
Rasa kesal makin membuat kepala pusing. Tidak menyangka jika harta itu akan dimiliki mantan istri. Kalau bukan orangtua saja pasti tadi sudah babak belur kuhajar. Cukup aneh sikap mereka yang tidak memberikan pada anak sendiri.
[Hallo sayang, gimana jalan-jalannya? Jadi enggak?]
[Hmm, hallo juga. Entah, aku sekarang lagi menuju kost kamu]
[Kok entah sih? Aku sudah berdandan yang cantik lho buat kamu]
[Nantilah, kalau sudah sampai situ kupikirkan lagi]
[Ya sudah, aku tunggu kedatanganmu]
[Hmm]
Mungkin dengan datang dan bercerita dengan Hesti aku bisa mencari jalan keluarnya. Wanitaku itu selalu banyak akalnya, sehingga tidak salah jika memilih jadi selingkuhan.
Dua puluh menit bergelut dengan jalanan, akhirnya rumah yang selama ini selalu kubayarkan setiap bulan sudah nampak dari kejauhan. Hembusan nafas kasar terjadi, akibat masih sesak saja dada ini akibat tidak bisa meluapkan emosi yang tertahan.
"Hai, sayang!" Pinggang Hesti langsung kurengkuh.
"Hmm, hai juga."
Kami tidak malu lagi dengan berciuman, walau diluarpun menyempatkan kiss hanya pipi ataupun bibir. Kemarin banyak orang yang mencemooh, tapi sudah kami jelaskan kebohongan bahwa Hesti adalah istri siri, jadi biar mereka tidak mengamuk maupun mengusir kami.
__ADS_1
"Kapan jalan-jalannya. Apa beneran tidak jadi?" Wajah yang selalu indah ketika tersenyum, kini nampak jelek sekali saat manyun.
"Aku belum bisa memberikan jawaban jadi apa tidak, sebab lagi bingung dan pusing banget nih."
"Emang pusing kenapa sih, sayang. Tidak biasa-biasanya? Apa masalah sama istri kamu lagi?" tebaknya.
"Iya, kamu tepat sekali."
"Bukankah kalian sudah cerai dan tidak ada urusan lagi? Kenapa harus pusing-pusing mikirin dia. Kamu tidak jatuh cinta lagi 'kan dengannya 'kan?" Ada raut kecurigaan.
"Enggak 'lah. Memang, tapi ini gara-gara orangtua yang sialan itu."
"Hah, maksudnya apa? Kenapa sama orangtua kamu."
"Masalah harta."
"Harta apa'an maksudnya?"
Jelas dia tidak mengerti, sebab semua belum terjelaskan.
"Ya harta orangtua. Semuanya tidak bisa diserahkan kepdamu, melainkan pada Jihan."
"What? Kok bisa gitu? Apa aku tidak salah dengar."
__ADS_1
"Itu 'lah kenyataannya, yang bikin kepalaku pusing sekarang. Kalau bukan orang yang mengasuhku sejak kecil saja, pasti sudah bonyok semua tuh muka orang," Kekesalan masih tidak terima.
Awal yang bermanja ria dipangku, sekarang sudah turun duduk sendiri.
"Hmm. Mungkin itu bukan rezeki kamu."
Hesti sedang sibuk memainkan gawai, sambil mulut berceloteh santai.
"Walau gitu aku masih tidak terima. Seenak jidat mereka saja main memberikan pada Jihan, yang jelas-jelas tidak ada hubungan denganku lagi."
"Entahlah. Aku tidak bisa berkomentar lagi, sebab orangtua kamu berhak memberikan pada siapapun itu termasuk Jihan. Lagian bukankah Jihan pernah jadi bagian hidup kamu, jadi mungkin wajar saja orangtua kamu memberikan hartanya."
"Tapi tetap tidak bisa 'lah, sayang. Aku adalah pewaris yang asli dan satu-satunya. Itu semua adalah hakku."
Hesti masih saja sibuk bermain layar handphone. Mencoba mengintip sedikit apa yang dia lakukan, ternyata hanya mengeser-geser gambar sebuah promo beberapa baju sexy.
"Terus apa yang akan kamu lakukan jika tidak terima. Semua sudah diberikan, jadi terima nasib kamu saja."
Terdengar ketus sekali jawabannya. Entah mengapa merasa dia sedang kesal padaku. Mungkinkah itu efek tidak jadi pergi jalan-jalan. Berpikir seribu kali untuk menghamburkan uang, sebab dalam simpanan sudah menipis. Sempat dipuncak kebahagiaan sebab Atm bisa membengkak, namun ternyata berbanding terbalik jadi mimpi buruk akibat harta jatuh ke tangan orang lain.
"Belum tahu apa yang akan aku lakukan. Kamu bantu mikir 'lah. Kalau bisa kudapatkan semua kamu juga yang akan dapat untung banyak."
"Aku tidak bisa jamin bisa bantu kamu, sebab aku ini orang luar yang bukan anggota keluarga. Nanti 'lah aku coba bantu cari jalannya, tapi tidak janji."
__ADS_1
"Hmm, baiklah. Aku tunggu kabar baik atas solusi kamu."
Tangan sudah memijit kening. Jalan keluar masih buntu. Sepertinya akan susah diriku mengambil harta itu. Tetap akan berusaha merebutnya dengan cara apapun itu.