
Ezaz bangun lebih dahulu, istrinya masih terlelap dalam tidurnya. Ia menyingkirkan rambut istrinya yang mengenai wajah dan memperbaiki selimut.
Ezaz turun dari ranjang dan keluar dari kamar istrinya. Ia akan bersiap-siap berangkat ke kantor.
Talisha menggeliatkan tubuhnya, ia melihat ke arah sampingnya lalu menarik bibirnya. Akhirnya, mereka tidur bersama walaupun tak melakukan apa-apa.
Menyibak selimut, membersihkan diri lalu kemudian keluar menuju ruang makan.
Talisha tak melihat suaminya di meja makan.
Seorang pelayan memberitahu sebelum wanita itu bertanya. "Tuan sudah berangkat ke kantor lima menit yang lalu, Nona."
Talisha mengangguk.
Pelayan kembali melanjutkan pekerjaannya.
Talisha menikmati segelas susu dan sepotong roti.
Tampak beberapa pekerja rumah mondar-mandir.
Ya, pagi ini pelayan harus menyediakan makanan untuk para pengawal yang berjaga.
Ezaz memerintahkan kepada anak buahnya tak meninggalkan Talisha seorang diri.
-
EA Grup
Ezaz meminta Dika untuk menyediakan kopi dan roti karena ia tak sempat sarapan.
Asisten pribadinya itu membawa pesanan atasannya itu di ruang kerjanya.
Ezaz menyeruput kopi dalam kemasan gelas. Sesekali ia memijit pangkal hidungnya dan menundukkan kepalanya.
"Apa Tuan sedang sakit?"
"Tidak," jawabnya. "Apa kau sudah memberikan pelajaran untuknya?" Tanyanya.
"Sudah, Tuan."
"Dia selalu saja mencari masalah denganku," ujar Ezaz. "Kau sekarang boleh pergi," lanjutnya.
"Apa lebih baik anda beristirahat saja?" Saran Dika.
"Aku hanya sedikit mengantuk," ungkapnya.
"Apa karena Tuan memikirkan penyerangan semalam?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Aku semalam tidur dengan Talisha," jawabnya.
"Oh," ucap Dika singkat.
Ezaz menatap asistennya, "Ini tak seperti kau bayangkan!"
"Saya malah senang, jika Tuan tidur bersama dengan Nona Talisha. Bukankah kalian sepasang suami istri?"
Ezaz tersenyum tipis, "Tapi, aku tidak mencintainya."
"Cinta akan tumbuh dengan sendirinya, itu kata orang-orang. Kalau saya belum pernah mengalaminya," ujar Dika.
"Aku sama sekali tidak tertarik padanya, walau sebenarnya dia sangat cantik. Entah, kenapa hatiku mengharapkan Melia pulang," ucap Ezaz.
__ADS_1
"Jika Tuan masih mencintai Nona Melia, kenapa harus menikahi Nona Talisha?"
"Aku harus membalasnya dengan menikahi putrinya," jawab Ezaz dengan mata penuh dendam.
"Bagaimana jika akhirnya Tuan jatuh cinta padanya?"
Ezaz tersenyum sinis, "Itu takkan mungkin."
"Ya, pilihan mencintai atau tidak itu ada di tangan anda. Saya berharap semoga Tuan tidak pernah menyesalinya," ujar Dika.
-
-
Pukul 9 malam, Ezaz pulang ke rumahnya. Lampu tampak menyala sangat terang benderang. Ia bertanya kenapa seluruh penerangan di nyalakan kepada salah satu pelayan yang sengaja disuruh untuk tidak pulang. Wanita paruh baya itu mengatakan jika Nona Talisha yang memintanya.
"Jadi sekarang dia di mana?"
"Nona sedang dikamarnya, Tuan."
"Ya sudah," ujar Ezaz lalu berjalan ke kamar istrinya.
Mengetuk pintu berulang kali namun tak ada sahutan, ia pun membukanya ternyata kosong.
Ezaz melangkah ke kamarnya, namun ia terkejut kala melihat istrinya tertidur pulas di ranjang miliknya.
Mengeraskan rahangnya, ia bergegas menghampiri dan menarik selimutnya secara kasar. "Siapa yang menyuruhmu tidur di sini?" bentaknya.
Talisha terbangun karena mendengar suara bariton suaminya, ia tampak terlihat cuek. "Kau sudah pulang?" Tanyanya dengan mulut menguap.
"Ya, kenapa kau tidur di sini?"
"Aku ingin tidur bersamamu," jawabnya polos.
"Kita tidak bisa tidur berdua seterusnya," ujar Ezaz.
Ezaz menarik tangan istrinya secara kasar dan menyeretnya turun dari ranjang hingga jatuh.
Talisha sontak kaget dan mengerang kesakitan. "Apakah begini perlakuan seorang suami kepada istrinya?" Sindirnya.
Ezaz jongkok lalu mencengkeram rahang mulut istrinya. "Jangan berharap, aku akan menjadi suami yang semestinya. Jadi, hilangkan harapanmu itu!" Melepaskannya secara kasar.
Talisha tanpa berbicara, ia berdiri lalu berjalan ke kamarnya.
...----------------...
Keesokan paginya, Talisha mendatangi kantor bersama suaminya. Ia akan belajar mengenai bisnis lagi, karena kemarin baru sekali.
Talisha lebih banyak diam, ia berusaha menghindari kontak mata dengan suaminya.
Dua jam selesai belajar, ia berpamitan pulang. Talisha izin ke perusahaan miliknya dan Ezaz mengizinkannya.
Sesampainya di kantor milik orang tuanya, papa sambungnya terkejut dengan kehadirannya.
"Lisha, kenapa tidak mengabari Papa akan ke sini?"
"Aku ingin memberikan kejutan kepada Papa. Apalagi kita jarang bertemu," jawab Talisha.
"Ya, kamu benar."
"Apa Mama sudah memberi tahu Papa?"
"Sudah."
"Jadi, kapan aku mulai bekerja?"
__ADS_1
"Besok pagi."
"Baiklah, besok aku akan kembali lagi ke sini. Sediakan posisi penting untukku di perusahaan ini," pintanya.
"Tidak bisa, kamu baru saja bergabung di perusahaan. Papa tak bisa memberikan posisi tinggi."
"Kenapa? Aku pemilik perusahaan ini," ujarnya.
"Menjalankan perusahaan tidak main-main, Lisha. Kamu harus memulainya dari bawah yaitu sebagai staf."
"Ya sudah, itu juga tak jadi masalah," Talisha beranjak berdiri. "Kalau begitu aku pamit pulang, Pa."
"Apa kamu tidak ingin makan siang bersama Papa dan Mama?"
"Tidak, Pa. Suamiku tak mengizinkannya," jawabnya.
"Kami ini orang tuamu, kenapa dia melarangmu makan bersama kami?"
"Aku tidak tahu alasannya," jawabnya lagi. "Sampai jumpa," ia pun berlalu.
"Apa yang sedang direncanakan Ezaz? Pemuda itu sangat mencurigakan, kenapa sulit sekali mencari tahu tentang keluarganya?"
-
Sesampainya di rumah, Talisha mendapatkan telepon dari Dena jika ada tawaran bermain di sebuah drama di mana dirinya akan menjadi bintang tamu.
"Hanya Ezaz yang bisa memutuskan menerima tawaran ini atau tidak," ujar Talisha.
"Kau bisa merayunya, Lisha," usul Dena.
"Kau saja yang meminta izin kepadanya, bukankah kalian lebih dahulu saling kenal?"
"Baiklah, aku akan mencoba merayu suamimu agar ia mengizinkanmu bermain di drama ini," ucap Dena.
"Ya, semoga saja dia luluh," harap Talisha.
"Semoga saja," Dena pun menutup panggilannya.
Talisha menjatuhkan tubuhnya di ranjang, walau perutnya terasa sangat lapar. "Semoga saja denganku melakukan aktivitas diluar rumah mampu menghilangkan rasa bosanku di sini!" harapannya.
-
Makan malam kali ini Talisha bersama suaminya. Dia hanya bersuara ketika pria itu bertanya.
"Apa kau ingin kembali syuting?"
"Ya, jika kau mengizinkannya."
"Karena ku dengar dari Dena jika syuting ini tidak memakan waktu lama. Aku mengizinkanmu," ujar Ezaz.
"Ya, terima kasih," ucapnya singkat tanpa senyuman.
Ezaz menatap istrinya.
Talisha menyudahi makan malamnya lebih awal, ia memundurkan kursi dan beranjak berdiri.
"Kau belum selesai makan?"
"Aku tidak boleh terlihat gemuk, jadi ku hanya mengisi perutku sekedarnya saja," Talisha bergegas ke kamarnya.
Talisha terpaksa makan malam bersama suaminya karena ingin mengetahui jika pria itu mengizinkannya atau tidak. Padahal perutnya masih terasa lapar.
"Besok kita akan puas-puasin makan di luar," Talisha mengelus perutnya.
Ia pun menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Tak sabar menunggu esok pagi. Karena ia akan terbebas dari rumah tahanan mewah ini.
__ADS_1
Talisha berharap kesibukannya sebagai artis dan pengusaha berjalan lancar dan sukses. "Semoga saja, dia segera melepaskan juga," batinnya.
Dengan cepat ia lalu bangkit dari ranjang dan duduk. "Sampai sekarang aku belum tahu apa tujuan dirinya menikahiku. Aku harus mencari tahu tentang itu," gumamnya.