
Siapa yang tidak akan terharu, jika ada pria yang berhati malaikat. Status yang sangat dihindari orang, malah dia semakin dekat dengan ingin meminangku.
Sempat ragu jika tidak bisa jadi istri yang baik untuk dia. Sebenarnya dia bisa memilih wanita yang lebih baik dariku, namun takdir sudah mengikat kami. Walau bersembunyi dilubang semutpun, takdir sudah datang, maka kita harus menerimanya dengan ikhlas bukan menghindari.
Dengan berani dia mengajak periksa kandungan, padahal tidak sedikitpun ada pikiran ingin mengetahui keadaan si kecil dalam perut. Dalam hati cuma ingin dia tumbuh dengan sendirinya, namun Satria mendesak ingin aku dan si buah hati sehat. Trenyuh yang kini kurasakan. Bukan ayah biologis, namun sangat memberikan perhatian lebih.
Dengan tenang dia menuntunku untuk memasuki ruang pemeriksaan USG. Sebenarnya bisa berjalan sendiri, tapi pria itu tahu kalau diri ini dalam keadaan gugup dan ketakutan. Mengingat fisik dan raga telah terluka, pasti akan khawatir jika tidak berkembang baik sesuai keinginan.
"Kita akan periksa darahnya dulu!" ucap Bu bidan.
"Iya, Bu. Silahkan."
Lengan panjang langsung tersingkap, beliau seketika menempelkan alat pengukurnya. Satria hanya mengamati dengan duduk disampingku.
"Alhamdulillah, normal darahnya."
"Iya, Sus."
"Memang mau jalan yang ke berapa bulan?"
"Kalau tidak salah tiga atau empat."
"Wah, berarti sudah jalan dipertengahan. Kenapa tidak dari awal kehamilan dibawa kesini untuk periksa?"
"Maaf, Sus. Kami sangat sibuk dan tidak ada waktu untuk berkunjung ke sini," simbat Satria, saat tahu kalau aku dalam keadaan bingung mencari alasan.
"Sesibuk apapun kalian, lain kali tetap diperiksakan, biar nanti tahu kondisi tubuh sang Ibu dan bayinya, apakah sehat atau ada kelainan."
__ADS_1
"Iya, Sus. Lain kali enggak lagi."
"Bagus."
Wanita berbaju khas putih mulai memasuki ruang yang ada kami, yaitu sang dokter yang akan lebih detail memberitahukan kondisi anakku nanti.
USG menggunakan alat bernama transducer yang ditempelkan di kulit. Alat ini memancarkan gelombang suara dengan frekuensi tinggi.
"Gimana, apa sehat sang Ibu."
"Alhamdulillah sehat, Dok!" suster bantu menjawab.
"Silahkan berbaring."
"Iya, Dok."
Dokter mulai mengoleskan gel khusus pada kulit di area pemeriksaan. selanjutnya alat transducer ditempelkan dan digerakkan di area tersebut. Perlahan-lahan alat itu terus menyusuri perut.
"Lihat, itu janin kalian. Masih sangat kecil dan detakkan jantungnya alhamdulillah tidak ada kendala."
Netra kami berdua menatap fokus janin yang masih kecil. Belum ada pergerakan sama sekali, namun detakkannya sangat keras hingga airmata tiba-tiba luruh. Andaikan yang menemani mas Bayu, apakah wajah manis terukir senyuman indah pada diri Satria, apa bisa terjadi nyata padanya juga?.
"Kamu senang lihatnya?" Satria mencium tanganku dengan penuh kasih sayang.
"Iya. Aku sudah tidak sabar ingin melihatnya hadir didunia ini," jawab sambil terisak.
Anugerah diatas penderitaan terus hadir. Satria pria bersayap penuh kebaikkan. Tuhan selalu adil menghadirkan sesuatu yang indah. Tidak bisa berkata-kata, ketika airmatalah yang mewakili sebagai rasa terima kasih pada pria didepanku, yang kini terus saja mengenggam erat selama proses pemeriksaan.
__ADS_1
Gelombang dari transducer akan direkam dan diubah menjadi gambar pada monitor.
Setelah tes selesai, dokter akan membersihkan gel dari tubuh. Tes ini membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 60 menit, tergantung dari kondisi sang baby.
Memasuki trimester kedua dan selanjutnya, USG bisa memberikan manfaat berikut:
Mengukur fundus uteri (puncak rahim).
Menentukan jenis kelamin janin.
Memantau posisi dan perkembangan janin.
Mengkonfirmasi adanya kehamilan kembar.
Mengonfirmasi kematian intrauterin (kematian janin dalam kandungan).
Memantau kadar cairan ketuban dan memastikan apakah janin mendapatkan cukup oksigen untuk tumbuh kembangnya.
Mengidentifikasi adanya kelainan genetik pada janin, seperti sindrom down.
Memeriksa kelainan kongenital atau risiko cacat lahir, serta kelainan struktural (seperti masalah aliran darah) dan masalah pada rahim (seperti tumor pada masa kehamilan).
Mengidentifikasi adanya kelainan pada plasenta, seperti plasenta previa (kondisi di mana plasenta menempel di bagian bawah rahim, sehingga menghambat jalan lahir) dan abruptio plasenta (kondisi plasenta lepas dari dinding rahim sebelum janin dilahirkan).
__ADS_1
#Semua sumber diambil dari GOOGLE#