MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Berkunjung Meminangnya


__ADS_3

Semua telah tersiapkan. Orangtua alhamdulillah tidak mempermasalahkan atas gadis yang aku suka. Mereka tahu seluk beluk liku kehidupannya. Entah apa yang menjadikan mereka langsung menyetujui, mungkin saja ini sudah takdir yang Tuhan atur. Sulit dipercaya, namun kenyataan selalu berpihak. Mungkin saja pepatah benar, kalau sesuatu yang baik pasti akan dapat yang baik pulak.


Pakaian sudah rapi termasuk orantua juga. Tidak banyak yang kami bawa. Hanya beberapa buah, kue dan perhiasan. Walau ini bukan acara besar, namun harus tetap menghormati acara itu. Semua hanya ingin membicarakan dari hati ke hati para orangtua dan termasuk anak-anaknya ini. Kalau ada kesepakatan yang sama-sama setuju, maka kami akan memberi pegumuman dan peresmian.


Senyuman manis terukir terus dalam bibir ini. Tak ayal orangtua juga ikut senang. Pasti bahagia sekali, melihat anak akhirnya bisa mendapatkan pelabuhan hati. Walau sudah menyandang janda tidak masalah, kata mereka yang penting anaknya baik, sopan dan bisa menjaga harkat martabat rumah tangga nanti.


"Gimana, Bu, Pak? Apa anakmu ini sudah ganteng dan rapi?" tanya saat baju kubenahi dengan baik.


Biar sopan, maka harus berpakaian rapi walau belum resmi. hari ini adalah temu janji kami, walau belum sakral tapi cukup membuat gugup juga. Baru kali ini ada wanita yang langsung menerima apa adanya dalam diriku, padahal dulu pacar selalu minta persyaratan harus mapan dulu.


"Tentu saja, Nak. Anak Ibu dari dulu selalu tampan."


"Wah, benarkah itu?Walau tampan kalau tidak rapi dan bersih percuma saja, Bu."


"Iya, Nak. Semua harus sempurna dimata mereka. Pokoknya nanti jangan mempermalukan kita sendiri, kita harus sempurna dimata mereka."


"Tentu saja, Pak. Semua sudsh terencana, jangan sampai kita gagal untuk mengambil calon menantu kamu itu."

__ADS_1


"Iya, Nak. Sudah, ngak usah banyak ngobrol lagi. Lebih baik kita cepetan berangkat, takutnya mereka akan menunggu kelamaan kita."


"Siip, Pak. Ayo."


Dengan semangat empat lima berjalan duluan. Duduk didepan untuk menyetir. Bapak duduk berdekatan denganku, sedangkan Ibu bersama barang-barang yang akan diberikan pada pihak calon.


Jarak lumayan jauh. Alhamdulillah, kami datang dengan selamat. Sambutan pihak mereka sangat ramah. Saling bersalaman. Dipersilahkan duduk, bak kami ini orang penting. Jihan berpakain rapi juga, walau wajahnya tidak ada riasan. Wajahnya yang teduh, bagiku sudah bak bidadari yang diturunkan Tuhan untukku.


"Syukurlah, kita dipertemukan dalam suasana keinginan anak kita," Bapak memulai pembicaraan.


"Iya, saya juga senang atas niatan anak-anak kita, untuk membina rumah tangga. Tapi sebelumnya kami mohon banget, untuk menerima baik anak kami yang sudah terkenal dengan semua kejelekkannya."


"Itu semua tidak masalah bagi kami, yang pentinh Satria anak kami juga tidak mempermasalahkan itu semua."


"Kalau saya tidak masalah. Jihan bisa mencintai dan melayani dengan baik sebagai suami itu sudah cukup. Yang dibutuhkan, dia bisa berbakti padaku itu sangat diinginkan." Lantang dan mantap menjwab.


"Alhamdulillah, berarti kita berkumpul disini semua tidak mempermasalahkan sama sekali, atas keadaan Jihan yang banyak masa lalu yang menyakitkan. Bapak, senang mendengarkan jika kamu bisa legowo juga menerima semua yang terjadi pada Jihan. Bapak disini hanya bisa merestui dan mendoakan saja, agar kalian bahagia sebagai pasangan suami istri sampai maut memisahkan. Tidak seperti kemarin yang banyak kehancuran."

__ADS_1


"Nasib baik akan selalu berpihak pada orang yang baik. Jangan terlalu putus asa akan masalah jodoh. Semua sudah diatur oleh Yang Maha Pemberi Hidup."


"Benar itu," Saut Ibunya.


Banyak camilan yang tersedia. Minuman tak luput ikut menemani. Semua orang berautkan bahagia. Jihan hanya malu-malu atas ledekan para orangtua. Kami tidak melampaui batas dalam berbicara, sebab ingin menjaga hati Jihan agar tidak tersingung. Kami tahu kalau wanita itu penuh penderitaan, jadi jangan sampai dia sedih akibat salah lembicaraan.


"Terima kasih, Jihan. Kau mau menerimaku apa adanya juga."


"Iya, sama-sama. Justru akulah yang seharusnya berterima kasih, sebab kamu menerima semua keadaanku yang sudah banyak cacatnya akibat ulah suami."


"Itu tidak masalah. Karena aku ingin menikahimu tulus. Intinya jangan sampai kamu ragu akan cintaku. Semua murni dalam dasar hatiku ingin memilikimu."


"Iya, Satria. Aku sudah memantapkan hati, bahwa kamu adalah pria terbaik yang dikirimkan oleh Tuhan. Bukan hanya sekali atau dua kali berpikir, tapi Tuhan memang menunjukkan semua lewat mimpi. Mungkin itu jawaban atas permintaanku lewat sholat istikharah."


"Alhamdulillah, semua jalan telah ditunjukkan dengan swmpurna. Kita wajib terus bersyukur. Ternyata, Tuhan sangat mengasihi kita. Semoga kita terus menjadi hamba-hamba yang taat dan oatuh pada semua perintahNya."


"Amin. Iya, Satria. Benar sekali katamu."

__ADS_1


Senang hati. Damai jiwa ini. Banyak rahasia Jihan yang kini terkuak. Wanita lemah lebut, baik, bertutur kata sopan, patut, taat, dan terutama penurut, itulah yang selama ini menjadi doa-doaku dalam keheningan malam bersujud dihadapanNya.


__ADS_2