
Akhirnya terjadi jua Satria meninggalkan rumah ini. Kesedihan begitu nampak diwajah yang kusut dan penuh ketakutan. Setelah kejadian kemarin hari-hari bagaikan terpenjara, mau keluar takut dikejar bagai buronan, tapi kalau bertahan akan tersiksa atas semua kelakuan suami yang sudah mati hatinya.
Mengajar disekolahan adalah cara manjur dan paling utama agar bisa melupakan semuanya. Kadang dalam kesendirian terus-menerus teringat kekasaran itu, hingga sampai tidak tahan atas semuanya berujung membuat kepala sedikit pusing.
Jam pelajaran terus berlanjut, sampai pada akhirnya bel sudah berbunyi tanda sudah istirahat. Banyak siswa-siswi mulai berhamburan dan berlarian keluar. Tangan sibuk menata buku pelajaran yang sedikit berantakan. Dirasa sudah sepi dan tidak ada murid lagi didalam kelas, akupun ikutan keluar untuk menuju ruang guru.
Nampak dari kejauhan Satria sedang berjalan beriringan dengan kepala sekolah, akupun yang mengetahui harus menyiapkan diri menyapa sopan, sebab ada orang yang dihormati.
"Siang, Pak!" sapaku mengangguk pelan pada mereka.
"Siang juga, Bu Jihan!" jawab keramahan satria.
Tidak ingin larut dalam kecurigaan semua orang, maka akupun segera melenggang pergi dari hadapan mereka.
Rasanya cukup lelah juga mengajar para siswa tadi, padahal menerangkan pelajaran sambil duduk saja, tapi rasanya badan dan pikiran terkuras habis saja.
Kling, gawai telah bergetar tanda ada seseorang mengirimkan pesan.
Klik, jari-jari sudah megeser layar untuk memeriksa siapakah yang sudah mengusik ketenanganku makan siang memakai roti.
"Hah, dari Satria? Mau apa lagi ini orang?" guman hati belum membuka pesan.
[Hallo, bu Jihan. Gimana kabarnya?]
Padahal baru sehari kami tidak serumah, tapi Satria sudah menanyakan kabar seperti orang khawatir akut..
[Alhamdulillah, kabarku baik. Kalau kamu gimana?]
Mencoba berbasa-basi menanyakan kabar balik.
[Syukurlah kalau kamu baik. Maaf menganggu kamu, ya! Sebab aku takut saja kalau kamu diapa-apain lagi sama mas Bayu]
[Masalah mas Bayu insyaallah kali ini dia tidak akan macam-macam lagi, sebab kamu sudah berhasil membuat bukti tentang kebusukannya]
[Iya juga, tapi masih tetap khawatir saja, mengingat dia kemarin kelihatan emosi. Oh ya, kalau habis mengajar ada waktu senggang, apakah kamu mau menghirup udara segar sementara denganku?]
__ADS_1
[Doakan saja mas Bayu tidak akan berbuat jahat lagi. Menghirup udara segar? Maksud kamu mau mengajak jalan-jalan, gitu?]
[Iya, kalau kamu mau sih! Kalau sibuk ngak apa-apa juga dan tidak ikut pergi]
"Waduh, aku harus jawab apa ini? Kalau ditolak takut tersinggung, sementara Satria selama ini baik padaku, tapi kalau diterima apa kata mas Bayu nanti?" Hati merancau kebingungan.
[Bukan gitu. Aku ada waktu senggang, tapi takut kalau mas Bayu nanti mengetahui]
[Oh, gitu. Tapi bukankah mas Bayu pulangnya agak sorean, jadi amanlah kalau kita keluar sebentar, lagian biar kamu itu tidak suntuk dan banyak pikiran saja. Gimana?]
Sedetik ... dua detik, kepala masih memikirkan atas tawaran Satria. Yang dia katakan benar adanya, tapi takut saja jika nanti Mas Bayu akan marah sebab mengetahui istrinya keluyuran.
Kling, sebuah pesan tiba-tiba mengagetkanku yang tengah melamun.
[Gimana?]
[Hmm, baiklah. Semoga saja kita aman selama berpergian nanti]
[Sipp 'lah kalau begitu. Kamu tunggu saja didepan perempatan sekolahan, biar orang tidak tahu dan curiga]
[Sipp 'lah kalau gitu]
Janjian sudah disepakati. Rasanya ada perasaan yang menganjal, mungkin efek baru pertama kali keluar dan tanpa izin suami pulak.
Sekian jam telah berlalu. Waktu terus merangkak menjalankan tugasnya. Dengan tergesa-gesa membereskan semua buku habis selesai mengajar. Takut jika terlambat pasti akan membuat Satria menunggu lama.
Tas berisi beberapa dompet dan surat-surat penting segera kusambar, untuk. ikut berpergian bersama. Kunci kotak motor segera kuputar. Mesin mulai kuhidupkan. Tak banyak basa-basi segera meluncur ke tempat janjian.
Untung saja didekat janjian ada tempat parkir motor, jadi bisa bebas berboncengan dengan Satria nanti. Rasanya juga tidak enak naik motor berdua, tapi kata Satria demi menghemat pengeluaran, dan tidak saling tunggu menunggu jika salah satu dari motor kami duluan berjalan.
Masker penutup wajah segera kupakai, agar tidak diketahui oleh orang lain. Seragam khas sekolahan segera kututup jaket. Untung saja tadi bawa jaket, sebab tidak tahan sama udara pagi yang dingin sampai menusuk tulang.
Dari kejauhan Satria sudah duduk santai diatas motor. Posisinya agak sedikit masuk digang, yang lebar namun sepi pejalan kaki.
"Maafkan aku terlambat, sehingga kamu menunggu lama," sapaku langsung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, aku juga baru keluar, kok!" Suara sengau Satria sebab sedang memakai masker juga.
"Hmm."
"Sekarang naiklah, keburu siang dan takutnya nanti ketahuan sama mas Bayu juga."
"Iya."
Langsung saja menaikki motor yang sedikit agak menunging turun kebawah. Perasaan sudah ragu karena pasti tubuh kami akan menempel dekat sekali.
Tapi aku tidak gegabah melakukan duduk berdekatan, malah kini duduk paling ujung sekali.
"Berpegangan. Jangan sampai nanti jatuh," Peringatan Satria.
"Iya."
Tangan berpegangan dipundak Satria, jika dipinggang apa kata dunia yang lancang dan beraninya beradegan mesra seperti memeluk saja.
Hembusan angin tak henti-hetinya meniup wajah, sampai-sampai hijabpun sudah tidak berbentuk lagi. Helm yang bertengger dikepala, menambah rusak saja penutup kepala sesuai syariat agama.
Shet, dengan tiba-tiba rem berhenti mendadak dengan kuat saat lampu merah telah menyala, dan tanpa sengaja akupun merespom kejadian ini dengan memegang kuat pinggang Satria.
"Maafkan aku, sebab berhenti mendadak begini," Satria berbicara saat sudah membuka kaca helmnya.
"Iya tidak apa-apa!" Hanya mringis jawaban atas kejadian tak mengenakkan.
"Beneran minta maaf, lho! Karena tadi mau menerobos lampu, tapi sepertinya tidak memungkinkan akibat kalah sama nyala merahnya," imbuh Satria.
"Iya, aku memaklumi itu."
"Terima kasih atas pengertiannya."
"Iya."
Laju motor kembali berjalan. Entah akan kemana Satria membawaku, yang jelas perjalanan cukup lama juga. Tidak pernah keluar dari rumah sama sekali, membuat tidak tahu akan dibawa pergi kemana ini. Sebagai orang yang diajak secara gratis hanya bisa pasrah mau dibawa kemana.
__ADS_1