
Dua minggu kemudian.....
Lisha kembali melakukan syuting setelah beberapa bulan tak berakting.
Ezaz meminta sutradara agar istrinya tak diberikan peran yang memberatkan.
Lisha mulai berakting dan Ezaz memperhatikannya dari jarak jauh.
Lisha melemparkan senyuman dan melambaikan tangannya penuh semangat.
Adegan kali ini tidak terlalu berat, Lisha hanya berlenggak lenggok dan mengganti pakaian beberapa kali.
Ezaz dengan sabar menunggu syuting berakhir.
Tepat pukul 5 sore, syuting pun selesai. Lisha menghampiri suaminya, "Terima kasih sudah menungguku!"
Tanpa membalasnya Ezaz berjalan lebih dahulu, Lisha menyusul di belakangnya.
Hendak memegang kenop pintu mobil terdengar suara tembakan, semua orang yang ada di lokasi syuting berteriak. Ezaz membalikkan badannya dan melihat istrinya jongkok dengan tas di kepalanya. Ia pun berlari menghampiri wanita itu lalu.
"Cepat ke mobil!" Ezaz membantu Lisha berdiri lalu merangkul dan berlari kecil ke kendaraan roda empat itu.
Ezaz membuka pintu.
Lisha yang terkejut berusaha mengatur nafasnya. Tampak wajah ketakutan.
"Tetaplah di sini!" pinta Ezaz.
"Jangan ke mana-mana, Zaz!" mohonnya.
"Aku akan kembali, di sini kamu lebih aman," ujar Ezaz.
Lisha pun mengangguk.
Ezaz menutup pintu mobil lalu mendekati Dika. "Tidak ada yang terluka, kan?"
"Tidak, Tuan."
"Cari tahu segera siapa pelakunya!" perintahnya.
"Baik, Tuan."
Ezaz kembali ke dalam mobil, duduk di sebelahnya yang masih ketakutan.
"Apa pelakunya pria itu lagi, Zaz?" tanyanya dengan bibir bergetar.
"Aku tidak tahu," Ezaz meraih pundak istrinya dan merangkulnya. "Jangan takut!" bisiknya sembari mengecup keningnya.
Lisha mengangguk.
Sesampainya di rumah, Ezaz menghubungi Jessica untuk menjaga istrinya di rumah. Walaupun ada beberapa pengawal pria namun Ezaz memilih wanita agar lebih leluasa dekat dan saling mengobrol dengan Talisha.
"Kau mau ke mana, Zaz?"
"Aku akan ke luar kota untuk beberapa hari ini, kau akan di temani Jessica," jawabnya.
"Kau pergi sendiri?"
"Dengan Dika dan seorang sopir."
"Zaz, aku takut dia akan melukaimu," ujar Lisha.
Ezaz tersenyum, "Tak perlu khawatir, aku bisa jaga diri. Ingat kau hanya boleh keluar rumah bersama Jessica."
Lisha pun paham dan mengerti.
-
-
Ezaz tiba di kota tujuan tepat 11 malam, ia menghubungi nomor istrinya namun tak dijawab ia lalu menelepon Jessica menanyakan keadaan Talisha.
Pengawal wanita itu mengatakan jika Talisha sempat merasa paranoid, namun kini sudah terlelap tidur di kamar tamu.
Demi menjaga majikannya, Jessica memilih tidur di kasur beralaskan lantai.
Ezaz mendapatkan laporan dari Jessica kalau istrinya baik-baik saja merasa tenang.
__ADS_1
"Tuan, apa anda tidak ingin makan malam?" tawar Dika.
"Tidak," jawab Ezaz.
"Tuan, dari tadi sore belum ada makan apapun. Bagaimana bisa menjaga Nona Lisha?"
"Aku sedang tidak lapar, Dika."
"Baiklah kalau begitu, saya kembali ke kamar," pamitnya.
Ezaz merebahkan tubuhnya di atas ranjang, ia memikirkan siapa dalang peneror istrinya.
......................
Keesokan paginya, Ezaz yang sudah bersiap bertemu klien mendapatkan telepon dari istrinya.
"Halo, Zaz!" sapa Lisha dari kejauhan dengan suara parau.
"Ya, halo!"
"Aku ketiduran jadi tak mengangkat telepon darimu," ujarnya.
"Aku sudah menghubungi Jessica."
"Oh."
"Jangan keluar rumah jika tak penting," ujar Ezaz.
"Iya, Zaz."
"Kapan kau akan kembali?"
"Dua hari lagi."
-
Talisha berangkat ke kantor di temani Jessica. Sesampainya di sana Lisha melangkah dengan cepat ke ruangan kerjanya.
Jessica melihat Dito berjalan terburu-buru, ia pun bergegas mengikutinya. Pria itu meninggalkan gedung perusahaan berjalan menuju parkiran. "Mau ke mana dia?" batinnya.
Jessica mengurungkan niatnya untuk mengikuti Dito karena ingat akan tugasnya menjadi pengawal Talisha. "Gerak-geriknya sungguh mencurigakan!"
Sementara itu Dito tiba di kafe tak jauh dari perusahaan.
"Pasti Kakak yang melakukan peneroran terhadap Lisha kemarin," tuding seorang wanita.
"Teror apa? Kakak tidak mengerti," Dito mengerutkan keningnya.
"Seseorang menyerang lokasi syuting dengan suara tembakan."
"Aku lihat Lisha tak mengalami apapun?"
"Ya, mungkin ingin menggertak saja tapi itu membuat kami yang berada di sana ketakutan," ujarnya.
"Kakak tidak melakukan penyerangan itu!" tegas mengatakan.
"Lalu siapa?"
Dito menaiki bahunya.
"Aku harap Kakak tidak melakukan hal ini."
"Kakak juga tidak sanggup melihat Lisha menangis."
"Jangan bilang kalau Kakak menyukai istri orang lain," kembali menudingnya.
"Kalau suaminya yang bodoh itu melepasnya, Kakak siap menjaganya," ujar Dito.
Wanita itu menarik sudut bibirnya. "Sepertinya Kakak harus banyak berdoa, bagaimana jika Lisha tahu kalau Kakak adalah pria itu."
"Aku rasa mereka tidak akan pernah tahu," ujar Dito.
"Apa Kakak lupa kalau Lisha memiliki pengawal?"
"Mereka tidak mungkin menyelidikinya lagi."
"Kakak salah, Jessica sedang mencurigaimu!"
__ADS_1
"Wanita itu, tak jadi masalah," Dito percaya diri.
"Jangan remehkan dia, Kak!"
"Baiklah, terima kasih sudah memberitahuku!"
Wanita itu pun berlalu dan Dito kembali ke kantor.
Sesampainya di Mira Grup, Jessica menatap curiga asisten pribadi Lisha.
Dito bersikap biasa dan santai.
-
Sepulang Lisha dari kantor, Jessica lantas bertanya sembari menyetir. "Sudah berapa lama Tuan Dito bekerja di perusahaan Nona?"
"Saya kurang tahu, tetapi cukup lama juga. Memangnya kenapa?"
"Sangat mencurigakan, Nona."
"Kamu curiga kalau dia melakukan teror padaku?"
"Ya, Nona."
"Aku rasa bukan dia."
"Semoga saja bukan, Nona," ujar Jessica agar tak menjadi beban pikiran Lisha."
...----------------...
Dua hari kemudian.....
Ezaz sudah kembali ke rumahnya, Jessica juga sudah meminta izin pada pria itu untuk mengintai dan mencari tahu tentang Dito.
Jessica kini mengantongi alamat dari Dito, begitu melihat dari kejauhan ia mengenali sosok yang berada di dekat pria itu ketika hendak memasuki mobil.
Perlahan Jessica mengikuti mobil Dito.
Mobil berhenti di sebuah pemakaman lalu keluar bersama dengan seorang wanita yang sama saat di depan rumah Dito, dengan memakai kacamata hitam dan mulutnya tertutup masker keduanya berjalan menyusuri area tersebut.
Jessica pun turun dan terus memata-matai keduanya.
Kedua orang itu sadar jika di ikuti.
"Kak, sepertinya aku harus pergi dahulu!" pamit wanita tersebut lalu berjalan lebih cepat ke arah jalan yang berbeda.
Jessica tetap fokus mengintai Dito.
Saat diparkiran area pemakaman, Jessica kehilangan jejak. "Kemana dia?" gumamnya.
"Kau mencariku Nona Pengawal?"
Jessica terkejut lalu membalikkan tubuhnya.
"Kau membuntutiku?"
Jessica tak dapat menjawab.
"Kau sungguh lancang!" sentaknya.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Kau bertanya siapa aku? Harusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau mengikuti ku?"
"Aku curiga padamu!"
"Curiga? Kau menuduhku?"
"Aku tahu jika kau salah satu peneror Nona Lisha."
"Apa kau memiliki bukti, Nona?"
Lagi-lagi Jessica tak bisa menjawab.
"Jangan menuduhku sembarangan, aku bisa menuntutmu di pengadilan!" Dito melewati tubuh Jessica berjalan ke mobilnya.
Wanita itu tak mau kehilangan jejak kembali mengikuti.
__ADS_1
Dito menarik sudut bibirnya dari balik kaca spion. "Ternyata, kau ingin main-main denganku, Nona. Baiklah, aku akan kabulkan!" ia melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang.