
Talisha lebih dahulu berada di meja makan, begitu melihat suaminya muncul ia pun bergegas menyudahi sarapan paginya.
Mendekati, meraih tangan suaminya dan mengecupnya. Ia pun berangkat kerja tanpa berkata apa-apa.
Ezaz menatap punggung istrinya yang berjalan keluar.
Talisha pergi ke kantor bersama sopir, karena tak mungkin suaminya mau mengantarkannya.
Sesampainya di sana, ia berjalan ke ruangan papanya untuk menanyakan di mana ruang kerjanya.
Karena seluruh karyawan tahu bahwa Talisha anak dari pemilik perusahaan, mereka pun menunduk hormat.
"Bekerjalah seperti biasanya, anggap saja saya ini adalah karyawan seperti kalian," ujar Talisha saat perkenalan.
"Baik, Nona." Jawab 4 orang yang berada di ruangannya serentak.
Talisha tersenyum senang lalu ia menoleh ke melihat pria yang ada di sampingnya. "Papa, sekarang boleh meninggalkan aku."
"Ya, Lisha." Pria paruh baya itu pun meninggalkan putrinya.
Talisha mulai melakukan pekerjaannya, ia tak malu bertanya kepada para karyawannya. Apa saja yang harus dikerjakan.
-
-
Sepulang kerja Talisha dan Dena bertemu di sebuah kafe. Ya, ia menerima tawaran bermain drama walaupun sebagai bintang tamu. Tak hanya mereka berdua ada 3 orang perwakilan produksi drama menemuinya untuk menjelaskan karakter yang diperankannya.
Talisha tak mempermasalahkan peran yang harus ia mainkan selama tidak melakukan adegan intim.
Pukul 10 malam, ia pulang ke rumah.
"Kenapa jam segini baru pulang?" Suara Ezaz menghentikan langkahnya.
"Aku tadi bertemu dengan Dena dan beberapa orang kru film," jawabnya.
"Memangnya apa yang kalian bicarakan sampai pukul segini?" Protes Ezaz.
"Ya, seputar drama yang akan ku mainkan."
"Oh, kau keluar dari kantor pukul lima sore. Tiba di kafe jam enam. Ternyata panjang sekali pembicaraan kalian sehingga memakan waktu empat jam," ungkap Ezaz.
"Mereka datang jam tujuh, pukul sembilan malam kami pulang ke rumah masing-masing. Di jalanan tadi aku dan sopir terjebak macet karena ada penutupan jalan dan seharusnya aku tiba di sini setengah jam yang lalu. Apa kau tidak menanyakan hal itu kepada anak buahmu?"
Ezaz tak bisa berkata-kata lagi.
"Apa aku harus mengingatkan dirimu, kalau kau tidak ingin mengetahui urusanku?"
"Kau semakin berani saja, Lisha!" Tampak geram.
"Oh, ya. Aku tahu kau memiliki maksud tertentu menikahiku. Walaupun, ku belum bisa membuktikannya apa alasanmu itu!" Talisha memegang kenop pintu kamar lalu masuk.
Ezaz mengepalkan tangannya. "Aku akan menghancurkannya melalui dirimu!"
Talisha mencampakkan tasnya secara kasar. "Katanya tak mau mengurus urusanku tapi nyatanya masih saja peduli dan bertanya. Apa sebenarnya dia mulai menyukaiku?" Penuh percaya diri.
------------
Seperti biasa, pagi ini Talisha sarapan lebih dahulu daripada suaminya. Ia akan pergi setelah Ezaz keluar dari kamar.
Talisha berangkat ke kantor di temani sopir.
__ADS_1
Baru beberapa langkah, terdengar sayup-sayup bisikan para karyawan yang mengatakan kalau 50% saham akan dijual.
Talisha yang baru sehari bekerja lantas mendatangi ruang kerja papanya.
"Ada apa, Lisha?"
"Apa benar saham perusahaan akan dijual?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Tidak ada pilihan lagi untuk menyelamatkan karyawan," jawab pria itu.
"Kenapa semakin ke sini perusahaan ini semakin jatuh?"
"Papa sudah berusaha menjaga keutuhan perusahaan entah kenapa ada saja masalah," ungkapnya.
"Papa sebenarnya niat atau tidak memimpin perusahaan ini atau jangan-jangan ingin menghancurkannya!" Talisha menuding.
"Lisha, tak mungkin Papa ingin menghancurkan perusahaan ini!" Membantah semua tuduhan.
"Aku penasaran siapa yang berhasil membeli saham perusahaan kita," ujar Talisha.
"Kamu akan tahu saat rapat pemegang saham."
"Baiklah, Pa."
"Nanti siang kita akan mengadakan rapat," ujarnya.
Talisha mengangguk mengiyakan, ia lalu kembali ke ruangannya.
-
Pemegang saham terbesar menginginkan jika Talisha menjadi direktur utama menggantikan posisi papanya.
Talisha tampak terkejut begitu juga dengan papanya.
"Ini tak mungkin Tuan Jim, putriku belum mengerti menjalankan perusahaan. Dia baru kemarin bekerja di sini," protes papa.
"Tapi, aku menginginkan dia menjadi pemimpin perusahaan," ujar Tuan Jim.
"Jika anda tak mengizinkan Talisha menjadi direktur, kami akan menarik saham," ancam peserta rapat lainnya.
Pria paruh baya itu pun pasrah.
Rapat pun selesai, peserta rapat memberikan ucapan selamat kepada Talisha.
Kini di ruangan hanya tinggal mereka berdua.
"Pa, aku tidak tahu akan seperti ini," ujar Talisha merasa bersalah.
"Sudah cukup, Lisha. Jalankan perusahaan ini dengan baik," pria itu pun meninggalkan putrinya. Tampak raut kecewa di wajahnya.
-
-
Sepulang kerja Lidya melihat wajah suaminya tampak muram, ia lantas mendekati dan bertanya apa yang terjadi.
"Lisha kini menjadi direktur utama, menggeserkan posisiku," ujarnya.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?"
"Pemegang saham yang baru meminta Lisha."
"Ini yang ku takutkan jika gadis itu memimpin perusahaan," ungkap Lidya.
"Aku pikir setelah menikah dengan pria kaya itu, dia tak memikirkan menjalankan perusahaan," ujarnya.
"Apa suaminya yang mempengaruhinya dan mengajarkan bisnis kepadanya?" Lidya menudingnya.
"Bisa jadi, kita tak pernah tahu asal usul suami Lisha. Bahkan dengan orang tua Ezaz kita sama sekali belum pernah bertemu."
"Ya."
"Apa kau tidak penasaran siapa sebenarnya suaminya Lisha?"
"Aku sebenarnya penasaran, tapi bagaimana kita bisa mengorek informasi tentangnya? Bukankah kau bilang sangat sulit mencari tahunya?" Lidya bertanya.
"Ya, memang sangat sulit sekali. Lisha juga tak pernah bercerita kepada kita," jawabnya.
"Bagaimana kalau kita ajak mereka makan malam bersama?" usul Lidya.
"Itu boleh juga, sekalian kita undang juga mertuanya Lisha."
Sementara itu di tempat lain di waktu yang sama. Talisha melemparkan senyumnya kepada suaminya kala pria itu tiba di rumah. Dengan hati gembira, ia memeluk tubuh Ezaz.
"Apa yang kau lakukan?" protesnya saat istrinya memeluknya.
"Hari ini aku senang sekali," Talisha melepaskan pelukannya.
Ezaz pura-pura bingung.
"Aku naik jabatan," ucapnya dengan bahagia.
"Kau baru bekerja dua hari, cepat sekali naik jabatan," ujar Ezaz.
"Pemegang saham memintaku menjadi direktur utama menggantikan papa," jelasnya. "Padahal ku sudah memberitahu mereka, kalau aku belum terlalu paham tentang bisnis. Tetapi mereka tetap memaksa dan akhirnya papa mengalah," lanjutnya.
"Kau sungguh beruntung sekali," ucap Ezaz.
"Aku malah aneh dengan mereka, kenapa harus memilih diriku," ujar Talisha.
"Kenapa kau tidak tanya tadi?"
"Aku lupa menanyakannya karena tadi masih kaget dengan posisi jabatan ini," jawab Lisha.
"Aku jadi penasaran melihat wajah pria tua itu!" gumamnya tersenyum.
"Kau bicara apa?"
"Papamu tidak marah dengan posisimu saat ini?"
"Aku rasa dia marah," tebaknya.
"Kau tidak ingin menghiburnya?"
"Untuk apa?"
"Biar tidak berkecil hati."
"Tak perlulah, bukankah papa juga yang sudah menjual saham perusahaan milikku kepada orang lain," ujar Talisha.
__ADS_1
"Ya, ini juga salah dirinya," sahut Ezaz.