadi sempat kupotong-potong. Bumbu dari bawang putih, bawang merah serta cabe yang diiris, tak luput ikut juga sebagai campuran.
Suami suka sama masakan nasi goreng menggunakan kecap daripada saos. Sekarang masak semua serba cepat, diiris semua tanpa ditumbuk dulu bumbunya. Semoga rasanya sama seperti biasa yang kubuat. Akibat lemas dibadan, rasanya malas saja hanya sekedar ngulek bumbunya.
__ADS_1
"Ayo, Jihan. Sudah jadi apa belum. Lelet amat sih masaknya," teriak suami.
"Iya ... ya, Mas. Ini sudah siap kok."
"Ngak pakai lama bawa kesini. Awas saja kalau lama, apa kamu mau suami kamu ini mati kelaparan, akibat istri tidak becus melayani," ucapnya yang terdengar mengesalkan lagi.
"Ini ... ini, Mas. sudah siap." Dengan berjalan sedikit berlarian, kini nasi goreng sudah siap kubawakan dekat suami, yang tengah duduk di meja makan.
"Ayo cepat, ambilkan minumnya juga. Masak dikasih makan tidak ada minumnya. Apa mau aku mati keselek nanti," perintahnya yang tidak sabar.
"Iya, Mas. Sebentar, aku akan ambilkan."
Setengah berlarian sekarang sudah menuju dapur, untuk segera menuruti apa yang dipinta suami.
"Ini, Mas." Tidak butuh waktu lama untuk mengambil yang diperintahnya.
Ternyata Mas Bayu ingin minum air putih dulu, sebelum mencipi makanan yang kubuat super kilat tadi. Wajahku sudah was-was cemas, sebab takut jika suami tidak suka.
Bruuus, nasi sudah tersembur dimukaku, saat Mas Bayu baru satu suapan mencicipi.
"Astagfirullah, Mas!" Kekagetanku yang segera mengusap dan membuang nasi yang tertempel diwajah.
"Apa ... apa, hah! Kamu mau protes," ucapnya seperti menantang.
"Engak kok, Mas."
"Kamu bisa becus masak apa tidak, sih. Makanan kayak kambing begini disuguhkan sama suami. Dasar wanita tak guna. Sudah lelet segala hal, masak semudah ini saja tidak becus," hinanya yang membuat hatiku kian sedih.
"Aku tidak mau tahu, kamu lagi sakit atau pingsan sekalipun, yang jelas kalau mau melayani suami itu yang benar, jangan asal-asalan saja ngasih makanan. Apa kamu mau kuadukan kepada kedua orangtua kita, kalau kamu itu tidak becus ngurus suami, biar kita nanti bisa berpisah segera, hah!" Nyelekitnya omongan suami.
Kepala hanya bisa mengeleng-geleng kuat sambil tertunduk, sebab tidak setuju atas ucapannya barusan. Rasanya ingin sekali mewek, namun sekuat tenaga kutahan agar tidak dikatain wanita cengeng.
"Ada apa sih malam-malam begini ribut?" Suara Satria yang tiba-tiba datang menghampiri kami.
"Ekghem ... hmmm. Tidak ada apa-apa, kok!" jawab suami santai.
"Kalau tidak ada apa-apa, kenapa Mas Bayu berbicara sama Jihan kayak bentak-bentak begitu?" tanya Satria kepo.
"Mana ada. Kamu kali yang salah dengar tadi," pungkir Mas Bayu.
"Aku tadi belum tidur, walau berada dikamar.
Mana mungkin telingaku ini sudah tuli," jawab Satria yang tidak mau kalah.
"Lagian ada apa dengan wajah Jihan itu? Kok ada nasinya?" Tunjuk jari Satria ke arah mukaku.
"Ooh, ini. Bukan apa-apa, Kok. Hanya tadi ingin mencicipi makanan yang kubuat untuk mas Bayu, tapi tumpah saat kaget tiba-tiba telah bersin, sehingga mau tidak mau tumpah tersembur mengenai wajah," jawabku berbohong.
"Emm, benar itu!" Mas Bayu membenarkan dengan wajah santai.
"Ooh, gitu."
__ADS_1
"Lalu kenapa tidak kamu makan sekarang, Mas!" Keanehan Satria saat nasi goreng tidak tersentuh.
"Oh, aku makan, kok."
"Lihat!" Mas Bayu kali ini memakan nasinya dengan senyuman palsu, yaitu pura-pura sedap untuk memakannya.
"Alhamdulillah, ternyata perjuanganku tadi tidak sia-sia untuk memasak. Terima kasih Satria, engkau telah menyelamatkanku dari kemarahan suami," Netra sudah nelirik ke arah Satria dengan senyuman tersembunyi.
"Hari ini aku telah dua kali berhutang budi sama kamu, Satria. Insyaallah, aku tidak akan melupakan jasamu ini," guman hati yang senang.
Wajah Mas Bayu sudah mringis, menahan rasa makanan yang sedikit tidak enak itu. Sebab ada Satria dia terus saja berpura-pura menyukai makanan itu. Rasanya bersalah juga melayani suami tidak dengan baik, saat dia kelaparan tapi aku tidak becus.
"Lagian Mas kenapa malam-malam begini minta dibuatin makanan? Apa tidak tahu jika Jihan tadi sakit," selidik Satria.
"Tahu, tapi 'kan aku sedang lapar."
"Lha, memang ditempat kerja tadi belum makan, apa?" imbuh saudara.
"Tidak sempat, sebab banyak pekerjaan."
"Ooh, begitu. Tapi kamu seharusnya menghormati Jihan juga, sebab dia sakit akibat kelelahan bekerja maupun beres-beres untuk rumah ini." Satria benar-benar cerewet sekali mulutnya kali ini.
"Kamu tahu apa, tentang urusan rumah tangga kami. Kalau Jihan sakit itu urusan dia sendiri, sebab tidak bisa menjaga kondisi tubuhnya."
"Tapi 'kan, Mas."
"Halah, kamu itu benar-benar banyak omong, Satria. Makanpun sampai tidak berselera lagi sekarang."
Klotek, dengan kuat suami sudah membanting sendok ke dalam piringnya.
"Maafkan Satria, Mas. Dia tidak bermaksud berucap begitu," cakapku supaya keadaan tidak tambah runyam, dengan menahan lengan suami agar tidak jadi melenggang pergi.
"Aaah, sudahlah. Mood sudah hilang."
"Sekarang buang saja nasi itu ditempat sampah atau kasih ayam. Aku mau tidur saja daripada mendengarkan ocehan kalian yang tidak bermutu itu," Suami sudah membanting tanganku dan kini dia benar-benar ingin pergi.
Semburat kekecewaan telah hadir kembali, rasanya usahaku sia-sia dan tidak dihargai sama sekali. Dalam keadaan sakit tetap berusaha memberikan yang terbaik, tapi masih saja selalu disalahkan.
"Maafkan aku, Jihan. Akibat mulutku yang tidak terkontrol, kamu jadi kena marah oleh mas Bayu."
"Tidak apa-apa. Semoga kamu bisa memakluminya, sebab sifat suami memang begitu."
"Iya, aku tahu. Tapi aku tetap minta maaf."
"Iya, ngak pa-pa."
"Ya, sudah. Kamu istirahat lagi saja, keadaan kamu belum pulih beneran itu. Lihat! Wajah masih nampak pucat itu."
"Eeh, iya. Terima kasih atas perhatiannya. Kalau begitu aku permisi dulu untuk membereskan bekas makan mas Bayu tadi."
"Ooh, iya. Silahkan."
__ADS_1
Saat Satria sedang selesai mengambil air minum, aku masih saja berkutat dengan pekerjaan dapur, untuk mencuci alat-alat yang habis selesai memasak tadi. Semua rasa sakit dibadan kutahan. Jika keadaan rumah terlalu kotor, pasti lagi-lagi kena semprot omelan suami lagi.