MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Terpuruk Dalam Noda


__ADS_3

Deraian semakin mengalir cepat melewati pipi. Rambut sudah berantakan, tak tahu lagi dimana pita pengikat. Berjalan tergesa-gesa memasukki rumah. Duniah runtuh menimpa badan. Beban apa lagi ini? Kenapa harus berkaitan dengan mas Bayu terus.


"Jihan, apa yang terjadi sama kamu?" Ibu bertanya.


Melewati beliau yang tengah sibuk menyapu lantai. Panggilan beliau tidak kugubris. Terus melangkah agar secepatnya sampai ke dalam kamar. Bulir-bulir hangat kuseka terus.


Brak, pintu kubanting. Tas kubanting sekuat tenaga dikasur, mencoba ingin meluapkan segala kekesalan. Teringat akan tangannya yang terus mengrayahi tubuh ini satu-persatu, membuatku muak dan jijik pada tubuh sendiri.


Kuputar air shower sampai menthok krannya. Deras air begitu terasa dikepala. Dingin kuabaikan. Ingin menuntaskan segala amarah yang tertanam dijiwa. Baju yang terkoyak tetap terpakai. Air mengalir nampak sudah memerah dibawah selakangan. Airmata semakin deras, seperti tak terbendungnya air mandi yang sudah membasahi seluruh tubuh.


Bayang-bayang wajahnya semakin ingin membuat menjerit. Spon yang sudah terbubuhkan oleh sabun cair, kugosok-gosok kuat ke seluruh bagian badan, walau terhalang kain baju sekalipun. Dari ujung kepala sampai mata kaki terus saja tergosok kasar. Kulit sampai memerah. Rasanya jijik itu masih melekat, makanya sekasar apapun yang kulakukan tidak menghentikan sikap ingin membersihkan.


"Aaakkkhhhhhhh!" teriak sekuat-kuatnya.


Airmata bagaikan bah yang derasnya tiba-tiba tak terkontrol lagi. Semua peralatan mandi kubanting kasar.


"Jihan ... Jihan. Tok ... tok. Buka, Nak! Ada apa dengan kamu?" Suara Ibu yang khawatir.


Tidak peduli sama panggilan beliau. Tetap ingin menuntaskan segala sesak dada. Badan terduduk. Memeluk tubuh sendiri. Membenamkan kepala. Tangan menutup wajah.


"Kenapa kau tega sekali, Mas? Apa salahku? Kenapa kau menghancurkan kehidupanku?"


"Setelah berpisah, bukannya kau taubat malah semakin membuat kehidupanku hancur. Kenapa ... kenapa, kau tega seperti ini?" rancau hati kian nyesek.


"Aahhhhh!" teriakku sekali lagi.


Klek ... klek, suara pintu seperti ada yang membuka.


"Astagfirullah, apa yang terjadi padamu, Jihan!" Suara Ibu kaget.

__ADS_1


Sepertinya kunci cadangan masih rapi beliau simpan, makanya sekarang bisa masuk mudah untuk melihat keadaanku.


Masih berposisi duduk dengan air terus menguyur tiada henti.


"Hei, Jihan. Ada apa denganmu?" Bapak ikut menghampiri.


Tiada lagi rasa dingin, mungkin kran sudah dimatikan mereka. Ibu memegang bahuku.


"Jihan, ayo katakan pada kami, apa yang sedang terjadi pada kamu. Kenapa kamu begitu kacau begini," Paksa Ibu sudah mengangkat kepala yang terlalu lunglai.


Hanya airmata yang kian deras menjawab semuanya. Mulut begitu kelu untuk sekedar menjawab pertanyaan mereka.


"Katakan pada kami apa yang sedang terjadi? Katakan? Jangan takut, ada kami!" paksa Bapak.


Kepala mengeleng-geleng kuat. Bekas air mandi yang sempat menguyur, membuat titikannya menciprati wajah mereka.


"Iya, Nak. Jangan takut. Baju kamu sobek begini, pasti ada sesuatu hal besar yang sedang terjadi sama kamu, jadi katakan apa yang sedang kau alami."


"Dari tangisanmu, Bapak tahu siapa yang melakukan ini."


Dagu diangkat beliau. Tatapan tajam, yang sepertinya beliau ingin membaca mimik wajah dan mata kemarahan penuh kesedihan.


"Memang siapa, Pak?" nyolot Ibu tidak sabar.


"Biasalah, Buk."


"Sekarang katakan dengan jujur pada kami. Apakah Bayu yang melakukan ini?" Dengan tegas beliau bertanya.


Tidak ada ekpresi mengangguk ataupun mengeleng. Hanya tetasan airmata luruh kian deras keluar dari pelupuk mata. Lama Bapak menatap tajam.

__ADS_1


"B*ngs*t, ternyata benar dugaanku. Katakan apa yang dia lakukan?" Beliau mulai emosi dengan mengeraskan suara.


"Astaga, Pak. Jangan menuduh."


"Aku tidak menuduh, ini kenyataan. Tanya anakmu, apa yang tengah dilakukan si mantan itu."


Tangan beliau sudah berdecak kesal dipinggang. Wajah diusap kasar, sepertinya ingin meluapkan segala kekesalan.


"Apakah apa yang dikatakan Bapak kamu benar? Katakan ... katakan sekarang," Tubuh sudah digoyang-goyang kasar, agar aku bisa mengaku secepatnya.


Agar tidak membuat mereka tambah penasaran dan khawatir, maka dari itu kepala mulai mengangguk pelan dengan wajah menatap ke bawah lantai.


"Ya Tuhan, Nak. Apa yang dia lakukan sampai kamu kacau begini?"


"Dia sudah menjamahku, Bu?" Semakin pecah saja tangisan.


"Apa?" Kedua orangtua kompak kaget.


"Kamu tidak salah bicara 'kan?" Bapak masih tidak percaya.


"Buat apa Jihan bohong. Tidak ada untungya, Pak."


"Aaaah, benar-benar b*ngs*t tuh orang. Awas saja, akan aku buat perhitungan dengannya," Beliu berkali-kali memukul tembok dinding.


"Iya, Pak. Buat dia jera dan kapok. Geram rasanya anak kita dibuat begini. Sudah cerai tapi masih saja kurang ajar menyentuh Jihan."


"Sekarang kamu berdiri dan tenangkan diri dulu. Bawa dia, Buk. Masalah itu akan kami atasi. Manusia laknat itu akan mendapatkan balasan setimpal akibat berbuat ulah padamu."


Terdengar Bapak mulai menahan emosi. Ingin segera meluapkan segalanya, tapi kalah sama keadaan saat mas Bayu tidak bersama kami sekarang.

__ADS_1


"Ayo, ikut Ibu sekarang."


Dengan sabar Ibu memapahku keluar dari kamar mandi. Handuk segera diberikan dan membungkus seluruh tubuhku. Rambut yang basah segera beliau goyang-goyangkan, agar bisa kering segera. Baju sudah diambil beliau dan dengan cekatan membantu melepas. Uraian aimata tiada henti, bahkan Ibu telihat sempat menitikkan airmata juga.


__ADS_2