MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Tidak Bisa Berkutik Lagi


__ADS_3

Rasanya malas ingin menuruti keinginan mantan suami, tapi jika tidak dipenuhi permintaannya pasti dirikulah yang akan kena bahaya. Hari ini aku begitu pasrah mengikuti semua yang dia suruh. Lebih baik masalah cepat selesai dengannya dan itu lebih baik, daripada menghindar pasti dia tidak akan menyerah untuk terus menganggu.


"Sekarang mana barangnya, dan cepat katakan apa yang kamu inginkan dariku," Tidak sabar atas keinginannya mengajak dikamar.


"Sabar kenapa. Aku akan ambilkan beberapa barang itu dan akan menunjukkan kamu sesuatu."


Ada rasa ketar-ketir masuk kamar yang pernah jadi saksi biksu siksaan, dan tidak pernah sekalipun melepaskan penat tidur dipembaringannya. Mas Bayu sudah mendekati lemari. Tangan sudah merogoh sesuatu yang ada didalamnya. Nampak ada peti kecil yang dikeluarkan. Beberapa helai pakaian yang nampak berkelas juga dia keluarkan.


"Ini, ambillah semua, sebab itu murni hak milikmu dari pemberian orangtuaku ketika awal menikah dulu."


"Benarkah itu? Tapi ini apa tidak berlebihan." Terbukalah peti kecil yang berisikan emas berupa beberapa kalung dan gelang.


Warnanya begitu menyailaukan mata, pasti harganya tidak main-main serta sangat mahal. Pantulan cahaya semakin membuat emas itu bersinar. Ada sekitar lima belas helaian emas. Mertua saking sayangnya sampai memberikan barang semahal ini. Bukan itu saja sih, tapi beberapa tanah dan toko juga berhasil diwariskan.


"Kalau ini tidak berlebihan, sih. Yang sangat ... Sangat berlebihan itu mereka mewariskan tanah dan beberapa toko."


"Sudah beberapa kali kubilang kalau itu bukan kemauanku."


"Sudah, jangan banyak bicara kamu. Sekarang aku butuh tanda tanganmu. Ambil 'lah ini,"


Selembar kertas dalan map telah disodorkan padaku. Mencoba membacanya dan betapa terkejut saat melihat isinya yang bertuliskan bahwa harta sudah berpindah tangan atas nama Mas Bayu.


"Apa-apaan ini, Mas. Tidak ... aku tidak bisa menandatangani ini."


"Hiich, aku masih berbaik hati dan bicara sama kamu baik-baik. Kalau kamu tidak ingin celaka maka lakukan apa yang kupinta."

__ADS_1


"Aku tidak mau."


"Jangan buat aku emosi."


Dia terus memaksa dan mendesak atas apa yang dia minta.


"Terserah. Orangtua kamu sudah mengamanahkan padaku untuk memegangnya. Aku tidak mau dikatain sebagai orang yang tidak bisa menepati janji. Maaf, jika aku tidak bisa menandatanganinya," Masih kekuh.


"Wah, kamu berani sekali ya. Jangan pikir kamu yang mulai berani melawanku sekarang, aku hanya tinggal diam saja, hah! Sini ... sini, tanganmu itu,!" Mas Bayu sudh maju.


Akibat takut langsung mundur. Sikapnya mulai berubah sedikit kasar dan membentak lagi.


"Aku tidak ... tidak mau, Mas."


Mencoba menarik tangan sendiri saat Mas Bayu sudah memegangi jari. Sebuah pena dipaksa masuk antara sela jari telunjuk dan jempol. Tenaga kukerahkan agar bisa mengagalkan yang dia suruh.


Takut membuatku harus segera lari. Pintu telah terbuka jadi akan mudah untuk segera lolos.


"Hei, mau kemana kamu. Jangan lari kamu, Jihan." Mas Bayu sepertinya akan mengejar.


Baru dipertengahan pintu ternyata aku kalah telak. Srek, baju ditariknya kuat sehingga sobek bagian atas dengan beberapa bagian kancing terlepas dari tempatnya.


"Lepaskan aku, Mas. Aku mohon. Jangan lukai aku," Ketakutanku.


"Hahahah, ternyata kamu masih takut juga."

__ADS_1


Tangannya masih menahan baju. Jika aku bergerak sedikit saja pasti koyakkannya akan makin melebar. Tangisan mulai hadir. Betapa bodohnya diriku memasukki kandang singa lagi. Seharusnya tadi tidak serta merta ikuti perkataannya.


"Mas. Jangan lakukan ini. Masalah harta nanti bisa kita bicarakam baik-baik, tapi tolong lepaskan aku dulu dan sekarang biarkan aku pergi," Berbicara dengan membelakangi.


"Ngaco. Jangan harap kamu bisa lari dari sini. Sebelum aku mendapatkan tanda tangan kamu jangan mimpi bisa kabur. Sekarang cepat lakukan apa yang aku minta," Paksanya yang kini membalikkan badan.


Matanya begitu nyelanang melihat bagian tubuh yang sedikit terbuka. Tangan segera menutupinya. Ada guratan senyuman sinis namun menyimpan sesuatu. Jadi bergindik ngeri sendiri melihatnya.


"Kenapa tatapan Mas Bayu begitu mengerikan. Aah, aku begitu takut sekarang," Bulir airmata mereda, namun giliran peluh mangalir dengan deras.


Risih juga atas netranya yang melihat kearah gunung fujiyama yang kututup dengan tangan.


"Kutanya sekali lagi. Apakah masih tidak mau menandatangani?"


"Tidak mau, Mas." Kepala mengeleng-geleng keras.


"Wah, kau sekarang berani menantangku juga."


Tanpa terpikirkan olehku. Mas Bayu sudah kurang ajar mengantupkan bibirnya ke arah bibirku. Dengan kuat aku menutup rapat-rapat. Dengan kasar dia terus ingin menerobos ke dalamnya. Tangannya yang kekar, mencengkram kuat bahu tangan. Dengan kuat menekan, sehingga aku merasakan kesakitan. Tenaga kukerahkan agar bisa menolak atas perlakuannya itu.


"Lepaskan aku, Mas. Hentikan!" pekik tidak suka.


Berhasil menghindar apa yang dia lakukan sekarang. Mengambil nafas dengan cepat. Senyuman smirk itu makin menyiutkan nyaliku. Bulu kuduk meremang semua. Baru pertama kali aku merasakan ini, namun kenapa harus ada pemaksaan dari mantan suami.


"Jangan harap. Kali ini aku akan membuat kamu berlekuk lutut padaku. Makanya jangan suka membantah," Lagi-lagi aku menerima hujaman ciuman.

__ADS_1


Aku tidak bisa berkutik, ketika tangannya sudah mencekram kuat pipi, jadilah ternganga dan membuat mulut Mas Bayu tanpa ampun memainkan isi rongga mulutku. Nafas tersengal-sengal. Tidak ada ruang atau jeda untukku menghirup udara bebas. Pasrah atas segala tindakannya, sebab tangan kanan kirinya berhasil melukai dengan mencengkram kuat pipi dan tangan.


"Aaah, sial. Kenapa aku begitu bodoh bisa terjebak begini. Ayolah, Mas. Lepaskan aku, jangan sampai kita melakukan ini. Kamu adalah mantanku, jadi tidak berhak lagi atas apa yang kamu lakukan sekarang," Airmata ketakutan kembali hadir.


__ADS_2