
Beberapa jam kemudian, Prof Herman sudah menyeselesaikan operasi nya dengan lancar.
''Kamu yang jait ya, '' Perintah Prof Herman langsung ke pada Yolla.
Membuat Yolla terperanjat, ''Ini serius, selama yang dia tau. Prof Herman sangat jarang membiarkan Dokter muda untuk menjait pasien dalam operasi. Sehingga dia merasa saat ini sedang di uji oleh Prof Herman.
''Saya Prof, ?'' Tanya Yolla lagi untuk memastikan, mungkin pendengaran nya tadi salah.
''Terus siapa, ? Masa saya Dokter Yolla. ''Sahut Arka cepat, yang kini berada di samping Yolla. Sedangkan Prof Herman berada di depan Yolla.
''Oh bukan itu maksud ku, ok baiklah.'' Jawab Yolla gugup.
''Kalau Dokter Yolla belum siap, biar kan saya saja Prof. '' Jawab Dokter residen yang juga ikut operasi.
''Prof Herman meminta Dokter Yolla yang menjait nya, bukan kamu.'' Jawab Arka cepat membuat Prof Herman menggeleng kuat melihat sikap Arka yang terlalu menohok.
Akhir nya, Dokter residen itu pun terdiam, ''Sialan si Yolla, apa sih hebat nya dia,? Yang mampu ngalahin aku di sini. '' Umpat Dokter wanita yang cantik tersebut.
Dengan perlahan Yolla mulai mengambil peralatan dan mulai menjait.
Biasa nya Prof Herman langsung pergi dari ruang operasi. Kali ini dia masih stand by di ruang tersebut. Begitu pun yang di lakukan oleh Arka.
Prof Herman, sungguh-sungguh memantau Yolla agar tidak ada kesalahan.
''Jangan tegang, santai saja, '' Ucap Arka dari samping.
Bagaimana tidak tegang,? Keberadaan Arka yang sangat dekat membuat dia berkeringat dingin.
Tangan Yolla terlihat gemetaran saat menarik benang. Arka yang gemas melihat nya pun turun tangan.
__ADS_1
''Bukan begitu, '' Ucapa nya, kemudian dia berdiri ke belakang Yolla berlalu mengungkung nya. Dengan perlahan Arka memegangi ke dua tangan Yolla dari belakang.
Sedangkan Prof Herman yang memperhatikan nya, mampu tersenyum tipis sambil menggeleng pelan.
''Dasar modus, ''
DEG
Tubuh Yolla membeku kala Arka mengungkung nya dari arah belakang. Apa lagi saat ini tangan nya di genggam oleh nya . ?
Bukan hanya Yolla, seluruh orang yang berada di ruang operasi tersebut, di buat terkejut.
Ini hal pertama kali mereka yang melihat Dokter Arka seperti itu. Bahkan, selama ini Dokter Arka yang tak pernah ingin di sentuh oleh orang lain.
Nafas Yolla tercekat, aroma tubuh Arka menguar hingga ke hidung nya.
Dengan usaha nya sejak tadi, kini Yolla mampu melemaskan dan tidak tegang lagi. Meskipun sebenarnya yang lemas sekarang ini lebih ke lutut nya.
''Ini ke sini, lalu tarik ke sini, '' Ucap Arka mengarahkan. Kemudian dia tarik menarik benang setelah mengaitkan nya. Tangan Yolla pun ikut terangkat kala Arka menarik benang nya.
''Tolong di ingat baik-baik Dokter Yolla, bukan begitu Prof Herman.'' Tanya Arka pada Om nya itu.
Prof Herman mengangguk cepat. ''Iya, ''
''Baik Dok, dan juga Prof. ''
''Ok, sekarang kamu yang lanjut kan. '' Titah Profesor Herman. Kemudian Arka melepaskan tangan Yolla yang tadi dia pegang. Namun dia masih berdiri di belakang Yolla, seolah tidak ingin beralih dari tempat nya.
Sedangkan Prof Herman lebih fokus ke arah Yolla yang sedang menjait.
__ADS_1
''Ya benar, ok lanjutkan. '' Puji Prof Herman. yang sengaja tidak beralih dari tempat nya, karena dia tidak ingin ada kesalahan yang di perbuat oleh Dokter muda.
Yolla cukup lancar dalam hal menjait. Membuat Prof Herman tersenyum lebar.
''Apa kamu bisa membuat simpul, ?'' Tanya Prof Herman saat Yolla telah menyelesaikan jaitan terakhir.
'' Insya Allah bisa Prof. '' Jawab Yolla yakin.
Yolla berusaha membuat simpul sekecil mungkin, Prof Herman memperhatikan nya dengan seksama. Menunggu lima menit, Yolla berhasil dengan sempurna.
''Cukup memuaskan Dokter Yolla, '' Puji Prof Herman lagi, membuat Yolla tersenyum senang.
''Pertahankan ok, '' Ucap Prof berlalu pergi bersama Dokter Arka.
''Huuh, akhir nya selesai juga, '' Lirih nya bernafas lega.
Saat Yolla menoleh, dia mendapatkan tatapan sinis dari Dokter residen yang sejak tadi kesal ke pada nya.
''Hebat ya masih koas sudah bisa jait.'' Sindir Dokter tersebut.
''Tapi lebih hebat nya lagi, di ajari langsung oleh Prof Herman.'' Timpal seorang perawat.
Yolla tersenyum getir, dia yang tidak pernah meminta hal itu. tetapi dia yang disudutkan oleh mereka.
''Duh, orang iri memang susah di mengerti.'' Gumam nya berlalu ingin keluar.
''Di tambah perhatian khusus, jadi besar kepala ini orang'' Sinis nya berjalan mendahului Yolla.
Yolla tak perduli, dia melirik jam dinding di ruangan tersebut, ''Tak terasa sudah dua jam lebih di ruangan operasi ini.'' Gumam Yolla berlalu keluar dari ruang operasi tersebut.
__ADS_1