MANTAN KEKASIH GELAPKU

MANTAN KEKASIH GELAPKU
Bingung Dikejar Polisi


__ADS_3

Api kemarahan telah hadir. Tidak menyangka jika Jihan akan berbuat nekat ingin mengusikku.


"Awas, Jihan. Akan kubuat perhiitungan lagi dengan kamu. Sudah diceraikan jadi janda, tapi kamu masih kurang saja untuk cari masalah denganku. Jangan kamu pikir setelah kita bercerai kamu bisa bebas dan seenaknya saja. Enggak akan! Justru aku akan membuat ulah padamu terus, sebab kau masih saja ikut campur urusan keluarga besarku," Hati dibuat dongkol.


Tangan sibuk menyetir stang kemudi. Menuju rumah segera untuk menenangkan diri. Kerjaan yang numpuk membuat tenaga terkuras, dan sekarang ditambah pikiran kacau.


Belum sempat kendaraan terparkir, samar-samar dari arah depan melihat sesuatu yang membuat diri ini terkejut bukan kepalang, pasalnya ada beberapa mobil pilisi didepan perkarangan rumah.


"Kenapa mereka ada dirumahku? Apa yang sebenarnya terjadi?"


Pikiran mencoba memutar memory dan mulai ingat sesuatu yaitu perkataan Bapak, bahwa bakalan ada sesuatu masalah besar yang menimpaku.


"Aah, sial. Apakah kau sudah melaporkan aku, Jihan?


"Kalau benar, cukup brengs*k juga kau bisa melakukan ini. Tidakkanmu tiada ampun lagi. Awas kamu?"


Kemudi kubanting berbalik arah. Untung saja dari jauh tadi sudah nampak mobil polisi. Tetap merasa lega, sebab sudah bisa melarikan diri dari para abdi negara itu


"Mau ke mana ya aku sekarang,? Ke rumah orangtua itu tidak mungkin, pasti pihak mereka akan mencari kesitu juga. Ke rumah teman nanti malah merepotkan, tapi uang begitu menipis. Bagaimana ya ini?" Kebingungan.


Mobil tetap kulajukan. Pikiran sementara berkecamuk mau mencari tempat berteduh. Sampai akhirnya berhenti disebuah rumah kost, yang sedang dipasang papan pemberitahuan. Ongkos kelihatan murah dan mulai membuat tertarik. Semoga cocok dengan harganya.

__ADS_1


"Bolehlah untuk sementara ini tinggal disini. Daripada nanti bisa mati kedinginan dan kepanasan," Hati merancau lega.


Bajet cukup untuk sementara kabur dari kejaran polisi. Semoga dengan diri ini bersembunyi, keadaan semakin membaik.


Setelah bernegosiasi sama pemiliknya, akhirnya kost bisa aku tempati. Agak berantakan dan ruangan hanya satu, jadi makan tidurpun jadi setempat.


[Hallo, Pak]


[Kenapa kamu menelpon? Sudah insyafkah?]


[Iccch, bapak ini. Apa-apaan, sih?]


Tidak ada kata insyaf dalam motto hidupku. Apa yang sudah kulakukan, ya harus bisa tertawa puas. Bangga bisa melakukan apa yang menjadi keinginan terbesar. Jangan sampai menunda sesuatu jika mampu melakukan. Semua harus terwujud, walau harus membahayakan nyawa sendiri sekalipun.


[Mana ada. Siapa juga mau mengeluh]


Rasanya mau marah sama orangtua sendiri. Sekarang sikapnya bagaikan aku ini adalah anak tiri. Kalau tidak kepepet uang saja, ogah banget mau menelpon bapak sendiri, yang notabennya cerewet melebihi emak sendiri.


[Lha, terus kamu menelpon mau apa?]


[Aku butuh uang. Kirimi aku sekarang]

__ADS_1


[Dasar, kurang ajar. Mau enaknya sendiri. Uang yang selama ini kamu punya kemana? Bukankah jatah sudah banyak kami berikan]


[Haduh, pak. Jangan ditanyakan itu lagi. Anak kamu ini banyak fansnya, jadi ya pasti habislah untuk memanjakan mereka]


[Fans kepalamu peyang. Habis buat selingkuhan itu baru benar. Tidak bisa]


[Ayolah, pak. Aku sangat membutuhkn uang itu sekarang. Untuk makan saja, masak tidak mau ngasih sih]


[Tidak bisa. Ini efek kamu jadi anak pembangkang dan tidak mau menuruti perkataan orangtua dari kemarin. Jadi rasakan akibatnya]


[Aduh, pak. Jangan bicarakan masalah itu. Yang penting tolong kirimkan uang dulu. Masalah itu dapat nyusul diselesaikan]


[Astaga, Bayu. Kamu masih tidak sadar saja atas kelakuan dan perbuatan kamu sendiri. Sampai kapanpun kami tidak akan mengirimi kamu uang. Lagian, kami tidak ingin pihak polisi mencurigai, sebab telah diam-diam membantu kamu. Suatu perbuatan salah maka harus menerima hukumannya juga, termasuk kamu telah menodai Jihan. Kemarin sudah aku peringatkan sebelum terlambat, tapi kamu malah kekuh tidak mau meminta maaf]


[Hadeh, bawel banget sih kamu, pak. Aku tidak butub ceramah, tapi uang kamu. Ya sudah, kalau kamu tidak mau membantu. Bikin panas saja telingaku]


Tut ... tut, langsung kumatikan gawai. Bukan dapat uang yang kuinginkan, tapi malah dapat ceramah yang merembet kemana-mana.


"Dasar tua bangka. Kalau tidak mau kasih uang bilang saja. Ini malah menasehati. Dasar orangtua, tidak tahu apa jika anakmu ini lagi kesusahan."


"Duh, uang menipis. Minta bantuan sama siapa ya?"

__ADS_1


"Aduh ... aduh, pusing banget dah ini kepala. Ini semua gara-gara kamu, Jihan. Hidupku jadi berantakan dan tidak punya apa-apa. Awas kamu."


__ADS_2