
Talisha menolak ajakan makan siang Mama Lidya karena ia tak mau dipengaruhi wanita itu.
Jadi, malam ini selesai makan ia menunggu suaminya di ruang televisi. Talisha terus melihat jam dinding. Namun, suaminya belum juga pulang. Rasa kantuk mulai menyerang tetapi tetap ditahannya.
Pukul 9 malam, Ezaz pulang dengan pakaian berantakan dan wajah penuh lebam. Talisha menatap heran suaminya itu.
"Apa yang terjadi denganmu?" Tanya Talisha.
"Bukan urusanmu," Ezaz berjalan melewati istrinya.
"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Tapi, ku hanya ingin memberitahu jika Mama Lidya mengizinkan aku bekerja di perusahaan," ujar Talisha menatap punggung suaminya.
Ezaz tersenyum senang, ia lalu membalikkan tubuhnya. "Besok aku akan mengajarimu mengenai bisnis!"
"Terima kasih," Talisha pun berlalu ke kamarnya.
Ezaz pun juga pergi ke kamarnya membersihkan diri.
-
Talisha terbangun ketika jam masih menunjukkan pukul 11 malam. Ia meraih gelas di nakas dan meminumnya. Karena sudah habis, ia pun keluar kamar mengambil air putih.
Baru beberapa langkah dari kamarnya, Talisha mendengar sesuatu dari arah ruang dapur. Dengan memberanikan diri, ia mendekati asal suara. Ia melihat suaminya sedang berusaha mengobati luka di wajahnya.
Ezaz tak menyadari keberadaan istrinya.
"Apa aku boleh membantumu?" Talisha menawarkan diri.
Ezaz tersentak kaget lalu menoleh.
"Maaf, membuatmu terkejut," Talisha menarik kursi di samping suaminya dan duduk di sebelahnya.
"Kenapa kau di sini?"
"Ya, karena aku tinggal di sini."
"Maksudku, kenapa kau tidak tidur?"
"Aku tadi terbangun karena haus dan ku lihat minuman habis jadi ku pergi ke dapur untuk mengambil air putih."
"Oh."
Talisha merampas kapas dan alkohol dari tangan suaminya. Lalu, membantunya mengobatinya. "Tak perlu ragu untuk meminta bantuan. Itu tidak akan membuat harga dirimu jatuh!"
Ezaz memperhatikan wajah istrinya yang fokus membersihkan dan mengoleskan salep luka.
"Jangan memandangku seperti itu, nanti kau akan jatuh cinta padaku," sindir Talisha.
Ezaz membuang wajahnya.
"Kau seperti anak kecil, pulang-pulang sudah babak belur. Apa ada seseorang yang telah membuatmu begini?"
"Jangan pernah mengurusi urusanku, Talisha!" Menekankan kata-katanya.
"Ya, maaf." Talisha selesai mengobati suaminya.
"Terima kasih," ucapnya.
"Ya, sama-sama." Talisha berdiri lalu menuangkan air ke dalam gelasnya kemudian berjalan kembali ke kamarnya.
.....................................
__ADS_1
Talisha dan Ezaz keluar dari kamar bersamaan, wanita itu melemparkan senyumnya kepada suaminya walaupun tak mendapatkan balasan.
Tak ingin mempermasalahkannya, ia mengikuti langkah suaminya ke ruang makan.
"Kau mau ke mana dengan pakaian rapi seperti itu?"
"Aku mau pergi ke kantormu," jawab Lisha santai.
"Untuk apa?"
"Anggap saja aku ini siswamu."
"Apa kau serius ingin belajar berbisnis?"
"Ya," Talisha menggigit roti isi selai strawberry lalu mengunyahnya.
Ezaz menyeruput tehnya.
"Kau tidak suka aku belajar di kantormu?"
"Suka tidak suka, aku telah berjanji padamu," jawab Ezaz.
"Ya, kau memang harus menepati janjimu!"
"Aku bukan tipe pria yang suka mengingkari janji," ujarnya bangga.
"Baguslah, itu salah satu yang membuatmu begitu menarik di mataku," celetuk Talisha.
"Tapi, kau tak begitu menarik di mataku," balas Ezaz.
"Benarkah? Sampai kapankah kau akan bertahan dengan ucapanmu itu?"
"Sudah kukatakan, kalau aku pria yang memegang ucapan."
-
EA Grup
Seluruh karyawan menunduk hormat ketika berpapasan dengan suami istri itu, Talisha membalas sapaan dengan melemparkan senyuman.
Karyawan begitu menyukai sosok istri dari atasannya itu. Selain cantik dan sangat ramah. Mereka berharap Talisha dapat membuat Ezaz lebih mudah tersenyum dan bahagia. Karena selama ini, pria itu sangat dingin dan tak bisa memberikan kesempatan kedua bagi karyawan yang melanggar peraturan perusahaan.
Ezaz duduk di kursinya.
Talisha mengedarkan pandangannya, "Aku akan duduk di mana?"
"Duduk di sini!" Ezaz menunjuk kursi yang ada dihadapannya.
Talisha mengikuti arah tangan suaminya, menarik kursi lalu meletakkan tas jinjingnya di atas meja.
Ezaz mulai mengajarkan istrinya tentang cara berbisnis walaupun sebenarnya ia sangat malas berlama-lama dengan wanita itu dan dirinya juga tak memiliki waktu mengajarinya di rumah. Karena ia selalu pulang larut malam. Namun, demi ambisinya ia melakukan semuanya.
Talisha mendengarkan penjelasan dari suaminya dengan seksama dan fokus. Hanya beberapa kali ia bertanya.
Hampir 2 jam, Ezaz mengajari istrinya belajar berbisnis. Ia melihat jam di tangannya lalu menyuruh Talisha pulang.
"Aku ingin makan siang bersamamu," pintanya.
"Aku tidak bisa," Ezaz menolak.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Ada klien yang ingin bertemu denganku dan ini sangat privasi," jawab Ezaz.
"Begitu, ya."
"Ya."
"Ya sudah, kalau begitu aku pulang," Talisha memaksakan tersenyum walau ia sangat kecewa. Ia meraih tas, lalu meraih tangan suaminya dan mengecupnya. Ia pun berlalu meninggalkan gedung perusahaan EA Grup.
Ezaz bersiap-siap makan siang dengan asistennya dan beberapa orang klien.
Keduanya berangkat menuju restoran tujuan.
"Kenapa Tuan tidak mengajak Nona Talisha?"
"Aku tidak ingin dekat dengannya," jawabnya.
"Bukankah Tuan satu rumah dengannya?"
"Ya, justru itu aku tidak ingin tiap hari bertemu dengannya."
"Lalu kenapa Tuan menikahinya?"
"Kenapa sekarang kau ingin tahu urusanku?"
"Maaf, Tuan. Saya hanya kasihan kepada Nona Talisha," jawabnya.
"Kau tidak perlu mengasihinya, dia akan baik-baik saja bersamaku."
"Semoga saja Nona Talisha selalu bahagia," harap Dika.
"Kau tertarik padanya?" Tampak tak suka.
"Tidak, Tuan. Mana mungkin saya berani menyukai sesuatu yang sudah menjadi milik anda," jelasnya.
"Ya, kau harus sadar."
"Nona Talisha wanita baik, saya sempat dua kali melihatnya mendonorkan darah di salah satu rumah sakit tempat Tuan Besar Galvin di rawat," jelas Dika.
Ezaz menatap wajah asistennya.
"Dia datang seorang diri di rumah sakit itu!"
"Benarkah? Untuk siapa darah yang ia donorkan?"
"Saya tidak tahu, Tuan."
"Apa kau ingat hari dan tanggal ia mendonorkan darah?"
"Pertama, saat Nyonya Besar di rawat karena penyakit anemia dan kedua ketika Tuan Besar Galvin kecelakaan," ungkap Dika.
"Kenapa dia ada di rumah sakit itu saat dua orang yang ku sayang di rawat? Apa kau tahu alasannya?"
"Saya tidak sempat bertanya, Tuan. Karena wakt itu kami tak saling mengenal dan saya hanya tahu kalau Nona Talisha adalah seorang artis," jawab Dika.
"Ya, kau benar."
Tak lama kemudian keduanya tiba di restoran. Dua orang pria sudah menunggu kedatangannya. Keempatnya saling berjabat tangan, mengobrol sambil memesan makanan.
Dika pamit sebentar untuk mengangkat ponselnya tak lama kemudian ia menghampiri atasannya dengan raut wajah cemas dan khawatir. Ia lantas mendekat lalu berkata pelan, "Tuan, Nona Lisha kecelakaan."
Seketika sendok di genggamannya terjatuh. Ezaz lantas berdiri, "Maaf semua, saya harus ke rumah sakit sekarang juga!" ia lantas berjalan lebih dahulu.
__ADS_1
"Siapa yang sakit, Tuan?" tanya salah satu diantaranya.
"Istri Tuan Ezaz kecelakaan, Tuan. Kalau begitu saya permisi," pamit Dika ia lalu berlari kecil menyusul atasannya.