MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Pemaksaan agar mau mengaku


__ADS_3

Rasa penasaranku begitu kuat, apa yang sebenarnya terjadi dengan Jihan. Dia yang sudah mulai melenggang pergi ingin masuk kamar telah kukejar. Tanpa basa-basi langsung kutarik tangannya untuk segera memasukki kamarnya sendiri.


Brak, pintu kamar sudah kubanting kuat.


Dengan wajah tak suka, Jihan sudah membanting kasar tanganku. Sorot matanya menyiratkan kemarahan, namun dibalik itu ada kesedihan yang dia coba sembunyikan.


"Apa yang kamu lakukan, Satria?" tanyanya yang nampak kesal.


"Apa yang aku inginkan?."


"Sudah. Janganlah kau ikut campur urusanku," Lagi-lagi itulah yang keluar dari mulut Jihan.


"Sudah kubilang kalau aku ingin tahu apa yang terjadi padamu sekarang. Jadi katakanlah yang sebenarnya, apa yang dilakukan mas Bayu padamu?" kekuhku ingin tetap membantu.


"Huufffff. Sudah kubilang jangan ikut campur dengan urusanku," Kepala Jihan sudah mengeleng-geleng kuat, tidak setuju atas permintaanku barusan.


Perasaan sudah dongkol akibat dia tidak nurut, jadi tindakan sekarang harus memaksa Jihan untuk berbicara yang sebenarnya.


"Sini kamu ... sini!" Langkah sudah mendekati Jihan yang berdiri terpaku tidak berpindah tempat.


"Jangan ... jangan lakukan ini, Satria. Aku mohon!" pintanya yang sudah menangkupkan kedua tangan didepan dada.


"Tidak bisa. Aku yakin sekali kalau kamu sudah diperlakukan kasar sama mas Bayu," Langkah terus saja mencoba memepet dan mendekati Jihan.


Sikapnya yang kian mundur-mundur menjauh, semakin membuat penasaran dan ingin membongkar semuanya.


Langkah sudah mendekati Jihan, yang telah terpojok didekat tembok dinding rumah.


"Pergi ... pergi dari sini kamu, Satria. Jangan lakukan ini padaku," pintanya yang memohon.


Dengan sigap langsung menyambar kedua tangannya untuk kukunci, ketika dia terus saja meronta-ronta ingin diriku menjauh dan tidak ikut campur.


"Tidak bisa!" bantah perkataan.


"Lepaskan aku, Satria. Jangan lakukan ini, aku mohon!" pintanya serak yang terus saja mengalirkan airmata.

__ADS_1


"Diam kamu."


"Maafkan aku, Jihan."


Sreeeeeek, sekali tarik baju kemeja berlengan panjang yang dipakai Jihan sudah kukoyak. Netra begitu dibuat mlongo atas luka yang ada dibadannya. Wajah Jihan sudah berpaling ke arah kanan, mungkin sudah malu saat sebagian auratnya telah kupandangi.


Karena sudah dialiri rasa canggung ketika menatap kulitnya dan membuatku tak enak hati untuk terus melihat, dengan cekatan aku langsung membalikkan badannya. Wajah Jihan kini sudah membelakangiku.


Seketika baju yang sebatas dada tadi sudah kutarik lagi, untuk mengoyaknya lebih kuat dan turun lagi. Wajah dibuat tercengang, tubuhnya yang berkulit putih dan lemah ini, sudah dihiasi sebuah maharkarya lukisan beberapa luka.


Membiru, luka yang menganga sedikit memerah, dan ada darah yang sudah mengering sekarang nampak terlihat jelas. Garis memanjang begitu terukir ngeri disekujur tubuhnya.


"Apakah ini ulah, mas Bayu?" tanya sudah melengkingkan suara.


Tangan yang sempat mengkunci sudah terlepas. Jihan sekarang hanya bisa menangis tersedu-sedu, sambil mendekatkan kepalanya tertunduk didinding.


"Tangisanmu itu menandakan kalau tebakkan adalah benar."


"Awas saja! Akan kubalas ini semua dan terutama akan kuadukan ke kantor polisi maupun kepada orangtuanya," geram ucapan yang meluapkan emosi.


"Jangan gimana, saat disekujur tubuhmu sudah banyak luka parah begitu. Mas bayu adalah manusia biada*b, yang pantasnya tidak disebut sebagai manusia, tapi dia adalah binatang yang seenaknya memperlakukan kamu begini."


Tangan begitu mengepal kuat. Amarah sudah meluap-luap mencapai puncak ubun-ubun. Kalau ada orangnya disini pasti wajahnya itu sudah babak belur kotonjok semua.


"Bukan begitu, Satria. Dia adalah suamiku, jadi jangan lakukan balas dendam padanya. Ini semua murni kesalahanku," cegahnya yang masih menangis.


"Suami apaan kayak gitu, yang tega menyiksa istri sendiri sampai parah begini. Kamu jangan lemah jadi wanita. Jangan mau ditindas begini dan terutama jangan beri dia belas kasihan," suruhku yang sudah merasakan iba padanya.


Baju yang sudah terkoyak tak berbentuk lagi, tangan ini mencoba membantu membetulkan agar kulitnya tertutup kembali.


"Aku tahu, Satria. Tapi ini demi kebaikan semua orang, maka biarlah aku yang menanggung derita ini."


"Kebaikan yang mana? Jika kamu saja tidak diperlakukan baik sama suami kamu sendiri," kekuh masih ingin membelanya.


"Aku tahu kamu tidak terima atas perlakuan mas Bayu ini, tapi aku mohon jangan berbuat kasar padanya, karena nanti akan berimbas sama keluargaku. Kamu tahu sendiri kalau kami dijodohkan akibat banyaknya hutang orangtuaku dulu, jika ini semua terbongkar pasti mas Bayu maupun keluarganya tidak akan tinggal diam untuk berbalik menghancurkan keluargaku nanti," jelasnya yang menyayat hati, saat wanita lemah dihadapanku sekarang begitu tak berdaya.

__ADS_1


Sungguh tidak mengerti atas jalan pikiran Jihan sekarang, saat masih iba saja sama pria yang sudah menganiayanya parah begini.


Rasa kasihan atas ucapannya barusan, membuat hati kian trenyuh tidak tega. Mungkin benar juga atas ucapannya itu.


"Baiklah kalau begitu. Aku tidak akan membuat perhitungan dengan suami kamu, tapi sekarang ikutlah aku!" pintaku yang akhirnya luluh.


"Mungkin sekarang suami kamu bisa bebas tidak aku aniaya balik, tapi tunggulah suatu saat nanti pasti mas Bayu akan menerima akibatnya sebab telah berani menyiksamu, Jihan," guman hati yang berjanji.


"Ikut kemana?" tanyanya polos sudah menghentikan tangisan.


"Pastinya kerumah sakit untuk mengobati luka kamu itu. Jangan sampi luka yang parah begitu akan terjadi infeksi dan semakin parah," terang perkataan.


"Tapi apakah tidak akan merepotkan, sedangkan kamu sekarang harus berangkat kerja ke sekolah."


"Tidak apa, aku bisa meminta izin sebentar. Luka kamu yang lebih penting sekarang.


"Baiklah kalau begitu. Maafkan aku jika merepotkan kamu."


"Iya, ngak pa-pa. Aku hanya tidak tega melihat wanita yang lemah seperti kamu, diperlakukan semena-mena sama suami sendiri."


"Iya, Satria. Maafkan aku telah melibatkanmu."


"Tidak apa-apa, selagi bisa kubantu pasti aku akan membantumu sampai akhir.


"Emm, baiklah. Kalau begitu aku akan ganti baju dulu."


"Iya, silahkan. Maaf juga sebab sudah memaksa kamu tadi, sampai-sampai baju terkoyak begitu."


"Iya."


Senyuman akhirnya terukir indah diwajah Jihan, mungkin dia terlalu senang sekali ketika dalam kesusahan dan terpuruk ada saja orang yang mau membantu.


Akhirnya aku keluar juga, sambil menunggu Jihan berganti pakaian. Semua keperluan untuk kerja ke sekolah sudah masuk tas dan sekarang kutenteng rapi dibahu


Tidak cukup lama untuk Jihan berganti baju. Motor milik dia langsung kutancapkan gasnya, agar segera membawa dia mendapatkan perawatan dari pihak rumah sakit.

__ADS_1


Surat atas pengobatan akan kusimpan, sebab suatu saat nanti pasti akan dibutuhkan jika mas Bayu akan berulah lagi. Mungkin kali ini dia bisa lepas dari amukkanku, tapi dalam hati telah berjanji jika suatu saat nanti pasti akan kuhabisi itu orang.


__ADS_2