
Cucunya mengalami keguguran dan beberapa teror akhir-akhir ini membuat Bram menemui Talisha di rumah suaminya.
Tamparan keras menempel di pipi Ezaz. "Kenapa kau tidak bisa menjaga cucu kesayangan ku?" sentak Bram.
Ezaz hanya memegang pipinya.
"Sejak dia menikah denganmu selalu saja ada masalah dengan dirinya!"
"Maaf, Kek!"
"Kau bilang maaf setelah aku kehilangan cicitku!"
Ezaz bergeming.
"Kau harus membuatkan cicit untukku!" pinta Bram.
Ezaz mendelikkan matanya. "Aku tidak mencintainya, Kek!"
Bram mengangkat tongkatnya lalu melayangkannya di tubuh Ezaz semampu tenaganya. "Jika tidak mencintainya, kenapa harus menikahinya?"
"Sebenarnya ada orang yang ingin melenyapkan dirinya makanya ku mempertahankan hubungan pernikahan dengannya, Kek!"
"Aku bisa melindunginya!" Bram tak mau kalah.
"Aku janji setelah mengungkap semuanya, ku akan melepaskannya!"
Bram semakin kesal dengan pernyataan cucu menantunya, "Kau sudah menyia-nyiakan perasaan cucuku. Aku takkan membiarkan dirimu memilikinya lagi jika kau berani melepasnya dan menyakitinya!"
"Aku serius, Kek. Ku takkan mengharapkannya lagi," ujar Ezaz.
"Baiklah, setelah masalah ini selesai ku akan mengambil Lisha!"
Ezaz mengiyakan.
Talisha yang mendengar percakapan kakek dan suaminya meneteskan air matanya. Sesakit ini rasanya menyukai seseorang tapi ia tak membalasnya.
Ketiganya menikmati makan siang bersama. Hingga sampai Lisha bersuara, "Aku ingin tinggal bersama Kakek!"
Bram dan Ezaz saling pandang.
"Aku tidak nyaman di sini, nyawaku terancam," ujarnya lagi.
"Lisha, kamu sekarang sudah menjadi seorang istri tak bisa meninggalkan rumah suami sesuka hatimu," ucap Bram.
"Calon cicit Kakek telah pergi. Apa mau kalau aku menyusulnya?" Talisha menatap ayah dari papa kandungnya.
"Lisha, kamu bicara apa?" tanya Bram.
"Kakek, ku mohon!" pintanya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu minta izin pada suamimu!"
"Aku tidak mengizinkannya," ujar Ezaz.
"Untuk apa dirimu mempertahankan aku? Bayi kita sudah pergi dan kau tak perlu merasa memiliki beban," ungkap Lisha.
"Benar!" sahut Bram.
"Bawa aku pergi dari sini, Kek!" Mohon Lisha.
"Tak semudah itu, kau mau media menyerbu rumah ini dan meminta konfirmasi alasanmu pergi," ujar Ezaz.
"Katakan saja, kalau kita telah berpisah," ucap Lisha.
"Aku tidak mau kita berpisah!" Ezaz menekankan kata-katanya.
__ADS_1
"Hei, hentikan perdebatan kalian. Aku sedang makan jika kalian melanjutkan pertengkaran silahkan di atas ranjang," celetuk Bram.
Lisha dan Ezaz menatap kakek.
"Kalian berdua butuh berlibur untuk menyatukan hati, itu sungguh cara efektif," ujar Bram.
"Aku tidak mau liburan, Kek!" ucap Lisha.
"Aku juga," sambung Ezaz.
Kakek menghela nafasnya.
"Kek, tolonglah. Bawa aku pergi dari dirinya!"
"Maaf, Lisha." Bram menolak permohonan cucunya.
......................
Beberapa hari kemudian......
Lisha kini tak aktif lagi di dunia hiburan sejak menikah. Kemana-mana dia akan selalu di temani bodyguard wanita.
"Untuk apa dia menyewa para wanita ini?" ocehnya sesaat sebelum pergi menemui temannya.
Lisha menuju kafe tempatnya membuat janji dengan Dena.
Sementara itu, wanita yang merangkap menjadi manajer sang artis sedang menyesap secangkir kopi.
Dika yang kebetulan berada di tempat itu menghampirinya, ia duduk di hadapan Dena dan tersenyum menyindir.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya ketus.
"Aku ingin membeli kopi," jawab Dika.
Dika tertawa kecil, "Kau masih punya wajah juga untuk bertemu dengan Nona Lisha."
"Memangnya kenapa? Aku juga sudah minta maaf atas kejadian beberapa minggu lalu," ujarnya.
"Oh, ya. Apa kau yakin tidak terlibat dalam penculikan yang menyebabkan dia keguguran?" sindir Dika.
"Aku tidak sekejam itu untuk melakukannya!"
"Benarkah? Apa dendammu sudah terbalas dengan melihat Nona Lisha tersiksa?" Dika bertanya dengan tatapan sinis.
Dena mengeraskan rahangnya.
Dika semakin tertawa melihat Dena mulai terpancing emosinya.
"Aku memang membenci keluarganya dan aku sempat bersikap konyol menjual dirinya dengan atasanmu!"
"Menjual?"
Dena dan Dika lantas menoleh ke asal suara, keduanya tampak terkejut.
Lisha duduk bersama mereka, "Apa maksudmu, Dena? Coba jelaskan padaku!"
"Nona, sepertinya saya harus kembali ke rumah," ujar Dika beranjak berdiri.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? Duduk!" titah Lisha.
Dika pun menurutinya.
"Dena, kita sudah berteman lebih dari sepuluh tahun. Aku mempercayaimu dan ku menganggap kau itu keluargaku. Jelaskan padaku ucapanmu tadi!" pinta Lisha.
Dena kelihatan bingung begitu juga dengan Dika, keduanya bahkan dimarahi Ezaz.
__ADS_1
"Dena, apa kau mendengarkan aku?" Lisha menatap mata sahabatnya itu.
Dena menarik nafas perlahan lalu ia hembuskan, "Baiklah aku akan ceritakan!"
Tatapan Lisha masih ke arah Dena.
"Ezaz yang memintaku untuk melakukan itu," ujarnya.
"Minta melakukan apa?" tanya Lisha penasaran.
"Aku yang sudah membuat berita skandal tentangmu yang tidur dengan seorang pria beberapa bulan lalu," jelas Dena. "Pria yang ada di berita itu Ezaz, dia menyamar waktu itu di kafe dan sengaja memberikan kamu minuman yang telah di campur obat tidur. Aku dan Dika mengatur semuanya," lanjutnya.
Lisha menyandarkan punggungnya menghela nafasnya.
"Lalu, Ezaz juga yang sudah membuatmu tak bisa mendapatkan pekerjaan sebagai bintang iklan atau lainnya. Dan ia juga yang sengaja membayar pemilik ruko agar tidak jadi menyewakannya kepadamu," Dena kembali menjelaskan.
"Kau sungguh tega, Dena!" menahan rasa marahnya.
"Aku minta maaf, Lisha!" tampak wajah Dena sendu dan bersalah.
"Lalu apa lagi?"
Dena tak bisa menceritakan.
"Cepat katakan!" sentaknya.
"Aku menawarkan Ezaz untukmu agar kalian menikah dan mengatakan kalau dia yang bisa membantumu terbebas dari semua masalah," ujar Dena menunduk.
"Apa alasanmu melakukan itu, Dena?" menatap kesal.
"Aku butuh uang banyak untuk biaya pengobatan ibuku, Lisha."
"Kenapa kau tidak pernah cerita?"
"Keuangan yang kau miliki sedang tidak stabil, Lisha."
"Tapi, kau tak perlu memakai cara kotor seperti ini!"
"Aku minta maaf, Lisha."
"Percuma, semua terlambat. Kini aku semakin memiliki banyak masalah dan hidupku terancam karena ulahmu ini!" Lisha berdiri. "Aku rasa lebih baik ku mengakhiri ini semua!" ia pun bergegas meninggalkan kafe.
Dena tertunduk dan menangis.
Dika berusaha menenangkan Dena, "Kita berdoa saja kalau hubungan mereka baik-baik saja!"
"Jangan menghiburku!" sentaknya.
"Hei, aku tidak ingin kau stress karena sikap bodohmu itu!"
"Kau bilang aku bodoh?" menatap tajam.
"Tidak, tidak, pekerjaanku juga bahkan jadi taruhannya," jawab Dika.
Dena menutup wajahnya, "Aku benar-benar tidak tahu apa-apa lagi!"
Sementara itu Lisha mengendarai mobilnya sendiri, ia memaksa meminta kunci kepada pengawalnya dan terpaksa mereka memberinya.
Dengan kemarahan yang sudah berada diujung tanduk, Lisha tak sabar menemui suaminya.
Begitu sampai, Lisha bergegas keluar menjinjing tasnya dengan melangkah cepat.
Ia memeriksa kamar namun pria itu tak ada di sana, lalu ia mencarinya di balkon juga. Seorang pelayan mengatakan kalau Ezaz sedang berenang. Lisha melangkah ke arah kolam renang.
Plak....
__ADS_1