
Talisha keluar dari lift dengan nafas ngos-ngosan, ia menoleh ke kanan dan kiri mencari jalan agar bisa lepas dari penjahat bertopeng.
Tak lama kemudian pria itu keluar dari lift juga, keduanya berada di lantai yang sama.
Talisha berlari ke arah tangga, ia menuruninya dengan berlari. Pria itu terus mengejar dirinya hingga ia terjatuh.
Talisha berdiri dengan menempelkan tangannya di dinding. Berusaha sekuat tenaganya berlari walau dirinya sangat lelah.
"Tolong!" Teriaknya dengan air mata berlinang.
Pria itu perlahan mendekati Talisha yang sudah terduduk di lantai dengan mengacungkan pisau.
"Aku mohon, jangan!" Talisha mengiba dengan mengatupkan tangannya.
Ujung pisau kini sudah berada di rahang wajah Talisha.
"Apa salahku?" Ia bertanya sembari menatap pria yang ada dihadapannya dengan bibir bergetar dan ketakutan.
Pria bertopeng itu tak menjawabnya, malah mengangkat pisau dan siap menancapkannya.
Talisha menunduk dan memejamkan matanya.
"Hentikan!" Teriak Ezaz.
Talisha mengangkat kepalanya mendengar suara suaminya, ada perasaan lega dalam hatinya.
Pria bertopeng itu menoleh ke belakang kemudian berlari meninggalkan Talisha.
Beberapa anak buah Ezaz mengejar penjahat bertopeng itu.
Ezaz berlari mendekati istrinya lalu membantunya berdiri.
"Dia ingin membunuhku, Zaz!" Talisha berkata dengan gemetaran.
Ezaz lantas memeluk istrinya. "Aku akan melindungi kamu!"
Talisha menuangkan air matanya di pelukan sang suami.
-
Talisha masih berada di ranjang, tadi ia sempat pingsan karena syok. Ezaz tetap di sampingnya menunggu istrinya sadar. Walaupun Melia berkali-kali menghubunginya.
Talisha perlahan membuka matanya, Ezaz tersenyum lega.
"Zaz..."
"Jangan bergerak, apa yang kau butuhkan biar aku ambilkan?"
__ADS_1
"Apa pria itu sudah tertangkap?"
Ezaz menggelengkan kepalanya.
"Kejadian tadi seperti mimpi ku," ujar Talisha.
"Mimpi?"
"Ya, beberapa bulan ini mimpi itu selalu muncul. Aku sangat takut, Zaz." Talisha kembali meneteskan air mata kecemasan.
Ezaz menggenggam tangan istrinya. "Jangan khawatir, kau aman bersamaku!"
Kedua orang tua Talisha datang menjenguk putrinya setelah mendengar kabar itu tak ketinggalan Bram juga.
Talisha memeluk Lidya, "Mama!" sesampainya mereka tiba di kediaman suaminya.
"Apa yang terjadi?" Lidya mengelus rambut putrinya.
"Seseorang menghentikan taksi yang aku tumpangi ketika hendak ke restoran untuk makan siang," jelas Talisha. "Lalu pria itu memaksa membuka pintu kemudian ia menarik tanganku secara paksa dan membawaku ke gedung tua," lanjutnya menjelaskan lagi-lagi berurai air mata.
Ezaz dapat melihat istrinya itu sangat trauma dengan kejadian itu.
"Kakek tidak akan membiarkan pria itu bebas!" Geram Bram.
"Pa, pria itu sangat berbahaya. Bisa saja target dia itu kita," ujar Lidya.
"Aku tidak peduli dengan kalian, penting bagiku keselamatan cucuku," ucap Bram.
"Gadis itu bukan cucuku!" Jawab Bram.
Radit mengepalkan tangannya, rasanya ia ingin menghajar pria lansia itu.
Ezaz menarik sudut bibirnya melihat rasa kesal mertuanya.
-
Keluarga istrinya sudah pulang, Ezaz membawa kembali Talisha ke kamarnya. Mereka tidur berdua, ia tidak mau meninggalkan wanita itu sendirian.
Talisha lebih banyak melamun, memandangi langit kamar sesekali air matanya menetes.
"Lisha!" Ezaz memanggilnya.
Talisha menoleh ke samping.
"Semua akan baik-baik saja," ujarnya.
"Tidak, Zaz. Sebelum pria itu tertangkap aku tak bisa tenang, banyak orang berusaha ingin mencelakakan aku."
__ADS_1
"Banyak orang? Maksudnya?"
"Lima tahun lalu, aku hampir mati keracunan," jawab Talisha.
"Kau tahu siapa yang meracuninya?"
Talisha menggelengkan kepalanya.
"Jadi menurutmu, seseorang ingin mencelakakanmu lagi?"
"Sepertinya iya," Talisha menjawab lagi. "Setahun belakangan ini, aku selalu saja ditimpa kesialan. Karirku hancur, usaha ku tak berhasil berjalan, terpaksa menikah denganmu dan hampir saja di bunuh," ungkapnya.
"Apa salahku, Zaz? Sehingga mereka menginginkan aku mati," menatap wajah suaminya dengan mata berair.
Ezaz yang masih duduk, mengelus kepala istrinya lalu mengecup keningnya. "Kau tidak salah, aku akan berusaha menjagamu!"
"Terima kasih, Zaz." Talisha tersenyum tipis.
"Tidurlah!" Ezaz menenangkan istrinya.
Talisha mengangguk pelan, tak lama kemudian ia tertidur.
...----------------...
Melia menunggu kekasihnya di restoran dengan wajah cemberut. Tak lama kemudian Ezaz datang.
"Kenapa kamu sulit dihubungi sejak kemarin siang?" protesnya.
"Talisha mengalami syok berat," jawab Ezaz.
"Sekarang kamu sangat perhatian dengannya," ujar Melia.
"Dia dalam bahaya, seseorang ingin mencelakakannya," tukas Ezaz.
"Kenapa dia tidak lenyap saja dari kehidupanmu?" Melia tampak ketus.
"Kamu bicara apa, Melia?"
"Karena dia perhatianmu berkurang, kamu meninggalkan aku sendirian di restoran hanya demi menyelamatkannya. Aku curiga, apa jangan-jangan kamu benar-benar menyukainya?" tudingnya.
"Melia, dia saat ini sedang terpuruk. Apa tidak ada rasa empati di hatimu itu?"
"Aku sangat membencinya karena sudah merebut dirimu dariku!" jawab Melia.
"Kenapa kamu jadi seegois ini, Melia?" Ezaz heran.
"Aku benci kamu!" Melia berdiri lalu meninggalkan kekasihnya.
__ADS_1
-
-