
Ezaz memegang pipinya dan terkejut. "Kenapa kau menamparku?"
"Dasar licik!" jawabnya dengan tatapan penuh amarah.
Ezaz tak mengerti dengan ucapan istrinya hanya mengerucutkan keningnya.
"Mari kita berpisah!" ujar Lisha.
"Hei, kenapa dengan kau?" Ezaz masih bingung.
"Kau belum sadar juga apa yang telah kau lakukan padaku!"
Ezaz masih diam.
"Kau yang sudah merencanakan semuanya," desis Lisha.
"Aku tidak mengerti dengan perkataanmu!"
"Kau sengaja membuat berita skandal dan mencemarkan nama baikku, membuat karir yang ku bangun hancur seketika. Usaha toko pakaian ku gagal di buka lalu dengan tanpa berdosa kamu datang menawarkan solusi bagiku. Aku tidak masalah kamu menikahiku karena ingin balas dendam pada Papa Radit tetapi foto-foto yang tersebar itu!" Lisha mengingatkan suaminya. "Aku tidak pernah memaafkanmu!" menekankan kata-katanya.
Ezaz bergeming.
Lisha membalikkan badannya lalu melangkah pergi.
Ezaz meraih handuk lalu melilitkannya ke bagian daerah sensitif tubuhnya dan mengejar langkah istrinya.
Lisha berjalan ke kamarnya, mengeluarkan koper dari dalam lemari beserta pakaiannya.
"Kau mau ke mana?"
"Aku mau pergi dari rumah ini!" Lisha terus menyusun pakaian ke dalam koper.
"Kau tidak boleh keluar dari rumah ini!" Ezaz menarik koper dari atas ranjang.
"Kenapa? Tak ada alasan lagi buatmu mempertahankan aku!"
"Kau tetap tidak boleh keluar dari sini!" Ezaz berkata lantang.
"Selama kita menikah, hidupku selalu saja memiliki masalah. Kau sengaja ingin aku mati perlahan di sini!"
"Justru aku ingin menyelamatkan dirimu, Lisha!"
Wanita itu terdiam, "Kau ingin menyelamatkan aku?" tanya lirih.
Ezaz mengangguk.
"Aku tidak percaya!" ucapnya lantang.
"Lisha, aku berkata benar."
"Apa alasanmu ingin melindungiku? Apa kau mencintaiku?"
Ezaz tak tahu alasan apa yang membuat dirinya bersikeras melindungi istrinya.
"Atau kau sebenarnya pria bertopeng itu?" Lisha menudingnya.
"Terserah menuduhku seperti apa, kau tidak boleh pergi dari rumah ini," ujarnya.
Lisha menarik koper yang kini ada di dekat suaminya, ia lalu membawanya keluar kamar.
Ezaz menahan lengan istrinya. "Kau tetap tidak boleh pergi dari rumah ini, Lisha!"
"Lepaskan aku!" Menatap tajam.
"Tidak akan!"
"Kau memang egois, Zaz. Hidupku di sini lebih terancam daripada di luar," ujarnya.
"Lisha, dengarkan aku. Jangan pergi dari sini!"
Lisha tak mempedulikannya.
Ezaz yang sudah habis kesabarannya, menarik paksa istrinya ke dalam kamar lalu ia campakkan ke ranjang dan bergegas menutup pintu.
Lisha bangkit berlari ke arah pintu namun Ezaz menghalanginya.
Ezaz mendorong tubuh istrinya ke dinding lalu menciumnya secara brutal.
Lisha berusaha keras menjauhkan tubuh suaminya darinya. Ia menggigit bibir Ezaz hingga berdarah membuat pria itu mundur dan memegang bibirnya.
"Kau tidak mencintaiku, kenapa menyentuhku?" Lisha marah.
Ezaz pun terdiam, entah kenapa dia melakukan kesalahan fatal lagi, ia pun pergi meninggalkan kamar istrinya dan memilih ke kamar sebelahnya.
Perlahan Lisha merosotkan tubuhnya ke lantai dan menangis.
Di kamar Ezaz mengacak rambutnya, "Aaarrrghhh......"
__ADS_1
...----------------...
Sarapan pagi keduanya tampak diam dan tak saling menyapa.
Talisha pergi ke kantor tanpa berpamitan, ia berangkat kerja tetap di temani seorang sopir sekaligus pengawal.
Ezaz juga berangkat ke kantor seorang diri.
Sudah lebih 2 pekan ia tak masuk ke kantor, ia mempercayakannya kepada Dito. Pria dingin dan tampak kaku namun penuh perhatian.
Pengawal menjaga Talisha dari luar ruangan. Ia duduk berhadapan dengan meja kerja asisten.
Wanita itu tetap diam dan menatap Dito yang menurutnya mencurigakan.
Dito beranjak mendekati ruangan atasannya namun langkahnya dicegat.
Dito tampak kesal.
"Anda mau apa ke ruangan Nona Lisha?"
"Saya adalah asisten sekaligus sekretarisnya dan biasa mondar-mandir ke ruangan ini. Kenapa anda melarangnya?" Dito menatap tajam.
"Saya adalah pengawal yang ditugaskan untuk menjaga Nona Lisha, saya ingin memastikan kalau anda bukan pria yang mencurigakan," Wanita itu membalasnya dengan tatapan menakutkan.
Dito menghela nafasnya.
"Anda boleh masuk ditemani saya," ujar wanita itu.
"Terserah anda saja!" Dito mengetuk pintu terlebih dahulu kemudian masuk.
Lisha menatap asisten dan pengawalnya.
Dito menyerahkan beberapa berkas yang harus di periksa oleh Talisha.
Dan wanita itu menerimanya, "Maaf, jika kamu merasa terganggu. Dia hanya menjalankan tugasnya saja."
"Saya maklum, Nona," ujar Dito.
Lisha membalasnya dengan tersenyum tipis.
Dito pun keluar begitu juga dengan pengawal.
Wanita itu kembali duduk di hadapan meja kerja Dito. Tampak risih bila bekerja ada orang lain di depannya.
"Kenapa jika saya duduk di sini?"
Dito mulai kesal dengan pertanyaan wanita dihadapannya itu. "Anda mengganggu penglihatan saya!"
Pengawal wanita itu menyipitkan matanya. Lalu berdiri dan berpindah posisi duduknya.
-
Jam makan siang, Lisha keluar dari ruang kerjanya. Pengawal bernama Jessica pun berdiri.
"Ku mau makan siang, temani aku. Dito kamu ikut juga!" ajak Lisha.
"Baik, Nona!" Dito mengiyakan.
Ketiganya berjalan bersama menuju parkiran. Lisha juga mengajak Papa Radit namun pria itu menolaknya karena memiliki janji dengan Mama Lidya.
Sesampainya di parkiran kantor. "Jessi, berikan kunci mobil padanya!"
Jessica pun menyerahkan kunci kepada Dito dan pria itu menyetir.
Talisha duduk di kursi penumpang seorang diri.
Sesampainya di restoran ketiganya duduk bersama di satu meja.
"Jangan canggung, pesan dan nikmati makanan dan minuman yang kalian mau!" Ujar Lisha.
"Terima kasih, Nona." Ucap Dito dan Jessica serentak.
Beberapa menit kemudian hidangan yang mereka pesan pun di sajikan. Tanpa banyak bicara ketiganya mulai makan.
Lisha tampak lebih banyak diam begitu juga dengan kedua orang dihadapannya.
"Jessi, setelah ini kamu pulang saja!" ujar Lisha.
"Tidak, Nona. Sebelum Nona Lisha tiba di rumah saya tak bisa pulang," ucapnya.
"Saya akan kembali ke kantor bersama Dito," ujar Lisha.
"Tidak bisa juga, Nona. Walaupun Tuan Dito adalah sekretaris anda, Nona Lisha adalah tanggung jawab saya."
"Saya yakin Dito bisa menjaga," ujar Lisha.
__ADS_1
"Sekali lagi maaf, Nona. Saya tidak mau Tuan Ezaz marah," ucapnya.
"Nona, lebih baik anda turuti saja perintah Tuan Ezaz," kali ini Dito berkata.
"Ya," Lisha pun pasrah.
-
-
-
Lisha keluar dari kantor pukul 9 malam, tak biasanya ia pulang ke rumah jam segitu. Lisha tak memberitahunya pada suaminya.
Karena pasti Jessica sudah memberikan laporan kepada Ezaz.
Lisha mengambil alih menyetir dan Jessica mengiyakan selama dirinya berada bersamanya.
Mobil mengarah ke sebuah klub malam, Lisha mengajak Jessica masuk ke tempat itu.
"Kita mau apa ke sini, Nona?"
"Saya ingin menghilangkan stress," jawab Lisha tersenyum.
"Nona, saya belum memberitahu Tuan kalau ke sini," ujar Jessica.
"Jangan memberitahunya, dia juga takkan peduli," Lisha melangkah terlebih dahulu memasuki tempat itu.
Jessica lantas mengirimkan pesan kepada Ezaz meskipun dilarang Talisha.
Setelah mengirimkan pesan, Jessica mengedarkan pandangannya mencari Lisha.
Wanita itu sudah menenggak minuman keras.
Lisha menambah segelas minuman beralkohol lagi dan menenggaknya kembali. "Kamu tidak minum?"
"Es jeruk saja, Nona."
"Buatkan untuknya!" pinta Lisha pada bartender.
Tak lama pesanan Jessica pun datang.
Lisha sudah menenggak minuman beberapa gelas.
"Nona, sudah cukup!" Jessica menarik gelas kelima.
"Aku belum puas. Jangan menggangguku!" sentaknya.
"Nona, nanti Tuan akan marah besar," ujar Jessica.
"Kamu tenang saja, aku akan bicara padanya," Lisha tersenyum dan mulai kehilangan kesadarannya. Ia kembali minum.
Jessica berdiri ketika melihat Ezaz datang. "Saya sudah melarangnya, Tuan!" Menundukkan kepalanya bersalah.
Ezaz tak bertanya lalu menghentikan tangan istrinya yang hendak meraih gelas selanjutnya.
"Hei, siapa kau?" hardiknya.
Ezaz membopong tubuh istrinya berjalan keluar dari klub tanpa menjawab pertanyaan istrinya.
Lisha terus memberontak dengan mendorong tubuh Ezaz. Namun, tenaganya tak cukup untuk menolaknya.
Pintu mobil dibuka pengawal Ezaz, dia dan Talisha masuk. Mobil pun meninggalkan klub malam.
Di kursi pengemudi Lisha terus memukul tubuh suaminya. "Hei, kau mau bawa aku ke mana? Kau ingin menculik aku, ya? Oh, atau kau ingin membunuhku?" Ia memundurkan tubuhnya.
Ezaz tetap diam.
"Hei, turunkan aku di sini!" pintanya. Lisha berusaha membuka pintu mobil secara paksa.
Ezaz menarik lengan istrinya dan keduanya saling berpelukan.
Lisha kembali mendorong tubuh suaminya, namun karena kelelahan ia pun tertidur.
Ezaz menggendong tubuh istrinya menuju kamarnya dan merebahkannya di atas ranjang.
Ezaz membuka sepatu yang dikenakan istrinya lalu menyelimutinya.
Talisha tiba-tiba meneteskan air matanya dengan mata terpejam.
Ezaz menatap wajah istrinya perlahan menghapus air matanya.
"Jangan sakiti aku!" rancaunya.
"Lisha!" Ezaz memanggilnya dengan suara lembut.
Lisha kembali tertidur.
__ADS_1