Mantan Suami

Mantan Suami
# 85


__ADS_3

''Kejarlah, mungkin laki-laki itu kurang peka apa yang kamu rasakan.? Karena tidak semua laki-laki bisa mengerti, bagaimana ke inginkan seorang wanita.? Coba kamu berbicara dengan dia hati dari hati, apa yang kamu rasakan, ? Apa yang kamu mau, ?Utarakan secara pelan-pelan dengan hati yang dingin.''


''Ada hal yang tak bisa dipendam, yaitu rasa amarah yang teramat.''


''Amarah tetanam karena tak suka, milik nya diganggu oleh orang lain.''


''Semakin menjadi ketika berulang kembali.''


''Kumpulan marah sangat berbahaya, karena logika tak lagi akan bekerja.


Semua akan dilakukan, demi luapnya amarah di dada.''


Selama di perjalanan menuju ke rumah suami nya, Yolla memejamkan ke dua mata nya dengan punggung bersandar di kursi penumpang di salah satu mobil taksi.


Ucapan yang keluar dari mulut Bian kini terus berputar seperti lagu yang sedang di mainkan.


Yolla keluar dari Caffe tersebut, tepat pukul sepuluh malam. Sebab, ada sedikit drama dari anak kecil yang bernama Dio.


Dengan terpaksa Yolla ikut masuk ke dalam mobil Bian, hingga sampai ke rumah yang di tempati oleh Dio dan Bian. Bian juga sudah mati-matian memaksa Yolla agar mau di antar oleh Bian. Mengingat ini hampir tengah malam.


Yolla yang butuh waktu buat sendiri, dengan sedikit keras menolak kebaikan dari laki-laki yang pernah mengisi hati nya. Namun itu hanya sebuah masa lalu nya, masa lalu yang sudah lama tutup buku, meskipun isi bab nya hanya sedikit.


Ada rasa sedikit ke khawatiran di hati Yolla ketika mengingat.


''Kumpulan marah sangat berbahaya, karena logika tak lagi akan bekerja. Semua akan dilakukan, demi luapnya amarah di dada.''


''Mas Arka tidak mungkin kan, menyetir dengan kecepatan tinggi.'' Batin Yolla bercambuk, dia ingin sekali menghubungi suami nya itu, Namun.

__ADS_1


''Ah, lupakan Yolla.'' Batin Yolla kesal mengingat kejadian di Caffe tadi.


''Sudah sampai neng, '' Beritahu sang supir taksi tersebut. Dengan menatap sang penumpang nya dari pantulan kaca di samping bagian atas.


Tubuh Yolla mulai bergerak, bangun dari sandaran kursi yang sejak tadi membawa nya sedikit ketenangan.


Yolla melesat cepat turun dari mobil taksi tersebut dan segera masuk ke dalam rumah, yang di tempati selama rujuk kembali bersama mantan suami nya itu. Yolla berharap sekali, suami nya itu saat ini pulang ke rumah malam ini.


''Terima kasih neng,'' Ucap sang supir taksi, namun sang penumpang nya sudah pergi menjauh dari mobil ya.


...****************...


Belum sempat memanggil satpam menjaga gerbang, laki-laki yang berbadan kekar itu sudah lebih dulu membuka kan pintu gerbang untuk nya.


''Silakan Nyonya, ''


''Nyonya,'' Yolla menaikan ujung alis nya ke atas, ''Kok Nyonya,'' Protes Yolla.


Yolla menghela nafas panjang sebelum bertanya. ''Apa tuan kalian pulang ke rumah ini.?''


Satpam menggeleng cepat, ''Tidak Nyonya, malam ini Tuan Arka belum pulang, mungkin belum.'' Kalimat yang terakhir sedikit ragu..


''Jangan berharap lebih, '' Pikir Yolla.


Yolla melirik sekilas lagi, ke arah jam kecil yang berada di pergelangan tangan nya, yang sedang dia pakai saat ini. Jam sudah menunjukan pukul sebelas malam lebih beberapa menit.''Aku masuk dulu.'' Izin Yolla dengan wajah sendu nya. ''Jangan berharap, kalau suami kamu akan pulang ke rumah ini, Yolla.'' Pikir Yolla kembali, membiarkan ke dua kaki nya membawa tubuh nya masuk ke dalam.


Tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia, Yolla segera berganti baju yang dia pakai dengan baju tidur nya. Yang berlengan panjang mendominasi warna merah hati polos tanpa ada motif sedikit pun.

__ADS_1


Satu tangan nya bergerak mengambil baju kotor yang tergeletak di atas lantai. Membuang kasar ke arah keranjang di sudut ruang pengganti.


Dengan cepat Yolla melesat naik ke atas ranjang, menarik selimut menutupi seluruh tubuh nya tanpa terlihat sedikit.


DI RUMAH SAKIT.


Arka diam membisu di barisan kursi penunggu pasien di lorong Rumah Sakit.


Tak ingin masuk ke dalam, yang di mana Mama Dania di rawat.? Sebelum pikiran nya lebih tenang. Satu jam lebih dia meninggalkan Caffe tersebut. Namun sampai sekarang ini istri nya belum juga pulang ke rumah.


Pikiran buruk terus menghantui pikiran nya, bayangan yang dulu dia lakukan bersama Maya kembali muncul, meskipun hanya berakting.


''Apa ini yang kamu rasakan dulu, sayang.? Meskipun hanya berakting, namun sakit hati ini sampai begini.'' Mengusap wajah nya dengan kasar karena frustasi.


Gerakan yang di lakukan oleh Arka, tak luput dari Papa Bagio yang berdiri diam di depan pintu tanpa sepengetahuan dari putra nya itu.


''Apa hubungan mu dengan Yolla belum membaik. ?'' Ucap Papa Bagio tiba-tiba, yang ikut duduk di samping putra nya itu.


Arka menoleh cepat ke arah samping, yang di mana Papa nya ikut duduk. ''Belum, justru semakin buruk. '' Jawab Arka lemah.


''Kenapa bisa seperti itu, ?'' Papa Bagio menaikan ujung alis nya, yang merasa heran. Hubungan pernikahan yang pertama dengan orang yang sama telah gagal. Dan kini mereka berdua memutuskan kembali rujuk, masa mereka berdua harus gagal lagi.


''Ada masalah apa lagi, hingga semakin memburuk.?''


Arka menceritakan semua nya, apa yang terjadi belakangan ini dalam rumah tangga nya. ? Tanpa terlewatkan. Arka juga menceritakan kejadian di Caffe beberapa jam yang lalu.


Papa Bagio menggeleng cepat, ''Kamu yang tidak peka dengan istri kamu Arka. Istri mana yang tidak marah dengan sikap kamu yang berlebihan dengan sahabat kamu. Apa lagi wanita, wanita yang pernah berakting berselingkuh dengan kamu.?'' Papa Bagio mendengus kesal.

__ADS_1


''Dia wanita, yang pasti nya dia akan cemburu melihat kedekatan kamu, suami nya dengan wanita lain. Meskipun itu hanya sahabat kamu sendiri, Arkana. '' Gemas Papa Bagio. yang rasa nya ingin sekali memukul otak putra nya biar bekerja dengan benar.


Arka bungkam seketika,


__ADS_2