
''Jangan lupa, setelah ini ada operasi jam dua belas siang. Lebih baik kamu makan siang lebih dulu sebelum masuk ke ruang operasi. Biasa nya waktu operasi tidak menentu selesai nya kapan. ? Aku tunggu kamu di ruang operasi tiga puluh lima menit lagi.'' Ucap Prof Herman sehabis selesai di poli, setengah jam yang lalu sebelum berpisah, itu pesan dari prof Herman kepada nya.
''Siap Prof, '' Jawab Yolla.
Akhir nya, Yolla yang hendak pergi ke Rooftop dia urungkan. Kini diri nya berbelok ke arah kantin untuk makan siang, mau tidak mau dia harus mau makan.
Karena operasi yang biasa nya berjalan sangat lama hingga memakan waktu tiga jam lebih.
''Semoga operasi kali ini tidak terlalu lama, '' Gumam Yolla. yang berharap operasi nya tidak akan lama. Sebeb saat ini tubuh Yolla terasa tidak sehat, dia butuh istirahat. Badahal tadi pagi dia sehat-sehat aja, berbeda lagi dengan sekarang ini yang merasa tubuh nya panas dingin.
Saat tiba di kantin, Yolla bertemu dengan salah satu Dokter muda yang cukup tampan yang nama nya Dokter Dimas. Yang masih juga merupakan sahabat dari suami nya itu, cerita dari Prof Herman sih.
''Siang Dok, '' Sapa Yolla.
''Siang, '' Jawab Dokter Dimas, kemudian dia menoleh di sekitar nya.
''Duduk di sini aja, !'' Tawar nya saat melihat meja lain penuh.
''Boleh Dok, ?'' Tanya Yolla lagi yang masih sungkan duduk dengan senior nya itu.
''Why not? Ini tempat umum, lagi pula meja lain penuh. Kamu mau duduk di sebelah mana lagi, kalau bukan di sini, ?'' Ucap Dokter Dimas santai.
__ADS_1
Yolla pun senang bisa mendapatkan tempat duduk untuk makan. Badahal dia hanya berniat menyapa sebagai senior nya, bukan maksud yang lain.
''Terima kasih Dokter Dimas, '' Ucap Yolla yang pada akhir nya dia duduk satu meja dengan Dokter Dimas. Tetapi Yolla tidak duduk di hadapan Dokter Dimas karena terlalu sungkan.
Saat mereka berbincang-bincang, tiba-tiba Arka muncul sambil membawa nampan berisi makanan.
''Lagi gak sibuk, Dokter Dimas ? Tanya Arka, Dia yang bertanya pada Dokter Dimas namun mata nya melirik ke arah Yolla istri nya.
Bahkan Arka duduk di samping Dokter Dimas yang berhadapan langsung dengan Yolla istri nya.
Seketika Yolla di buat gugup setengah mati.
''Eh, Dokter Arka, tumben makan siang di kantin, ? Apa lagi gak sibuk?'' Ledek Dokter Dimas, badahal mereka berdua sering menyebutkan nama aja ketika lagi berkumpul seperti ini.
Dia memang dengan sengaja makan di kantin, karena tadi dia melihat Yolla istri nya sedang duduk dengan laki-laki lain selain diri nya.
Dan biasa nya Arka selalu meminta makan siang nya di antar ke ruang kerja nya.
Mendapatkan sindiran dari Dokter Arka, Dokter Dimas tersenyum kaku, ''Memang nya hari ini kamu tidak ada jadwal operasi ya, ?'' Tanya Dokter Dimas lagi, badahal dia sudah tau kalau Dokter Arka selalu ada operasi.
''Iya ada, mungkin tiga puluh menit lagi bersama prof Herman.'' Jawab Arka santai tanpa beban di pundak nya ketika melakukan operasi.
__ADS_1
Yolla pun merasa tersindir karena dirinya belum bersiap.
''Hebat memang Dokter kita satu ini, mau operasi aja masih bisa santai seperti ini. '' Puji Dokter Dimas sambil merangkul bahu Dokter Arka.
''Terus, mau bagaimana lagi,? Semedi. '' Jawab Arka menatap intens Yolla istri nya.
''Biasa nya sih gitu, paling gak lurus kan badan dulu biar gak pegel saat operasi. Kan waktu nya tidak menentu selesai nya kapan? Bila lama tuh leher bisa kaku. '' Ucap Dokter Dimas.
''Kalau pegel kan, tinggal meminta istri untuk memijat nya, '' Jawab Arkan santai membuat Yolla tersedak makanan nya.
Uhuk
Uhuk
''Minum dulu Dokter Yolla, jangan terlalu buru-buru masih ada waktu.'' Arka menyodorkan satu gelas air minuman nya.
Dimas mengerutkan keningnya saat melihat perhatian sahabat nya pada seorang wanita, ''Kamu sudah menikah, dengan siapa,?'' Tanya Dokter Dimas mulai kepo.
''Hmm______'' Arka bingung harus menjawab apa, ?
''Sejak kapan. ? Bukan nya kamu sedang menunggu mantan istri mu.'' Lanjut Dokter Dimas yang merasa heran, setau dia kalau sahabat nya ini sudah bucin ama mantan istri nya. Di dekati wanita aja selalu di tolak sebelum berjuang.
__ADS_1
Yolla tercengang saat mendengar ungkapan dari Dokter Dimas.
''Kalau bertanya satu-satu, jangan di borong semua nya, '' Arka mendengus kesal.