
Sepanjang perjalan membelah ibu Kota J, kian malam semakin ramai dengan kendaraan. Dan juga semakin banyak gedung-gedung yang menjulang tinggi setiap sisi jalan.
Yolla menatap ke arah luar jendela sejak masuk kedalam mobil suami nya itu.
Sedangkan Arka sesekali melirik ke arah istri nya yang diam membisu sejak tadi.
Dia gak suka dengan susana seperti ini. Satu mobil bersama istri nya namun terasa satu mobil bersama orang asing yang tidak saling mengenal.
Dengan sedikit ragu Arka memberanikan diri meraih tangan istri nya. Kemudian membawa ke arah bibir nya berlalu mengecup nya beberapa kali. ''Bisa tidak kita baikan, aku kangen dengan Yolla ku.''
''Siapa bilang kita bertengkar, kalau kita bertengkar gak mungkinkan kita berdua satu mobil.'' Ketus Yolla.
''Kasih tau aku, apa yang harus aku lakukan supaya kita baikan.?''
Yolla melirik suami nya sekilas, dan berlalu menghadap ke luar jendela lagi.
Mobil Arka berbelok ke salah satu Cafe dekat dengan taman Kota.
''Kita sudah sampai,''
''Kamu mau membeli kopi, ?'' Kata Yolla bertanya.
''Enggak, kita ke sini ingin bertemu dengan Maya, Maya bisa menjelaskan hubungan antara kita berdua yang hanya sahabat, tidak lebih.''
''Maya, '' Ulang Yolla lagi.
''Iya Maya, biar ke salah paham di antara kita selesai.''
Yolla mengangguk, ''Baiklah,'' Mungkin dengan begini keraguan dia terhadap suami nya itu, bisa sedikit berkurang, pikir Yolla turun dari mobil suami nya.
''Ya udah kita masuk sekarang, mungkin Maya sudah menunggu kita berdua.'' Ajak Arka menggenggam tangan istrinya begitu erat, seakan tidak ingin kehilangan.
''Ini di luar, apa Mas akan menggenggam tangan ku seperti ini.''
''Keluarga ku sudah mengetahui nya, buat apa kita harus bersembunyi terus-menerus.'' Ucap Arka, tetap berjalan masuk ke Cafe tersebut.
Dari kejauhan Yolla sudah melihat, seorang wanita cantik yang duduk sendirian di salah satu meja Cafe tersebut.
Dia memang cantik nan manis, tak salah jika semua laki-laki banyak yang menyukai diri nya. Bahkan, dahulu Mama Dania saja selalu memuji nya di depan ku dengan terang-terangan.
__ADS_1
''Ah, Yolla, Yolla, kenapa kamu mudah sekali teringat soal Mama Dania saat memuji kecantikan Maya.?'' Pikir Yolla kesal.
Bahkan suami mu sendiri dulu juga begitu.
Berselingkuh.
Tidak.
Ah, dia tak yakin.
Mengingat berat badan nya yang kini naik hampir dua kilo, apa dia masih cantik.? Pikir Yolla.
Naik dua kilo, sejak kapan dia menyukai makan hingga naik sebanyak itu.? Heran Yolla.
''Ah, kalian sudah datang. Duduk lah, aku sudah menyiapkan sup yang aku bawa tadi dari rumah.'' Ucap Maya santai dengan menampilkan senyuman manis nya.
Sudut bibir Yolla sedikit terangkat ke tas, tanpa ada yang tau.''Dari rumah, '' Batin Yolla.
''Iyah, sebentar.'' Jawab Arka.
Arka melangkah menjauh mengambil satu kursi lagi dari meja lain, untuk istri nya.
''Nanti aja, nunggu suami.'' Jawab Yolla cuek, sekaligus memperhatikan raut wajah Maya, ada perubahan atau tidak.
Dan benar saja, tebakan nya, Maya sedikit terkejut mendengar jawaban dariku.
Maya terkekeh geli, ''Bukan nya, dulu kamu bercerai karena tidak tahan pernikahan kalian tanpa cinta, dan berujung perselingkuhan. Dan sekarang kamu bilang suami, aku gak salah mendengar nya, bukan.'' Tersenyum manis, dan bagi Yolla senyuman itu terkesan mengejek.
''Duduk lah, '' Menarik kursi untuk istri nya Yolla.
Yolla bergerak langsung duduk, setelah Arka menyuruh nya. Setelah istri nya duduk, Arka melayangkan kecupan singkat di pelipis Yolla.
Dan itu mampu membuat Yolla tersenyum lebar di dalam hati nya.
Berbeda lagi dengan Maya, yang terlihat tak suka melihat hal seperti itu.
''May, ini Yolla _______''
''Aku tidak lupa Arka.'' Potong Maya.
__ADS_1
Arka mengangguk, ''Dan ini Maya, '' Beritahu Arka ke pada istri nya.
Yolla mengangguk, ''Salam kenal, aku Yolla.'' Ucap Yolla mengulurkan salah satu tangan nya.
Maya menerima uluran tangan dari Yolla, ''Aku Maya, senang bertemu dengan mu.''
Yolla terseyum tipis.
Setelah selesai berbasa-basi, Maya mengambil piring yang di sediakan dari Cafe, dan bergerak lihai mengambil nasi serta lauk nya.
''Ini untuk mu, makan lah.'' Maya menyodorkan satu piring yang sudah lengkap isi nya, ke pada Arka.
Seketika Arka dan Yolla sekilas saling pandang.
Yolla bisa melihat, kalau suami nya itu sedikit ragu menerima piring dari Maya.
''Gak apa-apakan May, aku kasih ke Yolla.?'' Ucap Arka menaruh piring tersebut di depan Yolla istri nya.
''Tidak apa-______'' Sahut Maya, namun sudah di potong cepat oleh Yolla terlebih dulu.
''Gak perlu Mas, aku tidak terlalu suka dengan sup. Lagian, Maya tadi mengambilkan makanan nya hanya untuk Mas loh. '' Tolak Yolla halus.
''Tapi_____''
''Biar aku pesan dari Cafe saja,'' Mengangkat satu tangan, memanggil pelayan Cafe.
''Ada yang bisa ku bantu Nona.?'' Sapa sang pelayan.
''Buku menu, ''
''Oh iya maaf, ini buku menu nya.'' Pelayan yang datang tadi, langsung memberikan buku menu ke pada Yolla.
''Aku pesan potato wedges dan Milk tea satu.''
''Apa masih ada yang lain,'' Pelayan itu menatap ke arah Arka dan juga Maya secara bergantian.
''Tidak Mbak, mereka berdua sudah membawa sendiri dari rumah.'' Jawab Yolla jujur, memang kenyataan nya seperti itu.
Perbedaan yang paling mencolok antara potato wedges dan kentang goreng biasa adalah bentuk atau ukuran potongannya.
__ADS_1
Kentang goreng juga jadi salah satu menu makanan populer yang dijual di cafe. Namun bukan kentang goreng biasa, umumnya cafe akan menyajikan menu ini dalam bentuk potato wedges