MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Pembelaan Bagian 1


__ADS_3

Semua bukti sudah kukantongi. Wajah sudah tersenyum lebar disepanjang perjalan menuju rumah mas Bayu. Akhirnya pria yang selama ini sok berkuasa bisa dilumpuhkan juga.


Tangan sudah membawa sebuah kantong kresek berisi makanan. Jihan yang sakit pasti belum makan sama sekali. Suami pasti tidak akan peduli sama istrinya yang telah kelaparan apa tidak.


Tok ... tok, pintu kamar yang didalam ruangannya sempit dan sedikit lusuh tak layak pakai, telah kuketuk.


"Jihan?" Panggilku memelankan suara, takut jika terlalu keras saat dia sedang nyenyak tidur akan membuat terkejut bangun.


Tok ... tok, untuk kesekian kali pintu kuketuk kembali.


"Iya, sebentar!" simbatnya dari dalam.


Suara deru langkahnya mulai mendekati posisiku yang berdiri didekat pintu.


Ceklek, pintu terbuka perlahan.


"Eeh kamu, Satria. Ada apa?" tanya Jihan sambil membenahi rambutnya yang sempat berantakan.


"Ini ada sedikit makanan untuk kamu makan!" Kantong kresek berisikan nasi padang dan beberapa lauk, kini kuangkat untuk ditunjukkan pada Jihan.


"Oh, makasih." Lemahnya jawaban.


"Sama-sama."


"Oh ya, bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah baik-baik saja atau masih nyeri luka itu?" Kekepoan saat ada rasa khawatir.


"Alhamdulillah, sudah agak mendingan. Cuma sedikit agak meriang dan deman saja," jelasnya.


"Ya sudah. Kamu makan sekarang nasinya, habis tuh istirahat saja untuk memulihkan kondisi tubuhmu itu," suruh yang sudah memberikan kantong kresek.


"Emm, makasih."


"Kalau begitu aku akan pergi ke kamar dulu, ada sedikit kerjaan dari sekolah yang harus kukerjakan sekarang," pamit ingin melenggang pergi.


"Hmm. Makasih."

__ADS_1


"Ok."


Tugas yang ingin membantu memenuhi isi perut jihan sudah selesai, langkah langsung menuju kamar sambil merogoh gawai yang sempat tersimpan rapi dikantong celana.


Jari-jari sudah mengeser-geser layar ke bawah terus, untuk memeriksa beberapa foto hasil jepretan tadi. Senyuman menyunging penuh kepuasan telah terukir dibibir. Ternyata tak sia-sia juga rencana itu.


"Mamp*s kau mas Bayu. Dengan bukti ini bisa membuat kehidupanmu nanti akan berakhir. Semoga saja kamu tak berbuat macam-macam lagi sama Jihan, atau kamu akan menerima akibatnya atas semua perlakuanmu yang keji dan tak punya hati itu," guman hati yang berbicara pada diri sendiri, saat sudah sampai berjalan masuk kamar.


Rasa lelah mulai menghampiri. Tubuh langsung kehempaskan dikasur. Netra masih sibuk menatap layar gawai. Rasa heran terus saja bersemayam dalam hati, saat seorang yang selama ini sudah kuanggap kakak dan panutan telah tega pada seorang wanita, dengan cara melukai secara keji bathin dan fisiknya.


Tangan berkali-kali menutup mulut yang terus saja menguap. Mata rasanya kian berat tak tahan lagi ingin segera terpejam. Gawai langsung saja kugeletakkan disamping kepala. Hawa dingin yang nyaman, membuatku benar-benar ingin menjelajahi alam mimpi.


Sekian detik dan menit telah berlalu, sampai akhirnya perjalanan mimpi telah terganggu oleh suara seseorang yang sepertinya sedang gaduh. Samar-samar terdengar sedang bertengkar saja.


"Hhhaaach, siapa sih yang ribut-ribut diluar? Ganggu benar dah suara mereka!" Kekesalan hati sambil tangan sibuk mengacak rambut saat mata sudah terbelalak bangun.


Lama-lama suara itu kudengarkan dengan seksama.


Deg, kekagetan hati saat sadar sumber suara siapa itu.


Gawai langsung kusambar untuk ikut pergi.


Pintu kamar sudah kutarik kuat, tanpa menutupnya lagi. Langkah seribu membuat tubuh sedikit oleng ingin jatuh tersungkur saja, namun sikap yang seimbang tidak memudahkanku untuk segera tumbang.


Saat mulai mendekati kamar Jihan, suara mas Bayu terdengar terus saja membentak dan marah-marah.


Nafas yang ngos-ngosan telah memberhentikan larian tadi, tepat ditengah pintu kamar Jihan.


Syok, saat melihat tangan Mas Bayu mulai mengudara ingin terlayang kearah Jihan, yang sudah diam sambil sesegukan duduk dikasurnya sendiri.


Tak ingin melihat wanita lemah itu terus saja disiksa, maka jarak langkah sudah melebar agar secepatnya menghentikan aksi si Bayu yang kian tak waras itu.


"Hentikan!" pekikku sudah berhasil menahan kuat tangan Mas Bayu.


Wajah Mas Bayu yang emosi berbalik melotot kearahku. Tak mau kalah juga wajah begis inipun keluar, sambil terus mengemerutukkan gigi.

__ADS_1


Bhaaaghk, tangan yang tercekal tadi langsung kubuang, sehingga membuat tubuh Mas Bayu yang kurus itu terpelanting dan jatuh tersungkur ke lantai.


"Haiisssst, sial!" umpatnya tak terima.


"Apa yang kamu lakukan pada istrimu, hah! Apa mata kamu buta jika dia sekarang lagi sakit," Suara sudah melengking akibat emosi.


"Tidak usah ikut campur kamu!" bantah Mas Bayu mulai duduk tegak.


Senyuman nampak mengartikan tak suka dan menyepelekan, dengan menyunging sedikit keatas.


"Bagimana aku tidak ikut campur, sementara kamu terus saja menyiksa istrimu sendiri," beber semua tingkahnya.


"Aaah, banyak cin cong kamu. Tahu apa, hah!" Mas Bayu mulai mendekatiku.


Bhuugh, tanpa aba-aba secepat kilat dia berhasil melayangkan kepalan tangan, tepat mengenai pipi sebelah kiri.


Pukulannya berhasil membuat pipi berdenyut.


"Dasar brengs*k. Pria tak punya perasaan," Tak terima atas sikapnya, membuat emosi kian menyengat sampai ubun-ubun.


"Mau apa kau, hah!" tantangnya balik tidak takut.


Langkah sudah maju tergesa-gesa, sambil membawa kepalan tangan.


Bhugh, tangan langsung mengudara untuk membogem wajahnya yang songong itu.


"Ah, sial!" umpatnya kesal.


Wajah itu sudah melengos lemah ke arah kiri.


Bhugh, tanpa ampun lagi kepalan kembali mendarat tepat mengenai wajah awal tadi.


Wajahnya yang keras membuat tangan sedikit berdenyut sakit, namun tak kupedulikan itu, sebab yang terpenting sekarang puas memberi pelajaran pria yang masih ada hubungan kerabat.


"Hentikan ... hentikan, Satria!" cegah Jihan sudah merentangkan tangan, untuk melindungi tubuh mas Bayu.

__ADS_1


Sikap Mas Bayu yang lemah terus memegangi pipi. Dengan kasar telapak tangannya menyapu sebuah aliran darah, yang telah nampak sedikit memerah keluar dari sudut bibir.


__ADS_2