MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Merasakan Kesengsaraan Hidup


__ADS_3

Nasib menjadi sial hanya gara-gara si wanita bodoh yaitu Jihan. Sangat menyesal harus mengenal wanita itu. Kalau tahu begini, pasti tidak akan mau menikah dengannya kemarin.


"Aaah, apes benar dah?" Saat menyeruput kuah mie rebus.


"Si Jihan yang sialan. Gara-gara kamu, Ku jadi nelangsa makan kayak ginian. Andaikan kamu tidak melaporkan diriku ke pihak polisi, mungkin ogah banget makan kayak ginian tiap hari."


"Hhh, semoga uang cukup untuk memenuhi perut dan kehidupan sehari-hari. Mungkin aku harus cari kerjaan agar uang tidak kehabisan," Mulut terus saja ngoceh.


Tangan sibuk memegang layar gawai. Mengeser-geser satu persatu applikasi yang mudah mendapatkan teman yaitu fac*book. Siapa tahu kerjaan yang main handphone seharian, bisa dapat informasi pekerjaan halal dekat tempat kost. Lagi bermode tidak memakai kuota. Sungguh memanjakan pengguna. Semua postingan bisa dilihat, namun hanya tulisan dan gambar dalam mode ditutup.


"Apa yang harus kulakukan? Duh, uang menipis banget," Pusing rasanya kepala ini.


Dalam dompet hanya ada beberapa lembaran uang pecahan merah, biru, dan beberapa recehan. Mau cari kerja'anpun takut jika pihak polisi akan menemukanku.


Dzzt ... zzzzt, gawai telah ditelphone seseorang.


Mata memicing sebelah, saat tahu Bapak kandung yang menelpon. Tidak seperti biasanya beliau duluan. Mungkin saja beliau ada firasat kalau anaknya hidup sengsara.


Kling, sebuah pesan saat telephone kuabaikan. Isinya agar aku bisa angkat cepat.


[Hmm, ada apa?]


[Ada apa ... ada apa! Sekarang kamu berada dimana?]


Kasih tahu enggak ya? Sangat tahu, kalau orangtua sangat sayang Jihan. Bisa gawat dan apes jika dikasih tahu, bisa-bisa malah diserahkam polisi.

__ADS_1


[Buat apa Bapak ingin tahu. Bukannya sudah kamu buang anakmu ini]


[Haduh, kenapa kamu bilang begitu?]


Berpura-pura ngambek. Pasalnya beliau selalu saja mengutamakan Jihan daripada diriku anaknya sendiri.


[Hilih, tidak usah banyak drama, pak. Kamu lebih sayang Jihan dari pada diriku, ya contohnya masalah tanah warisan itu kamu berikan begitu saja]


[Kamu cuma salah paham saja, Bayu]


[Salah paham gimana, sedangkan itu nyata kamu memberikannya]


[Kami bukan menyerahkan begitu saja pada Jihan. Kami ada alasan tersendiri, kenapa memberikan itu padanya, sebab kamu sudah tega melukai fisik dan hatinya. Kami sebagai orang tua harus bertanggung jawab dan menganti rugi. Dia sempat menolak tapi kami paksa. Lagian kami hanya ingin memberi kamu pelajaran, bahwa tindakan kamu selama ini salah]


[Hmm, aku terima alasan kalian]


[Sekarang kamu pulanglah. Kita bisa ajak mereka berdamai dan membuat kamu bisa lepas jadi buronan]


[Pulang itu masalah gampang. Yang penting sekarang aku butuh ongkos untuk bertahan hidup]


[Masalah itu kecil. Yang paling utama kamu harus pulang dulu]


Meminta sesuatu tapi malah mengajak nego, bikin kesal dan geram saja bapak masih memutar-mutarkan kata.


[Nanti bisa diaturlah, pak. Kalau tidak ada ongkos gimana mau pulang. Memang Bapak mau lihat anakmu ini berjalan kaki sampai rumah. Enggak 'kan? Maka dari itu transfer dulu]

__ADS_1


[Baiklah, aku akan transfer, tapi kamu harus pulang. Kasihan sama ibu kamu yang sedang sakit gara-gara mikirin kamu]


[Tenang saja. Bisa diatur nanti]


[Ok, kamu ambil uangnya nanti]


[Sipp, pak. Terima kasih]


Bersorak gembira didalam hati. Akhirmya ada bala bantuan uang juga, walau itu dari orangtua sendiri yang super menyebalkan.


"Yes, kamu memang mudah aku bodohi, pak. Emang aku percaya begitu saja menyuruh pulang. Kamu itu sedang marah dan benci padaku. Pasti kamu akan menyerahkan begitu saja diriku pada polisi, jangan harap!" Merasakan sesuatu firasat yang tidak enak.


"Tapi-? Bagaiamana dengan Ibu? Apakah benar dia sedang sakit? Kelau iya, Kasihan jika dia lemah akibat banyak pikiran. Aah, entarlah menjenguknya, yang penting ada uang ditangan dulu untuk menyambung hidup," Ada rasa iba juga pada orangtua.


Sebenarnya aku begitu menyayangi orangtua, namun karena terlalu dimanja sejak kecil jadi agak bandel. Apa yang kuminta selalu dituruti, yang bahkan harga barang yang mahal sekalipun pasti mereka berikan. Bisa juga jadi anak penurut, kalau apa yang kuiinginkan selalu dipenuhi.


Wajah melamun menatap langit genteng. Kos yang sederhana tidak ada fasilitas yang selama ini kupunya yaitu kemewahan. Sekarang merasakan serba kekurangan dan hidup miskin. Sempat berpikir kalau keterlaluan menjalani hidup yang bergaya foya-foya. Ternyata dikehidupan inu masih saja ada orang yang menderita dibawahku. Baru menyadari setelah menjalani hidul itu.


Tidak salah jika Jihan akan dibela terus oleh orantua, sebab dia memang orang ygang tidak punyab banyak harta dan patut dibantu. Serta yang dikatakan mereka benar atas tanah itu untuk menganti sikap yang sudah keterlakuan mengabaiakan dan menyiksa.


"Maafkan aku, Jihan. Yang sudah tidak becus menjadi suami kamu yang baik. Selalu menyakiti kamu. Seharusnya mencintaimu dengan tulus, tapinmalah menduakan sama perempuan yang bernama Hesti itu."


"Sekarang dapat karma aku telah dicampakkannya dan merasakan sakit. Ternyata dia hanya ingjn uangku saja. Hhhh, menyesal telah mempertahankan wanita gatel itu, dibandingkan Jihan yang selama ini tulus menyayanginku."


Namanya juga buta akan dunia, sehingga lupa akan semua keadaan hidup. Berbuat kasar, berani selingkuh, berkata tajam, ringan tangan, melakukan gejala yang sangat akut akibat pengaruh gemerlap kenikmatan hidup. Bukannya bersyukur dan memanfaatkan semuanya dengan baik, tapi malah menghambur-hamburkan semua demi kesenangan semata.

__ADS_1


__ADS_2