
Pagi -pagi sekali Lula sudah bersiap diri dengan penampilan yang sudah rapi, kemeja putih dan juga celana hitam.
Setelan kerja yang di gunakan pada umum nya orang untuk melamar pekerjaan.
Sebelum pergi, Lula memastikan lagi alamat yang akan dia tuju. Alamat yang di berikan oleh laki-laki yang baru saja dia kenal dari pasar malam semalam.
''Tidak terlalu jauh, '' Batin Lula, meraih tas dan map yang berisi syarat-syarat untuk melamar pekerjaan.
Dahulu Lula sudah pernah bekerja sebagai asisten seorang model yaitu Yollanda Amber.
Namun, setelah bos nya itu memutuskan untuk menikah kembali dengan mantan suami nya itu, dia kini menjadi pengangguran. Sudah beberapa kali juga dia melamar pekerjaan, dan sial nya dia selalu di tolak dengan berbagai alasan.
Sebelum keluar dari Apartemen milik bos nya itu, Lula menyempatkan waktu untuk bersarapan pagi sebentar demi mengganjal perut nya agar tidak lapar.
Dua sepotong roti bersama selai kacang atau mentega kacang. Tangan Lula bergerak cepat mengoles ke dalam potongan roti tersebut lalu memakan nya. Dan tidak lupa di temani oleh segelas susu putih yang masih hangat, yang berada di samping roti nya.
Di sisi yang berbeda, anak yang bernama Dio sudah bikin keributan di meja makan. Dari sejak bangun tidur, anak itu sudah merajuk dengan o om nya, Bian soal semalam.
__ADS_1
''Ayolah O om, Dio ingin sarapan pagi dengan wanita cantik yang semalam, dia sudah berjanji loh Om, pada Dio'' Suara khas anak kecil yang sedang merajuk.
Catatan Author nya sangat kesulitan menulis suara anak kecil yaðŸ¤
''Memang nya, semalam dia janji soal apa dengan kamu,? Cucu oma yang tampan.'' Tanya Oma Mira yang ikut kepo.
''Itu loh Oma, teman O Om mau menemani Dio bermain lagi hari ini. Tapi O Om nya tidak mengajak dia pulang ke rumah ini.'' Adu Dio dengan muka sedih.
''Dia cantik gak, '' Tanya Oma Mira lagi.
''Cantik Oma, aku suka bermain sama dia.'' Jujur Dio.
''Memang bukan, tetapi teman Papa Bian kan.'' Sahut Dio lagi yang tak mau ngalah.
Jangan pada bingung ya, kalau Dio memanggil Bian berbeda -beda. Terkadang Om Bian dan terkadang Papa Bian, tergantung mood Anak kecil, Dio.
''Gak juga Dio, '' Bian menahan kesal nya.
__ADS_1
''Sudah lah Bian, kamu aja yang ngalah. Toh, sampai sekarang kamu belum juga menikah. Siapa tau kamu dengan wanita yang di maksud Dio itu, kalian berjodoh.?'' Harap Mama Mira.
''Menikah lagi, menikah lagi, apa tidak ada topik lain, selain menikah ya Ma.? Hampir setiap hari loh Ma, Mama yang selalu menyuruhku cepat-cepat menikah.'' Ucap Bian, sambil mendengus kesal.
''Mama hanya mengingat kan kamu, Bian, tidak lebih. Kalau umur kamu hampir dua puluh lima tahun. '' Gerutu Mama Mira.
''Mama tidak lupa kan, kalau aku ini masih kuliah, belum juga bekerja.'' Jawab Bian.
''Kalau menunggu kamu lulus kuliah, sampai kapan Bian.?'' Dulu kamu sekolah SMA aja memakan waktu lima tahun. Apa lagi kuliah kamu,? Yang nanti nya kamu akan ke buru tua.'' Lanjut nya.
''Kalau kamu masih takut, tidak bisa menafkahi istri kamu nanti nya, biar Mama yang membantu kamu mengelola Cafe milik kakak kamu itu.''
''Sama aja Ma, Bian belum siap untuk menikah.'' Bian kembali menolak.
''Kalian berdua ini, kenapa sih pagi-pagi sudah bikin keributan di meja makan. ?''
''Anak Papa tuh, selalu membantah Mama.''
__ADS_1
''Mama aja yang selalu menyuruh Bian cepat menikah, '' Sahut Bian cepat.