
Di penginapan Guan Luan...
Zi Wan yang sedang menyesap teh sembari melihat pemandangan kota di depanya, tiba-tiba ia tersenyum.
"Sepertinya ada orang yang akan mencari kematian denganku." Gumamnya denga mengetuk ngetuk cangkir tehnya di meja.
Sesaat kemudian terdengar ketukan pintu dari luar kamar Zi Wan, Zi Wan yang berada di balkonya ia lalu berdiri dan berjalan membukakan pintu itu.
Terlihat dua wanita cantik yang sedang menatapnya dengan tatapan memuja, ya siapa lagi kalau buka Yan Li dan arthena, mereka berdua telah sepakat untuk tidak bertengkar lagi dan siap untuk berbagi Zi Wan, karena mereka berpikir orang seperti Zi Wan tidak bisa jika hanya terikat oleh satu wanita saja.
Zi Wan mengerutkan keningnya saat melihat keduanya, lalu dengan pelan ia menutup pintunya kembali mengacuhkan keduanya.
"Guru tolong buka pintunya, kita berjanji tidak akan mengganggu guru lagi." Mohon Yan Li yang berada di luar.
"Hah... mereka berdua memang menjengkelkan." Gumamnya.
"Masuklah." Ucap Zi Wan singkat lalu mereka berdua membuka pintu kamar Zi Wan.
"Jadi apakah ada yang perlu kalian katakan padaku." kata Zi Wan yang sedang duduk di balkonya tanpa memandang mereka.
"Guru... aku hanya ingin menemani guru saja." Ucap Yan Li sedikit gugup.
"Aku Juga." Tambah Arthena.
"Baiklah, kalau begitu duduklah temani aku di sini." Zi Wan mempersilahkan mereka duduk di kursi yang kebetulan tersisa 2 kursi di sana.
Melihat pria pujaan mereka memepersilahkan duduk mereka berdua dengan tergesa gesa duduk di sana.
"Guru... apakah guru sedang sedih." Tanya Yan Li yang melihat wajah Zi Wan yang sepertinya sedang sedih.
"Tidak." Ucap Zi Wan menyangkalnya.
"Guru, kamu jangan berbohong,aku tahu jika guru sedang sedih, kalau guru ingin menceritakan apa yang guru alami guru bisa menceritakan pada kami, Kami pasti akan mendengarnya dengan senang hati." Ucap Yan Li.
__ADS_1
Zi Wan disisi lain hanya terdiam, ia tidak mungkin menceritakan kepada mereka berdua tentang apa yang ia sedihkan.
Melihat gurunya tetap acuh Yan Li hanya tersenyum, Sedangkan arthena hanya diam di sana memandangi Zi Wan dengan tatapan penub arti.
"Guru, aku mencintaimu." Ucap Yan Li berdiri dari tempat duduknya lalu memeluk Zi Wan.
Melihat itu Zi Wan tersentak kaget, ini benar benar di luar dugaanya, tapi ketika Yan Li mengatakan itu entah kenapa ia merasakan perasaan nyaman yang tak terkira di hatinya, ia belum pernah merasakan di perhatikan oleh wanita seperti ini, walaupun di dulunya sangat iuat dan tampan tapi semua orang jarang ada yang menyukainya karena sifatnya dulu yang sering menganggu.
Tak mau kalah Arthena juga berdiri lalu memeluk Zi Wan.
"Aku juga mencintaiju tuan." Ucapnya memeluk Zi Wan.
"Bisakah kalian melepaskanku, Gunung kalian menghimpitku." Ucap Zi Wan yang merasakan dua gunung besar yang sedang menghimpitnya.
Mendengar itu mereka melepaskan pelukanya dengan wajah memerah karena malu, mereka tidak menyangka bahwa mereka telah menyatakan perasaan mereka pada Zi Wan.
Tapi dengan begitu mereka juga lega karena telah mengutarakan perasaan mereka padanya, walaupun Zi Wan tidak menanggapinya setidaknya mereka lega karena sudah bisa mengutarakan perasaan mereka.
"Guru siapa yang datang."Tanya Yan Li penasaran.
"Dia adalah kakak dari orang yang kalian bunuh tadi." Jawab Zi Wan.
"Cih beraninya mereka, apakah mereka ingin berurusan dengan kita."Ucap Arthena yang tiba tiba saja geram dengan rasnya sendiri.
"Mungkin mereka sedang mencari kematian, Saudari mari kita temui mereka dan beri pelajaran pada mereka karena mereka sudah mengganggu ketenangan Tuan Wan." Kata Arthena yang terlihat sangat marah.
"Mari kita tunjukan bagaimana akibatnya jika seseorang menyinggung kami." Ucap Yan Li.
Mereka bertiga lalu turun dari balkon menuju ke gerbang penginapan, mereka bertiga menarik perhatian banyak orang karena paras ketiganya yang sangat cantik dan tampan.
"Siapa yang membunuh adiku, cepat tunjukan dirimu atau aku akan mrnghancurkanmu." Tanya Yang Bu berteriak ke penginapan Guan Luan.
"Hei kenapa kau ribut, aku disini, jangan kira telinga kami tuli." Ucap Yan Li.
__ADS_1
Mendengar suara kemarahan yang anggun dan penuh kesombongan yang bu menoleh ke arahnya dan melihat dua orang wanita cantik yang berjalan beriringan dengan satu pria tampan dengan mereka berdua yang menggandeng lengan kiri dan kanan Zi wan.
Yang Bu melihat kedua cantik itu ia tahu bahwa merekalah yang telah membunuh adiknya, karena ia pernah melihat di giok perekam bahwa memang dua wanita inilah yang membunuh adiknya dengan kejam.
"Hehe wanita cantik, cepat kemarilah dan tunduklah padaku maka aku akan mengampunimu dan mungkin kalian berdua bisa menjadi istriku." Ucap Yang Bu kepada Yan Li dan Arthena.
"Menjadikan kami istrimu, jangan mimpi dengan hanya kekuatan ranah kaisar tingkat 5-6 kau bahkan tidak memenuhi syarat untuk berjalan denganku." Ucap kedua wanita itu dengan sangat marah.
"Kalian masih baik aku ingin menjadikan kalian sebagai istriku tetapi kalian malah menolaknya, apakah kalian tahu akibat dari menolaku." kata Yang Bu sangat marah karena ini adalah pertama kali dirinya di tolak oleh wanita.
"Kalian semua serang....."Ucap Yang Bu menyuruh para pasukan bajak laut untuk membunuh mereka.
Melihat itu Yan Li dan Arthena hanya menggerakan tanganya seketika semua orang disana menunduk terjatuh di tanah, bahkan Yang Bu yang tadinya percaya diri langsung pucat karena mengetahui bahwa aura kekuatan mereka sduah mencapai alam naga.
" Ini bagaimana kedua wanita ini adalah kultivator di alam naga." Tanya Yang Bu terkejut.
"Jadi apakah kau masih mau melanjutkan ini." Ucap Yan Li menggerakan tanganya seketika yang bu terpental hingga beberapa tulangnya rusak.
"Cih,hanya kalian saja, tunggu saja tuan kami datang kemari pasti kalian berdua tidak akan bisa lepas dari mereka." Ucap Yang Bu yang ingin pergi.
"eh kau mau pergi kemana, setelah mengacaukan hariku menurutmu apakah aku akan membiarkanmu pergi ." Ucap Zi Wan yang langsung menekan punggung Yang Bu yang langsung terlentang di tanah.
"Hahaha, menurutmu aku takut padamu." Ucap Yang Bu mengeluarkan sebuah artefak dari cincin penyimpananya lalu ia membenturkanya ketanah seketika terbentuklah array teleportasi.
Tapi Zi Wan yang sudah mengetahui itu ia langsung menyegel ruang di sekitanya sehingga array itu tidak berfungsi sama sekali.
Melihat itu Yang Bu menjadi sangat panik, Ia berulang kali menekan token giok berharap tuanya akan datang menyelamatkanya, tapi tokennya sama sekali tidak meresponya.
"Apakah kau sudah selesai, kalau sudah cepat katakan selamat tinggal kepada dunia ini." Ucap Zi Wan langsung meledakan kepala Yang Bu.
.. .................
BERSAMBUNGG...
__ADS_1