
Akhirnya Ezaz mengaku kalah dan menyerah kepada istrinya, ia tak bisa mengelak ketika wanita itu memberikan sensasi permainan yang sangat ganas di atas ranjang.
Tak selera dengan tubuh Talisha namun kini ia harus termakan dengan ucapannya. Ezaz terbaring lemah di samping istrinya yang masih terlelap tidur.
"Uh, kenapa harus kalah lagi darinya?" tanyanya membatin.
Memandang wajah istrinya yang begitu cantik alami.
Ezaz bangkit dari ranjang dan berjalan perlahan ke kamar mandi membersihkan diri.
Beberapa menit kemudian ia keluar dari kamar mandi, mengacak rambutnya dengan handuk kecil.
Pintu kamar diketuk berulang kali, membuat Lisha terbangun.
Ezaz lantas membuka pintu dan keluar dari kamar. "Ada apa?"
"Nona Melia menunggu anda di ruang tamu," jawabnya.
"Saya akan menemuinya," ujar Ezaz.
Pelayan pun berlalu.
Ezaz kembali ke kamar memakai kaos oblong dan celana ponggol.
"Siapa, Zaz?" tanya Lisha.
"Kekasihku," jawab Ezaz.
"Ciih, wanita murahan itu lagi," makinya.
Ezaz sekilas menatap istrinya lalu menarik sudut bibirnya.
Talisha pun bergegas turun dari ranjang lalu ke kamar mandi membersihkan diri agar ia bisa bertemu dengan kekasih suaminya.
Ezaz keluar menemui Melia.
"Kenapa kamu ke sini?"
"Aku merindukanmu, Zaz."
"Melia, ini rumahku dan Lisha. Kamu mau kita ketahuan?" tanya Ezaz berbohong padahal istrinya sudah tahu.
"Aku malah senang jika istrimu itu tahu," jawab Melia tersenyum.
"Aku juga tidak peduli kalau dia tahu hubungan kita," ujar Ezaz.
Melia berjalan mendekati pria itu lalu tersenyum.
"Kamu tidak pergi bekerja hari ini?" mengalihkan pandangannya.
"Tidak, kebetulan hari ini tak ada syuting," jawab Melia. "Bukankah istrimu juga seorang artis? Kenapa aku tidak pernah bertemu dengannya?"
"Jadi, kau ingin bertemu denganku?" Lisha datang lalu merangkul lengan suaminya begitu manja sembari melemparkan senyumnya kepada Melia.
"Kenapa kau menyentuh kekasihku?" wanita itu tampak kesal.
"Kau hanya kekasihnya dan aku istrinya," Lisha tersenyum menyeringai.
"Kau!" Melia mendesis.
"Suamiku, kenapa kau membawa bunga bangkai ke dalam rumah ini?" menatap wajah Ezaz.
"Kau bilang aku bunga bangkai?" Melia menunjuk dirinya.
"Ya," jawab Lisha tersenyum. "Bukankah kau hanya perusak rumah tangga orang lain?" sindirnya.
Melia ingin melayangkan tamparan ke wajah Talisha namun dengan cepat Ezaz menahan tangan wanita itu lalu melepaskannya.
__ADS_1
Melia menatap kesal Ezaz.
Talisha tersenyum puas.
"Jangan membuat keributan di rumahku!" Ezaz mengingatkan.
"Kau dengarkan, ini rumah orang lain. Jadi, tolong jangan membuat keributan," ujar Talisha.
"Melia, kita bicara di kafe terdekat saja," ajak Ezaz.
"Aku mau ikut!" Lisha merengek manja.
"Tidak bisa, Lisha!" larang Ezaz.
"Suamiku, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu. Apalagi wanita ini ingin merusak rumah tangga kita. Kamu mau aku kasih tahu Mama Silvia?" Talisha mengancam.
"Baiklah, kau boleh ikut," ucapnya.
"Terima kasih, suamiku!" Lisha mengecup pipi Ezaz.
Melia yang merasa kesal akhirnya berkata, "Aku sudah tidak ingin berbicara padamu lagi!" ia membalikkan tubuhnya berjalan ke arah pintu.
"Pergilah sana!" Lisha tersenyum puas. "Jangan pernah kembali ke sini lagi!" sedikit berteriak.
Ezaz hanya diam dan tak berniat mengejar Melia.
"Kenapa masih di sini?" tanya Lisha.
"Memangnya aku harus ke mana?" balik bertanya.
"Menahannya, suamiku," jawab Lisha menyindir. "Bukankah dia itu kekasihmu?" lanjutnya.
"Terlalu banyak urusanku daripada harus membujuk kalian para wanita yang menyebalkan," ujar Ezaz.
"Kau bilang menyebalkan, sepertinya hanya dia saja yang sangat menjengkelkan," celetuk Lisha.
"Suamiku!" Lisha berjalan menghampiri ke meja makan kemudian menarik kursi dan duduk saling berhadapan.
Ezaz tak menghiraukan panggilan istrinya, ia mengambil nasi, lauk dan sayuran lalu menyantapnya.
Lalu lanjut Lisha mengambil makanan untuknya sendiri. "Aku pikir tadi kau tidak tertarik dengan permainanku!"
Ezaz yang mendengarnya hampir membuatnya tersedak, buru-buru meraih gelas air putih dan meminumnya.
"Suamiku, kau tidak apa-apa?"
"Bisa tidak jangan membahas hal itu di sini," jawabnya.
"Oh, maaf. Aku pikir kau menyukainya," ujar Lisha sembari menikmati makannya.
Ezaz hanya menatap tajam.
-
-
Sore harinya, Talisha yang sedang menikmati siaran televisi di ruang santai berlari menghampiri suaminya yang hendak keluar. "Mau ke mana?"
"Aku bertemu dengan Dika."
"Aku boleh ikut?"
Ezaz sejenak diam lalu mengangguk.
Talisha tersenyum senang. "Aku akan berganti pakaian, tunggu di sini!" ia berlari ke kamar.
Beberapa menit kemudian ia sudah berada di dalam mobil. Keduanya berangkat ke restoran yang telah dipesan oleh Dika.
__ADS_1
Sesampainya di sana asisten pribadi Ezaz sudah menunggu mereka.
Ketiganya duduk bersama dan memesan makanan.
Tak lama kemudian Dena muncul karena Ezaz yang memintanya agar istrinya ada temannya.
Talisha melambaikan tangannya kepada sahabatnya itu dengan riang.
Ezaz memperhatikan sikap istrinya, walaupun manajernya itu pernah berusaha menyakiti tetapi ia tetap mau tersenyum dan begitu hangat.
Talisha memeluk tubuh Dena begitu erat. "Apa kabar? Apa ada pekerjaan untukku?"
"Kau ini sudah menjadi direktur masih saja menerima tawaran," jawab Dena.
"Aku tidak bisa lepas dari dunia hiburan, aku rindu berakting," ujarnya.
"Ada pekerjaan di salah satu drama tapi hanya peran pendukung. Apa kau mau?"
"Mau."
"Tapi, masalah peran...." Dena tak sanggup menjelaskannya.
"Kenapa dengan peran?" Lisha penasaran.
"Kau harus menjadi seorang wanita malam," jawab Dena.
"Wah, itu pasti sangat seru sekali!" Lisha tampak penuh semangat.
"Aku tidak setuju!" sahut Ezaz.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu sangat menantang?" tanya Talisha.
"Aku tidak mau kau beradegan ranjang dengan pria lain selain aku!" jawab Ezaz tanpa sadar.
Dika dan Dena tertawa kecil mendengar jawaban Ezaz.
"Kau cemburu, ya?" goda Talisha.
"Aku tidak cemburu, hanya saja ku tak mau keluargaku dan klien memojokkan aku karena membiarkan kau beradu akting dengan pria lain apalagi yang ditawarkan perannya seperti itu," Ezaz menjelaskan panjang lebar.
"Bilang saja kalau Tuan sangat cemburu!" celetuk Dika.
"Apalagi lawan mainnya Lisha mantan kekasihnya," sambung Dena.
"Benarkah?" Lisha tampak semangat. "Aku sudah lama tidak bertemu dengannya," lanjutnya.
"Kau tidak boleh bermain drama apapun," ujar Ezaz.
"Suamiku, aku hanya mendapatkan peran kecil. Apa salahnya mencobanya?" Talisha memohon.
Dena dan Dika hanya mengulum senyum.
"Kau hanya boleh bekerja di kantor!" ucapnya tegas.
"Bagaimana kalau dapat tawaran iklan?" tanya Lisha.
"Kau hanya menjadi bintang iklan dari semua produk dari perusahaan milikku," jawab Ezaz.
"Itu juga boleh," ujar Lisha. "Kapan aku bisa memulai iklannya?" tanyanya.
"Secepatnya!" jawab Ezaz.
"Ya, kira-kira kapan? Aku sudah tidak sabar untuk berakting," ujarnya.
"Tanyakan pada dia saja!" Ezaz menunjuk asistennya.
"Dua pekan lagi, Nona. Saya akan kirimkan jadwalnya dan kita segera akan mengadakan rapat untuk iklan ini," jelas Dika.
__ADS_1
"Baiklah," Lisha tersenyum senang.