Marry The Star

Marry The Star
Bab 19- Masih Trauma


__ADS_3

Melia meninggalkan Ezaz di restoran, ia lalu menghubungi seorang pria yang selama ini menjadi selingkuhannya.


Keduanya bertemu di sebuah hotel ternama yang di kota ini.


"Kenapa wajahmu cemberut begitu, cantik?"


"Bagaimana tidak cemberut? Aku sengaja pulang ke negara ini hanya untuknya, dia malah memilih istrinya," kesalnya.


"Sudahlah, jangan bersedih begitu. Ada aku disini yang menemani kamu," pria itu menyentuh bibir Melia dengan jemarinya.


"Kamu selalu saja menjadi penenang untukku," ujar Melia manja.


"Tentunya, kamu saja yang selalu mengejar dia."


"Dia lebih kaya darimu, aku bisa merampas hartanya. Semakin tergila-gila dia padaku, maka semakin mudah aku menikmati kemewahan yang ia miliki dan asal kamu tahu, aku cuma cinta denganmu!" Melia tersenyum menggoda.


"Aku bisa memberikan semua yang kamu minta, tolong tinggalkan dia demi diriku," pinta pria itu.


"Aku tidak bisa," Melia menolaknya.


"Kenapa?"


"Aku ingin membuatnya hancur," jawab Melia.


"Apa kamu memiliki dendam padanya?"


"Ya, orang tuanya yang telah tega membuat ayahku di tahan," ungkap Melia.


"Benarkah?"


"Karena kasus apa?"


"Korupsi uang perusahaan," jelas Melia.

__ADS_1


"Tujuan kita sama, menghancurkannya," pria itu tersenyum menyeringai.


"Ya, aku senang mendengarnya. Ku semakin mencintaimu, sayang," Melia mengecup bibir kekasih gelapnya.


"Apakah aku boleh meminta lebih?"


Melia mengangguk mengiyakan.


Keduanya pun saling melepas hasrat di kamar hotel tersebut.


Sementara itu, Ezaz yang hendak berangkat ke kantornya dari restoran mendadak membatalkan kerjanya. Ia buru-buru kembali ke rumahnya. Pelayan mengatakan kalau istrinya menjerit seperti orang ketakutan.


Sesampainya di kediamannya, ia berlari ke kamarnya. Tampak istrinya memeluk lututnya dengan rambut berantakan dan menangis.


Ezaz mendekatinya dan menyentuh tangan istrinya.


Seketika Talisha menepisnya dengan kasar. "Jangan sentuh aku, pergi!" teriaknya.


Talisha lantas meraih tubuh suaminya dan memeluknya. "Aku takut, Zaz. Dia datang lagi!"


"Siapa yang datang?"


"Pria bertopeng itu!"


"Apa tadi ada tamu di sini?" balik bertanya.


"Dia ingin menyerang aku lagi, Zaz." Berbicara dengan bibir gemetaran.


"Lisha, di sini tak ada pria bertopeng," jelas Ezaz.


"Dia di sini, Zaz." Talisha berkata dengan yakin.


Ezaz melepaskan dekapan istrinya, ia lalu menangkup wajah wanita itu dengan kedua telapak tangannya. "Lihat aku, tenanglah. Rumah ini penjagaan cukup ketat, tak mungkin pria itu di sini."

__ADS_1


"Kau tidak percaya aku?" Talisha bertanya dengan suara isak.


"Aku percaya, Lisha."


"Aku mau pindah dari rumah ini," ujarnya.


"Kau mau pindah ke mana?"


"Tempat kakek, di sana aku lebih aman," jawab Talisha.


"Tidak, Lisha. Kau tak boleh meninggalkan aku!"


"Tapi, aku takut," ucapnya lirih.


"Aku akan tetap mengawasimu dan menyewa bodyguard wanita untuk menjagamu," ujar Ezaz.


"Aku ingin bersamamu, Zaz. Aku tidak percaya pada mereka," Talisha kembali memeluk suaminya.


"Aku tidak bisa selalu berada di dekatmu, ku harus ke kantor," jelasnya.


"Bawa aku ke tempat kakek, Zaz. Ku mohon!"


"Tidak, Lisha. Kau tanggung jawabku, kita akan tahu siapa pria bertopeng itu," ujar Ezaz.


"Bagaimana jika dia menyerang aku lagi?"


"Tidak akan," Ezaz merapikan rambut istrinya yang menutupi wajah cantiknya dengan menyelipkannya di sela-sela telinga.


Talisha terdiam dengan tubuh gemetaran.


"Tidurlah!" Ezaz merebahkan tubuh istrinya di ranjang, menarik selimut dan menutupi sebagian badan Talisha. "Kita akan tahu, siapa pria bertopeng itu?" menyakinkannya agar bisa tenang.


Talisha pun mendengar ucapan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2