Marry The Star

Marry The Star
Bab 9-Talisha Sakit


__ADS_3

Kini, Talisha sedang diperiksa oleh dokter pribadi Ezaz. Pria itu berdiri di samping dokter, ia memperhatikan tubuh istrinya yang tampak lemah walaupun sudah mulai sadar.


"Mungkin terlalu sibuk sehingga tak memperhatikan kesehatan. Apa Nona makan tidak teratur akhir-akhir ini?" Tanya Dokter wanita berusia 40 tahun itu kepada Talisha.


"Saya memang sibuk, Dok. Sehingga lupa untuk makan dan beristirahat yang cukup," jawab Talisha melirik suaminya.


"Sesibuk apapun Nona, tolong diperhatikan kesehatannya. Apalagi Nona memiliki riwayat penyakit asam lambung," ujar Dokter yang bernama Maya.


"Ya, Dok."


"Kurangi minum kafein," nasehatnya.


"Baik, Dok."


"Ini saya tuliskan resep," menyodorkan kertas kepada Ezaz. "Istirahat yang cukup, jangan lupa makan dan minum yang bergizi," ucapnya.


"Ya, Dok," Talisha mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu, saya pamit pulang. Semoga cepat sembuh," Dokter Maya berdiri kemudian berlalu.


Ezaz memperhatikan resep obat yang diberikan oleh dokter.


"Kau tidak bekerja?" Tanya Talisha dengan suara lemah karena melihat suaminya berpakaian rapi.


"Bagaimana aku bisa kerja jika kau sakit?"


Talisha tertawa kecil, "Ternyata kau sangat perhatian juga!"


"Jangan percaya diri, aku tak ingin sesuatu yang buruk terjadi di rumahku!"


"Benarkah? Kalau begitu, izinkan aku tinggal di apartemen milikku. Jadi, kau tidak akan merasa bersalah jika hal buruk menimpaku," ujar Talisha.


"Lebih baik kau diam dan beristirahat, biar cepat pulih. Aku akan menyuruh pelayan untuk membuatkan bubur untukmu," ucap Ezaz kemudian keluar dari kamar.


-


Talisha makan disuapin oleh salah satu pelayan suaminya. Ia tampak lebih banyak diam karena wanita yang menyuapkannya tak ingin berlama-lama berbicara padanya.


Pelayan wanita itu keluar dari kamar Talisha.


"Apa dia mau makan?" Tanya Ezaz.


"Mau, Tuan. Nona juga sudah minum obat," jawabnya.


Ezaz mengangguk dan pelayan berlalu.


Talisha menyibak selimutnya, ia turun dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi.


Ezaz mendatangi kamar istrinya namun tak melihat wanita itu di tempat tidur, ia memperhatikan kamar mandi pintunya tertutup.


Baru hendak mengetuk pintu, Talisha keluar dari dalam. Wanita itu tampak terkejut melihat suaminya ada dihadapannya. "Kenapa kau di sini? Apa kau ingin mengintipku?"


Ezaz tertawa sinis, "Kau pikir, aku tidak ada pekerjaan sehingga harus mengintipmu!"


"Siapa tahu, kau ingin mengambil kesempatan?"


Ezaz menyentil kening istrinya.


"Auww, sakit!"


"Banyak wanita yang lebih menarik, untuk apa aku mengambil kesempatan darimu?"

__ADS_1


"Siapa tahu kau ingin menyalurkan benda kesayanganmu itu?"


"Apa kau sudah siap?"


Talisha mendelikkan matanya.


"Kau saja belum siap, jadi tak perlu memancing aku dengan pertanyaan bodoh seperti itu!"


Talisha terdiam.


Ezaz melipat kedua tangannya. "Sebenarnya aku berhak atas tubuhmu karena kau sudah menjadi istriku. Jadi, siapkan mental mu untuk melayaniku di ranjang!" Ezaz pun membalikkan badannya.


"Kau bilang tidak selera padaku, kenapa ingin bercinta denganku?"


Ezaz kembali menghadap istrinya. "Apa para pria yang bercinta dengan wanita penghibur itu karena cinta?"


Talisha tak mampu menjawab.


"Mereka melakukannya karena na*su!"


Talisha menelan saliva.


"Jikapun kita melakukannya, itu juga karena ingin memuaskanmu!"


Talisha mengepalkan tangannya.


Ezaz pun berlalu.


Talisha mengeraskan rahangnya. "Aku akan membuatmu mencintaiku!"


Di dalam kamar miliknya, Ezaz terus ngedumel. "Kenapa wanita itu sangat menyebalkan? Siapa pula yang ingin bercinta padanya? Ya, walaupun dia sekarang istriku. Tapi, entah mengapa aku sama sekali tak tertarik padanya?"


.........................


Ezaz tak ingin bertanya apapun.


Talisha mulai menikmati omelet dengan jus jeruk.


Dengan cepat, Ezaz mengakhiri sarapannya. Ia memundurkan kursinya, beranjak berdiri meraih tas kerjanya dan ponselnya.


Talisha ikut berdiri dan menyusul suaminya. "Apa aku boleh bekerja padamu?"


Ezaz berhenti.


Talisha melangkah dan kini dia ada di depan suaminya.


"Tidak ada."


"Aku sungguh bosan di rumah dan aku butuh pemasukan untuk melanjutkan hidupku!"


"Tak ada pekerjaan untukmu," ucap Ezaz.


"Kalau begitu, izinkan aku menerima tawaran iklan," pintanya.


"Tidak boleh, kau hanya model khusus produk di perusahaanku saja," ujar Ezaz.


"Kapan lagi aku bekerja?"


"Mungkin sebulan lagi," jawab Ezaz asal.


"Apa? Selama itu?"

__ADS_1


"Ya."


"Aku ingin bekerja, tak mau di rumah."


"Kalau begitu, kau bekerja saja di perusahaan milik orang tuamu!"


"Bagaimana aku bisa bekerja? Aku tidak mengerti bisnis," wajah Talisha tampak sendu.


"Aku akan mengajarimu," janji Ezaz.


"Benarkah? Kalau begitu aku harus ke rumah papa dan mama," ujarnya.


"Kau boleh ke sana bersama Dena dan tentunya ditemani sopir juga," ucap Ezaz.


"Terima kasih," Talisha tersenyum senang. Ia pun berlari ke kamar mengganti pakaiannya.


Ezaz menarik sudut bibirnya, tersirat senyuman yang sulit diartikan.


-


Keduanya tiba di rumah kediaman keluarga Talisha. Para pelayan menundukkan kepalanya penuh hormat kepada Talisha. Sahabatnya menunggu di ruang di teras sedangkan dirinya masuk ke dalam.


Lidya yang sedang berbicara dengan seorang pria dan wanita di ruang tamu berdiri melihat putri tirinya datang, ia melemparkan senyumnya. Lalu wanita paruh baya itu berbicara kepada kedua tamunya. "Lusa kita akan bicarakan lagi, hari ini putriku pulang."


Pria dan wanita yang ditaksir usianya di bawah 50 tahun pun berpamitan.


Lidya berjalan ke arah putrinya. "Apa kabar, Lisha?"


"Aku baik, Ma."


"Kamu ke sini pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan," tebaknya.


"Tepat sekali, Ma. Aku ke sini untuk bekerja di perusahaan," ujar Talisha.


"Mengurus perusahaan bukan hal main-main, Lisha," ucap Lidya.


"Aku tahu, Ma. Aku juga akan belajar, suamiku seorang pebisnis sukses. Ku bisa mengambil ilmu darinya dan dia siap mengajariku," jelas Talisha.


"Lisha tak semudah itu," ujar Lidya.


"Ini perusahaan milik orang tua kandungku, jadi ku berhak memilikinya," Talisha berkata tegas.


"Ya, Mama tahu kau juga yang kelak akan mengurus perusahaan. Tapi, belum saatnya kami melepaskan untukmu," ungkap Lidya.


"Kapan kalian melepaskannya untukku? Bukankah mulai sekarang aku harus belajar agar ketika kalian menyerahkan perusahaan itu, aku sudah siap?"


Lidya tak bisa menyangkal pernyataan putrinya, ia menghela nafasnya. "Baiklah, kamu boleh bekerja di perusahaan minggu depan!"


"Kenapa harus menunggu seminggu lagi?"


"Papa lagi di luar kota dan kamu bisa belajar terlebih dahulu," jawab Lidya.


"Baiklah, kalau begitu. Aku pamit," izinnya.


"Kamu tidak ingin makan siang bersama Mama?"


"Aku sudah berjanji makan siang dengan suamiku, jadi lagi kali saja."


"Baiklah, kapan-kapan kita akan makan bersama dengan suamimu juga."


"Aku akan memberi tahu suamiku, Ma. Sampai jumpa, terima kasih juga sudah memberikan kesempatan untukku!" Talisha tersenyum ia lalu meninggalkan kediaman mewah itu.

__ADS_1


Lidya menjatuhkan tubuhnya di kursi memijit pelipisnya.


Sementara itu Dena tersenyum puas kala mendengar Talisha berbicara tentang keberhasilannya membujuk Mama Lidya agar mau memberikan izin padanya bekerja di perusahaan.


__ADS_2