MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Mual-mual


__ADS_3

Bisa sedikit lega jika ada pria yang siap membantuku jika dibutuhkan. Sikap Satria yang gentlemen selama ini kuidamkan, namun semua itu hanya angan belaka sebab dia hanyalah orang lain. Dari dulu ingin Mas Bayu seperti dia, tapi pada kenyataannya malah berbanding terbalik, walau mereka bersilsilah masih satu saudara.


Duduk termenung memikirkan nasib. Semua sudah terjadi, dan aku hanya bisa menerima dengan kepasrahan penuh lapang dada. Banyak tetangga yang terus saja mengosipkan masalahku ini. Kami sekeluarga hanya menanggapi dengan santai, karena memang bukan salah kami. Walau sempat ada rasa sakit hati dan kesal akibat ocehan orang yang tidak bertanggung jawab itu, namun semua harus diterima dengan sabar yang siapa tahu bisa meningkatkan derajat keimanan.


"Hey, Nak. Kenapa kamu kelihatannya melamun terus?"


"Eeh kamu, Bu."


"Jangan melamun terus. Tidak baik, Nak."


"Enggak kok, Bu. Hanya kepikiran sesuatu saja."


"Paham. Pasti masalah kemarin 'kan?"


"Tidak usah terlalu dipikirkan. Semua sudah tejadi, kamu mau memikirkan sekeras apapun kejadian kemarin, waktu tidak akan bisa diputar kembali bisa menyelamatkan dirimu. Kamu harus bangkit kembali. Jangan sampai semua kehidupamu terhambat," Beliau terus saja memberi nasehat.


Kupeluk tubuh beliau. Sangat nyaman kehangatan seorang Ibu.


"Iya, Bu. Walau sudah tidak dipikirkan, namun masalah itu begitu menghantui, hingga pikiran terus saja merekam kejadian mengerikan itu."


"Sabar, Nak. Tidak semua kehidupan akan baik, pasti wanita hebat akan selalu dapat cobaan yang berat. Kamu wanita pilihan, sehingga dapat masalah sebesar ini."


"Iya, Ibu."


"Sudah, jangan bersedih lagi. Ini, minumlah!" Beliau menyodorkan secangkir minuman.


Bau teh beraroma melati itu begitu menyegarkan. Keharumannya begitu menyelerakan ingin segera mencicipinya. Asap yang mengepul terus kuhirup, sebab baunya bisa menenangkan jiwa.


Tadi cukup bisa melegakan, tapi tiba-tiba perut terasa bagai diaduk-aduk. Rasa ingin muntah mulai hadir.


"Ada apa, Jihan?" Ibu nampak khawatir.


Tangan memegang mulut. Menahan agar yang termuntahkan tidak keluar didepan beliau.

__ADS_1


Nasi yang sudah termakan, sekarang berhenti ditengah tenggorokan. Rasanya sudah tidak tahan ingin menyeruak keluar, sehingga mau tak mau berlari menuju kamar mandi.


"Hei, Jihan. Mau ke mana kamu? Belum jawab pertanyaan tadi?"


Teriakkan beliau kubiarkan, yang terpenting sekarang harus bisa cepat sampai ke toilet.


Pintu terbanting kasar. Belum sampai ke wastafel muntahan tidak bisa ditahan. Semua isi dalam perut keluar semua. Pusing mulai hadir. Tangan segera menyedok air untuk menyiramnya. Nafas tersendat berat.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi padaku? Kenapa jadi tiba-tiba begini?" guman hati yang tak tenang.


Perut masih saja kram ingin muntah lagi, namun rasanya didalamnya sudah terkuras habis.


"Astagfirullah, Jihan. Ada apa denganmu?" Ternyata beliau menyusul.


"Tidak tahu, Bu. Tiba-tiba saja, perutku mual ingin muntah terus, nih. Mungkin sedang masuk angin saja."


"Mungkin saja, tapi-?"


"Tapi apa, Bu?" Kutatap lekat wajah beliau.


"Maksud kamu apa, Bu?"


"Apakah kau sedang telat datang bulan?"


"Emm, kayaknya semingguan ini aku sudah tidak datang bulan."


"Astagfirullah, apakah benar yang terjadi padamu sekarang?"


Wajah beliau membulat sempurna. Ada guratan tidak percaya.


"Ayo ikut Ibu sekarang?" Langsung main tarik tangan.


"Kita mau ke mana, Bu?" Bingung.

__ADS_1


"Ke rumah sakit."


"Hah, mau ngapain?" Beliau terus menarik tangan.


Tas dalam kamar beliau disambar. Tidak ganti pakaian yang rapi dulu. Sepertinya beliau tidak sabar ingin mengajak pergi.


"Mau periksa."


"Tapi aku baik-baik saja. Ini hanya sakit biasa saja, dan kemungkinan hanya masuk angin," Kepolosan berkata.


"Itu bukan sakit biasa. Sebab kamu telat datang bulan. Bisa jadi kamu sedang hamil."


"Apa? Tidak ... tidak mungkin." Tangan kubanting dan berusaha menghentikan langkah.


"Hh, gimana tidak mungkin. Sedangkan Bayu sudah menodai kamu kemarin."


"Itu tidak mungkin, Bu. Mana bisa ini terjadi padaku?"


"Semua bisa terjadi, sebab kalian sudah tidur bersama."


"Tidak ... tidak. Ini tidak boleh terjadi!" Tangisan mulai tidak terkendali.


"Tenangkan dirimu dulu, Jihan!" Bentak beliau, sebab aku sudah bagai orang kesetanan yang tidak bisa menerima keadaan ini jika benar adanya.


"Gimana bisa tenang, sedangkan aku akan hamil anak pria bejat itu."


"Maka dari itu kita harus pergi ke rumah sakit untuk memastikan semuanya. Semoga saja ini hanya gejala kamu masuk angin."


Tatapan beliau penuh harapan agar semua tidak nyata.


"Benar. Apa yang kamu katakan, Bu. Kita harus memeriksakan ini. Aku tidak mau hamil anak mas Bayu."


"Maka dari itu kira harus pergi sekarang."

__ADS_1


"Iya. Ayo, bu."


Awalnya yang tidak mau, sekarang jadi semangat ingin tahu keadaan tubuh. Dalam hati terus saja berdoa agar ini hanya sakit biasa saja. Jika benar terjadi kehamilan, maka harus melakukan sesuatu agar tidak lebih memalukan diri lagi.


__ADS_2