Marry The Star

Marry The Star
Bab 33 - Dito Mengakui Perbuatannya


__ADS_3

Lisha memperhatikan mobil yang ia gunakan tadi pagi dan saat pulang berbeda warna, ia lantas bertanya pada Jessica. "Di ganti, ya?"


"Ya, Nona."


"Kenapa?"


"Bannya bocor," jawab Jessica berbohong.


"Oh."


"Mari, Nona!" membuka pintu buat Lisha.


Mobil meninggalkan kantor Mira Grup, diperjalanan menuju rumah Jessica melihat ada seseorang yang membuntutinya. Ia berusaha tetap tenang agar Lisha tidak ikutan panik.


Sembari menyetir ia mengirimkan pesan kepada kepala pengawal jika mereka dalam bahaya.


"Jessi!"


"Ya, Nona."


"Kamu tadi makan siang dengan siapa?"


"Dito, Nona."


"Oh."


"Memangnya kenapa, Nona?"


"Aku penasaran dengan tato yang ada di tangannya," jawab Talisha.


"Ada apa dengan tatonya, Nona?"


"Pria yang ingin mencelakakan aku memiliki tato yang sama seperti Dito."


"Nona yakin tatonya sama?"


"Ya, aku yakin dan itu sangat jelas," jawab Lisha.


"Apa perlu saya mencari tahu tentangnya, Nona?"


"Ya, apa dia juga terlibat dalam beberapa teror yang saya alami."


"Baiklah, Nona. Saya akan cari tahu."


Akhirnya mereka tiba di kediaman Ezaz dengan selamat. Karena beberapa mobil tanpa Talisha ketahui mengawal perjalanannya.


-


-


Jessica menunggu Dito di sebuah kafe tanpa pakaian jas dan celana panjang hitam yang dipakai wanita itu sehari-hari selama bertugas.


Jessica menggunakan pakaian yang biasa wanita pakai pada umumnya dan tampak cantik.


Dito yang menghampirinya tanpa sejenak terpesona dengan kecantikan yang dimiliki pengawal pribadi Talisha.


Dito duduk dihadapan wanita itu. "Ada perlu apa mengajakku bertemu?"


"Aku sedang butuh teman bicara saja," jawab Jessica berbohong, ia melirik bagian tangan pria yang didepannya itu.


"Oh, ternyata kau kesepian," ucap Dito tertawa tipis.


"Tato yang kau miliki lumayan keren, di mana membuatnya?"


Dito menurunkan tangannya dan kelihatan gugup


Seorang pelayan menyajikan dua cangkir kopi.


"Terima kasih," ucap Jessica pada pelayan.


Dito membuang wajahnya.


"Silahkan diminum!" Jessica meraih cangkir kopi perlahan-lahan menyesapnya dengan pandangan menatap tajam Dito.


"Apa tujuanmu mengajak kita bertemu?"


Jessica meletakkan cangkir kopi lalu tersenyum, "Ternyata kau pintar menebak juga."


"Jessica, jangan pernah main-main denganku!" menekankan kata-katanya.

__ADS_1


"Aku serius!" Jessica menatap kedua bola mata pria yang ada dihadapannya dengan tajam.


"Katakan apa yang kau ingin tahu dariku?"


"Pria bertopeng."


Wajah Dito lantas berubah.


"Kenapa?"


"Kau menuduhku? Bukankah tato seperti ini banyak orang yang memilikinya?"


"Ya, tapi tidak mungkin semua orang sama persis," jawab Jessica.


Dito menghela nafas berusaha tetap tenang, ia menyesap kopinya.


"Katakan saja sejujurnya, kenapa kau melakukan itu? Apa salahnya Nona Lisha padamu?"


Dito tak menjawab dan memilih pergi.


Jessica mengikuti langkah pria itu yang berjalan ke rumahnya.


Dito membalikkan badannya, "Kenapa mengikuti aku?"


"Apa alasanmu menyakiti Nona Lisha?"


"Kau tidak perlu tahu!" sentak Dito.


"Aku harus tahu, karena Nona Lisha adalah majikan aku yang harus ku lindungi!"


"Kau mau tahu alasan aku menerornya bahkan ingin mencelakakan dia," berkata dengan nada dingin.


Jessica hanya diam.


"Orang tuanya yang telah memisahkan aku dan adikku dengan ayah kandungku, ibuku sakit-sakitan karena memikirkan suaminya yang tidak tahu di mana keberadaannya. Jadi, aku ingin membalasnya ternyata aku salah," Dito tampak terguncang, air matanya berkaca-kaca.


Mimik wajah Jessica pun berubah sedih.


"Aku salah membuat Lisha dalam ketakutan," ucapnya lirih.


"Apa kau yang menyekapnya dan mengikatnya di gedung tua itu?"


"Kau masih punya hati juga," Jessica tersenyum menyeringai.


"Percayalah padaku, aku tidak ingin melenyapkannya apalagi sampai membuat anak dalam kandungannya meninggal."


"Iya, aku percaya padamu!"


Dito menghapus air matanya.


"Bersediakah kamu mengakuinya kepada Tuan Ezaz?"


"Untuk apa?"


"Apa kau ingin dihantui perasaan bersalah kepada Nona Lisha?"


Dito menggelengkan kepalanya.


"Aku akan membantumu dan melindungimu dari amukan Tuan Ezaz."


"Kau wanita, tidak akan sanggup melindungiku," ujar Dito.


"Kau tidak percaya dengan kemampuan ku," Jessica memukul perut pria yang ada dihadapannya cukup keras.


Dito memundurkan langkahnya karena mendapatkan serangan mendadak dan terjatuh ia meringis kesakitan memegang perutnya.


"Bagaimana? Apa kau ingin lagi?"


"Tidak, aku percaya padamu!"


"Ayo sekarang kita temui mereka!" Jessica mengulurkan tangannya.


Dito menyambut uluran tangan Jessica lalu berdiri.


Keduanya berangkat ke rumah Ezaz.


-


Mereka berempat berkumpul di ruang tamu. "Kenapa malam-malam begini kalian ingin bertemu dengan kami?" tanya Ezaz.

__ADS_1


"Dito ingin menyampaikan sesuatu, Tuan," jawab Jessica.


"Katakanlah!" ucap Ezaz menatap pria yang ada dihadapannya.


Dito berdiri tegak mengarahkan pandangannya kepada Talisha. "Maafkan saya, Nona!"


Talisha mengerutkan keningnya.


"Saya sudah membuat anda beberapa bulan ini ketakutan," ujar Dito jujur.


"Maksudnya?" tanya Talisha.


"Saya pria bertopeng itu!" jawab Dito.


Ezaz yang mendengarnya melayangkan pukulan di wajah Dito membuat 2 wanita terkejut.


Ezaz menarik kerah baju Dito dan hendak memukul namun tangannya dipegang istrinya.


"Jangan, Zaz!" larang Talisha.


"Dia yang sudah membuat teror selama ini, Lisha!" Ezaz menunjuk wajah Dito dengan telunjuknya.


"Aku tidak percaya dia melakukan teror lainnya, Zaz!" ucap Talisha.


"Apa maksudmu?" melepaskan cengkeramannya.


Dito menyentuh bibirnya yang berdarah.


"Aku tidak yakin kalau Dito yang menyekap dan membuat aku keguguran," jelas Talisha.


"Menurutmu ada orang lain yang melakukannya?"


"Ya."


"Kau tidak ingin menghajarnya?" tanya Ezaz.


"Tidak, Zaz. Dia sudah banyak membantuku," Talisha menatap sekretarisnya itu.


"Lisha, dia sudah menerormu dan membuatmu ketakutan selama ini," ucap Ezaz yang tak dapat menahan emosinya.


"Pasti dia mempunyai alasan untuk menerorku, Zaz." Menatap Dito. "Apa alasanmu meneror aku?" tanyanya.


"Tuan Radit sudah memisahkan aku dengan ayah kandungku," jawab Dito.


"Jika dia yang bersalah, kenapa kau melampiaskannya pada Lisha?" tanya Ezaz.


"Ya, aku bersalah karena Nona Lisha tak ada hubungannya dengan semua ini. Harusnya aku membuat Tuan Radit bertanggung jawab," ujar Dito.


"Zaz, kamu dengarkan. Papa kamu dalang dari semua ini," ucap Lisha.


"Papa?" Dito dan Jessica kelihatan bingung.


Ezaz melihat ke arah 2 orang yang berdiri di hadapannya itu.


"Tuan Radit papanya Tuan Ezaz? Jadi...." Dito berusaha menebak.


"Aku bukan putri kandung Papa Radit dan Mama Lidya," ungkap Lisha menjelaskan.


Dito dan Jessica semakin bingung.


"Kalian berdua tak perlu memikirkan hubungan kami, yang jelas aku dan Lisha bukan sedarah!" tutur Ezaz.


"Kalian boleh pergi, tolong rahasiakan ini dari semuanya. Kalian paham?" ucap Lisha.


Dito dan Jessica mengangguk, keduanya pun pergi.


-


Di perjalanan menuju rumah Dito, pria itu memandangi jalan.


"Kenapa?" tanya Jessica.


"Aku bingung dengan ucapan suaminya Nona Lisha."


"Tentang Tuan Radit?"


"Ya."


"Aku tidak berani untuk mencari tahu ada hubungan apa antara Tuan Radit dan Tuan Ezaz. Karena itu bukan tugasku. Lagian juga itu ranah pribadi mereka!"

__ADS_1


"Ya, kau benar."


__ADS_2