
Ada rasa was-was ketika buronan belum ditemukan. Berharap banyak dia menerima balasan yang setimpal akibat ulahnya itu.
Masalah itu sangat membuatku malu, hingga harus mengundurkan diri dari mengajar. Sebenarnya tidak ingin kejadian ini menjadi melebar, namun Bapak kekuh ingin melaporkam ke pada pihak kepolisian, agar mas Bayu menerima balasan yang setimpal sesuai perbuatannya.
Maunya tidak ingin lepas dari kerjaan, cuma muka sudah hilang jika menampakkan didepan para teman. Seharusnya cukup masalah penganiaan saja yang diketahui, namun berita buruk semakin melebar terdengar yaitu tentang pemerk*saan.
Walau dia adalah pria yang pernah hadir dalam hidupku, namun sikapnya yang keterlaluan saat kami sudah bercerai tidak bisa dianggap remeh dan itu sangat tidak wajar.
"Hhh, sabar. Semoga bisa dapat rezeki lebih atas mengundurkan diri dari pekerjaan yang sangat aku gemari ini," Bathin hati yang bertolak belakang atas tindakan.
Langkah gontai. Rsanya tidak ada daya lagi untuk berjalan. Muka kututup rapat menggunakan masker, namun walau begitu akan tetap dikenali baik dari murid ataupun teman. Tinggi, poster tubuh, dan cara berjalan pasti banyak yang sudah hafal. Malu rasanya jika ada yang mengetahui siapa diri ini.
"Hei, Jihan!" Panggil seseorang.
Power kutambah. Rasa takut tiba-tiba hadir. Jangan sampai orang lain akan banyak tanya, saat aku kelu atau tidak bisa menjawab. Rasa trauma itu ada. Untuk sementara mengurung diri dulu, daripada wajah ini makin terkoyak akibat malu bukan kepalang.
"Hei, Jihan. Tunggu ... tunggu!" Panggilnya ulang.
Semakin lama semakin kupercepat alunan langkah, agar orang yang memanggil tidak bisa mengejar.
"Aah, sial. Siapa sih yang memanggil namaku sekarang?" Ketakutan akut.
Tiba-tiba tangan dicekal. Sudah kalah langkah dari orang yang memanggil.
"Satria?"
"Ada apa?"
"Bisa kita bicara sebentar?"
__ADS_1
"Maaf, aku tidak ada waktu."
"Sebentar saja. Kalau bisa lima menit saja."
Berpikir sejenak. Wajahnya memelas yang sepertinya sangat ingin membicarakan sesuatu.
"Gimana? Ada hal penting yang aku bicarakan, tapi kalau tidak bisa aku tidak akan memaksa kamu."
"Emm, baiklah."
"Terima kasih. Kalau begitu kita menepi saja dari sini."
Wajah Satria sudah memastikan disekitaran area jalan depan kelas. Keadaan memang sepi sebab semua guru dan murid sedang dalam kelas.
"Oke."
"Emm."
"Mari. Kita bicara didekat gudang saja."
"Baik, ayo."
Berjalan mengikuti dari belakang Satria. Wajah terus saja melihat kanan kiri takut jika dilihat orang lain. Jarak kami agak jauh, sebab kalau ada orang tahu mereka tidak akan curiga sama kami.
Tangan Satria bersedekap didada dan berdiri bersandar tembok. Kepalaku hanya tertunduk malu. Pasti Satria sudah tahu masalah kami, jadi tidak punya muka lagi jika berhadapan dengannya.
"Angkat kepalamu. Kenapa kamu berubah sekarang?"
Entah mengapa takut menatap wajah Satria, padahal dia pria baik yang tidak mungkin akan menyakitiku.
__ADS_1
"Angkatlah, Jihan. Apa kau tidak percaya lagi padaku?"
"Maafkan aku, Satria. Rasanya aku sudah tidak ada muka lagi untuk menampakkan diri didepan orang lain ataupun kamu."
Sedih rasanya kasus yang terjadi pada diri ini telah diketahui.
"Kenapa kamu harus malu dan tidak punya muka lagi? Aku adalah teman yang selama ini sudah berjanji akan menjagamu, maka sekarang angkatlah wajahmu itu."
Tangannya tiba-tiba mulai mengangkat dagu ini. Perlahan tapi pasti, Satria terus berusaha membuat muka itu jadi seorang wanita yang tegar.
"Jangan kau tundukkan muka ini. Semua masalah pasti akan terjadi pada tiap manusia. Tapi Tuhan berbeda memberikan cobaan. Kamu adalah wanita kuat, yang tak seharusnya harus menundukkan kepala terus. Buktikan jika kamu kuat dan bisa melewati semua ini. Acuhkan saja ucapan semua orang. Mereka hanyalah orang yang bermulut busuk, sebab tidak tahu apa masalah yang sebenarnya, sehingga hanya bisa mengunjing saja tanpa berpikir lagi gimana perasaan kamu yang sudah tercabik-cabik akibat ulah mas Bayu."
Sorot mata kami sama-sama menatap serius. Apa yang dikatakan Satria ada benarnya.
"Aku tahu apa yang kamu maksud, tapi aku tidak bisa, Satria. Sebagai wanita aku terlalu tak berdaya dan selalu lemah. Hanya tangisan saja sebagai pelipur laraku."
"Jangan begini, Jihan. Kamu wanita yang terlalu berharga disakiti, apalagi sebagai bahan cemooh'an. Jangan takut, ada aku disini. Sampai kapanpun diri ini akan menemani dan menjagamu. Maafkan diriku yang kemarin tidak bisa menjaga kamu, sehingga keteledoranku membuat kamu mendapatkan masalah sebesar ini."
Satria begitu memeluk erat. Terdengar ada suara isak tangisannya. Kami berdua sudah terhayut dalam kesedihan.
"Kamu benar. Tapi aku terlalu rapuh menjalani masalah ini."
"Jangan katakan itu. Aku tidak mau kamu bersedih terus, dan kepikiran yang enggak-enggak kasus yang terjadi."
"Aku takut, Satria. Aku takut dan begitu tersiksa. Sakit banget rasanya hati ini."
"Tenangkan dirimu, oke. Aku ada disini."
Tubuhnya begitu hangat dan bisa menenamgkan jiwa yang sempat kacau balau. Tangan merespon balik memeluk erat. Airmata keluar dengan deras sekali. Tak terbendung lagi hingga membuat basah baju Satria.
__ADS_1