MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Sakit Diselingkuhi.


__ADS_3

Belum ada jalan untuk mengambil hak sah atas harta. Untuk sementara kubiarkan dulu Jihan menikmatinya. Berusaha ingin mendekatinya lagi, namun kelihatannya akan mulai susah. Dulu dia tunduk, tapi sekarang akibat berpisah jadi membangkang dan sudah berani melawan.


Tombol telphone berkali-kali menghubungi seseorang, namun jadi kesal sendiri sebab tidak diangkat daro tadi.


"Aah, kemana kamu, Hesti. Tumben telephone dariku tidak kamu angkat? Tidak biasa-biasanya kamu begini?" Mungkin sudah lima belas kali menekan nomornya.


"Lebih baik aku samperin saja dikostnya. Mungkin dia sedang tidur, tapi ini 'kan sudah siang masak belum bangun juga." Dihari cuti kerja ingin berkencan dan mengajak jalan-jalan.


Walau tabungan sudah menipis, tapi demi ayang semua akan kulakukan. Dia selalu membeli barang mewah dan aku bagaikan kerbau yang dicucuk hidungnya selalu nurut dan tidak pernah mengeluh. Kadang isi brangkas sampai kosong, tapi aku tidak pernah protes sebab masih bisa bekerja dan mencari uang lagi, jadi buat apa susah-susah dipikirkan. Dia wanita yang sangat kucintai, jadi tidak masalah uang tidak tertabung.


Mulut terus bersiul-siul. Bahagianya hari


ini, setelah beberapa minggu lelah akan pekerjaan, sekarang akan terpuaskan dengan menemui pujaan hati. Sepanjang jalan terus menyanyi menghibur diri sendiri. Bosan, saat jalanan macet. Radio dalam mobil kuputar sekencang-kencangnya, sampai kalau ada orang pasti protes akibat memekak telinga.


"Tunggu ... tunggu aku, sayang. Sebentar lagi kita akan bertemu. Apakah kau juga rindu padaku. Oh sayang, pesonamu begitu meluluhkan hatiku. Terima kasih sudah mengisi hari-hatiku dengan kebahagiaan," Terus bernyanyi dengan teks tak jelas..


Cukup lama bertempur dengan jalanan, yang dari tadi telah padat merayap. Perlahan-lahan mobil mulai memasuki area kost Hesti. Dari kejauhan melihat ada sebuah mobil mewah terparkir dihalaman kost kekasih tercinta.


"Mobil siapa itu? Kenapa terparkir disitu? Jangan ... jangan? Aah, tidak. Hesti juga sangat mencintaiku, jadi tidak mungkin kalau dia akan berani berpaling," Hati terus bergulat pada diri sendiri.


"Semoga dugaanku salah. Mungkin saja ini hanya numpang parkir. Bisa jadi milik tetangga mungkin," Meyakinkan diri sendiri.


Membuang rasa curiga. Cligukan melihat rumah para tentangga, siapa tahu memang milik salah satu dari mereka. Sekeliling memang kebanyakan rumah elit orang kaya.


"Mobil mewah? Pasti orang tajir ini!" Tangan mengelus-elus mobil yang masih kinclong dan mulus.


Masih bersiul bagaikan burung terus berkicau. Tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia ini.

__ADS_1


"Ini sandal siapa. Kok, ada sandal pria. Aah, apa jangan ... jangan dugaanku tadi benar?" Langsung saja membuka pintu. Untung saja tidak dikunci.


Amarah mulau hadir saat sepasang sandal pria bertenger rapi didepan pintu. Kosong diruang tamu.


"Aah, mereka ada dimana? Apa aku memang sedang salah menduga dan berprasangka buruk saja sama Hesti. Kalau memang benar maafkan aku sayang, sebab sudah menuduh dan berpikiran yang enggak-enggak sama kamu," Penyesalan diri sendiri.


Terdengar suara riuh obrolan dua orang. Mengalun mesra dari arah kamar. Belum sempat melangkah ingin menuju tempat itu, betapa dibuat terkejut saat dua sejoli yang sempat aku curigai kini telah keluar. Mereka saling berpelukan mesra dengan tangan melingkar bertukar dipinggang.


"Apa maksudnya ini, Hesti!" Berteriak kemurkaan.


"Eeh, ada kamu, Mas."


"Jangan banyak drama kamu, Hesti. Ada apa ini sebenarnya."


"Kamu bisa lihat sendirilah, aku sekarang sedang ngapain. Maaf ya, aku tidak angkat telepon kamu tadi, sebab lagi bergulat mesra dikamar sama pacarku. Oh ya, kenalkan dia adalah Bagas, pacar baru yang super tajir!" Tidak ada guratan malu diwajah Hesti.


"Maksudnya apa ini?"


"Ya seperti yang kamu lihat. Aku butuh dana untuk menyambung hidupku. Sedangkan kamu tahu sendirilah bahwa sudah melarat dan hidup nyungsep. Tidak bayak harapan darimu jika kita masih bersama. Yang ada malah nanti kau menguras tenagaku tanpa dapat imbalan apa-apa, paham!" Dengan entengnya hesti mengungkapkan semuanya.


Tanpa ragu lehernya langsung kucekik.


"Lepaskan dia. Jangan kau sakiti wanitaku!" Cegah kekasih barunya.


"Diam kau. Tidak usah ikut campur urusan kami. Dia wanita murahan yang tak tahu diri. Sudah dikasih hati malah minta jantung."


"Aah, dasar pria kurang ajar."

__ADS_1


Bhuugh, bogeman berhasil mendarat diwajahku.


Bhugh ... bhuuuk, tanpa henti pria itu menghujamkan pukulan. Aku yang tidak siap telah oleng jatuh dan kalah. Tidak terima atas perlakuannya kini bangkit untuk segera membalas.


"Banyak bac*t, loe. Pria busuk yang sukanya main tikung kekasih orang!" Perlawanan siap hadir.


Hesti hanya bisa berteriak-teriak saat kami saling melayangkan bogem. Tidak ada yang mau mengalah. Beberapa darah telah keluar dari mulut, hidung, pelipis. Wajah sudah benar-benar babak belur. Sakit dan perih semua.


"Berhenti ... berhenti kalian."


Hesti mulai maju berusaha melerai kami.


"Sudah, hentikan Mas Bayu. Pergi dari sini!" usir Hesti dengan lantang.


"Jangan ngadi-ngadi kau, Hesti. Selama ini kau bisa tidur nyenyak dan makan itu dariku. Sekarang kau membalasku dengan air tuba. Cuuihh, dasar wanita pecun." Hinaku yang kesal.


"Hei, jaga mulut kamu. Jangan mentang-mentang kamu pernah jadi kekasihnya, main seenaknya saja menghina dia. Jangan banyak protes. Semua yang sudah kau berikan pada Hesti akan aku kembalikan. Mau berapa? 1 milyar atau lebih? Pasti itu cukup 'kan?" tantangnya yang memamerkan kekayaan.


"Buset, beruntung benar Hesti kali ini dapat pria tajir. Patut aku dibuang. Dasar wanita matre. Lihat yang kaya saja, rela dan mau menjual tubuhnya," Guman hati yang kagum.


"Ok, aku akan minta ganti rugi. Jangan membual tidak membayarnya, sebab aku akan membuat wanita murahanmu itu menyesal, sebab sudah tega mencampakkanku dan menyakiti. Cepat bayar, jangan sampai bohong."


"Ok, akan aku transfer segera. Sekarang pergilah dari sini, sebab muak sama muka kamu yang pas-pas'an namun sombong dan sok kaya," Hinanya.


Hasti hanya diam. Tidak membalas ataupun menyela perkataan pria itu yang terus menghina, sebab kalau aku makin melawan pasti semua ganti rugi akan melayang.


Langsung melengang pergi tanpa sepatah katapun. Kesepakatan telah terjadi. Tidak ada gunanya berdebat dan adu jotos lagi, sedangkan wanita yang jadi rebutan hanya menjadi penonton setia tanpa melerai kami tadi. Kalau bukan dari kami yang merasakan kesakitan pasti kami lama bergulat.

__ADS_1


Kesal terus saja mengrogoti hati. Dongkol rasanya, wanita yang selama ini kubela-belain ternyata berani mendua. Tega sekali dia mencampakkan akibat kematrean, namun sesuai saja sebab aku sekarang jadi bangkrut dan tersendat rezeki akibat perceraian.


__ADS_2