Marry The Star

Marry The Star
Bab 31 - Perdebatan antara Dito dan Jessica


__ADS_3

Dito tersenyum menyeringai di balik masker yang ia kenakan. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi.


Jessica hampir kewalahan mengejarnya. Beruntung memiliki kemampuan mengemudi dengan baik. Ia akhirnya bisa menghalangi mobil yang dikemudikan oleh pria itu.


Dito memukul setir dan berdecak kesal lalu ia keluar dari mobil.


Jessica berjalan menghampiri pria itu.


"Apa yang kau inginkan, Nona Pengawal?"


"Pengakuanmu!"


"Aku tidak melakukan apa-apa, kenapa minta pengakuanku!"


"Jelaskan maksud dan tujuanmu itu!" desak Jessica.


"Tujuan apa?"


"Aku tahu semuanya," jawabnya.


"Tahu apa, Nona Pengawal?"


"Sepertinya kau harus di beri pelajaran," jawab Jessica. Ia bergegas meluncurkan pukulan pada Dito namun pria itu berhasil menghindarinya.


"Aku tidak menyerang seorang wanita," ujar Dito.


"Kau tidak berani membalasku, tapi kenapa berani menyerang Nona Lisha?"


"Aku tidak pernah menyerangnya!" menjawabnya tegas.


"Kau berbohong!" Jessica mengeraskan rahangnya dan kembali melancarkan pukulannya.


Perkelahian keduanya tidak dapat dielakkan, Dito berhasil mengunci tangan Jessica di posisi belakang.


"Kau bukan lawan ku, Nona!" bisik Dito di samping telinga Jessica. Ia dapat merasakan wangi aroma parfum yang digunakan wanita itu karena posisi wajah berada dekat leher Jessica.


Wanita itu berusaha melepaskan pegangan lawannya namun tak berhasil.


"Sepertinya, Nona Lisha salah memilih pengawal," ujar Dito.


Tak mau di sepelekan, akhirnya Jessica berhasil lepas dari pria itu dan tanpa menunggu lama ia mendaratkan pukulan ke wajah Dito.


Pria itu terhuyung ke belakang memegang bibirnya yang mengeluarkan darah. Karena pukulan Jessica mengenai bagian mulutnya.


Jessica menarik sudut bibirnya.


"Pukulanmu boleh juga, Nona!" sindirnya.


"Jangan pernah menyepelekan aku, Dito Danuja!"


"Kau sangat mengenal namaku, apakah kau sangat begitu penasaran dengan diriku?"


"Ciih, kalau bukan karena tugas. Aku tidak mungkin mencari tahu siapa dirimu!"


"Benarkah?"


Jessica mendekati Dito dan menarik kerah bajunya. "Cepat katakan!"


Dito melepaskan cengkraman wanita yang ada dihadapannya lalu mendorongnya hingga terjatuh.


Jessica tampak kesal hingga mengepalkan tangannya, ia pun berdiri.


"Jangan mencari tahu apapun tentang aku, jika kau tidak ingin celaka, Nona!" Dito pun kembali ke mobilnya.


Jessica mengeraskan rahangnya.


-


Seorang wanita membantu Dito mengobati luka di bibirnya ketika berada di rumah. "Aku sudah mengatakan pada Kakak agar berhati-hati, dia tidak bisa kita anggap sepele."

__ADS_1


"Dia yang mulai menyerang ku!"


"Jangan pernah di layani, jika bertemu dengannya lebih baik menghindar," sarannya.


"Dia lebih dahulu menghalangi mobil Kakak."


"Ya, Kakak bisa kabur."


"Lain waktu, Kakak akan kabur darinya."


"Ya, memang seharusnya."


"Kakak jadi ingin mendekati Nona Pengawal itu?" tiba-tiba Dito berubah pikiran.


"Lebih baik jangan, Kak."


"Kenapa?"


"Dia akan curiga padamu."


"Kakak jadi tertantang mendekatinya," ujarnya.


"Bagaimana kalau Kakak jatuh cinta padanya?"


"Itu tidak mungkin," jawab Dito.


"Aku tak yakin kalau Kakak tidak jatuh cinta padanya," tersenyum merendahkan.


"Kakak yakin karena dia bukan tipe ku!"


"Terserah Kakak saja, yang penting kita tidak ketahuan," ujarnya.


Sementara di tempat lain, Ezaz menemui Melia di sebuah kafe. Ia sengaja mengajak wanita itu bertemu.


Melia tersenyum manis ketika Ezaz duduk dihadapannya.


"Aku tidak ingin berbasa-basi lagi, Melia. Apa kau yang melakukan teror di lokasi syuting iklan perusahaanku?"


"Kenapa kamu melakukan itu, Melia?" tampak marah.


"Aku ingin melenyapkan istrimu!"


"Kamu gila!" mengeraskan rahangnya.


"Ya, karena dia sudah mengambil semua apa yang seharusnya menjadi milikku!"


"Melia, aku tidak menyangka kamu sejahat ini!"


"Aku begini juga karena kau, Zaz!"


"Apa aku tidak salah dengar? Kamu begini karena aku, bukankah kamu sendiri yang berselingkuh di belakangku. Kevin, pria yang menjadi kekasih gelapmu!"


Melia terdiam.


"Kamu ingin menyangkal, aku pikir kamu wanita sempurna ternyata tidak lebih seperti sampah!"


Melia menyiram minuman ke wajah Ezaz dengan mata berkaca-kaca. "Kamu yang melakukannya terlebih dahulu, Zaz. Menikahi wanita lain bukan aku!"


"Kamu sudah berselingkuh sebelum aku menikah dengan Lisha!" ungkap Ezaz.


Melia semakin tersudutkan.


"Jika kamu berani menyakiti Lisha, aku tidak akan segan menghancurkanmu!" ancam Ezaz. "Mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan lagi!" berkata dengan tegas. Ezaz berdiri lalu meninggalkan kafe.


Melia mengeraskan rahangnya. "Brengsek!" makinya dalam hati.


-


Lisha sedang menyiapkan masakan buat makan malam bersama dengan suaminya. Ia menyambut pria itu dengan senyuman hangat. "Hai!" sapanya.

__ADS_1


Ezaz memperhatikan pakaian istrinya yang tampak kotor. "Apa yang kau lakukan sehingga pakaianmu seperti ini?"


"Tadi aku masak makanan kesukaanmu, kita makan malam bareng, ya!" ajaknya.


"Kau tak perlu memasak untukku, aku sedang tidak lapar," Ezaz memilih ke arah kamarnya.


Lisha menyusul suaminya. "Temani saja aku makan," mohonnya.


"Aku sedang tidak ingin diganggu, Lisha!" sentaknya.


Lisha tersentak kaget. "Apa kau sedang ada masalah?"


Ezaz menghela nafas lalu menatap tajam istrinya.


"Oh, baiklah. Kalau kau tidak mau menemani aku makan," Lisha melewati suaminya menuju kamarnya.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dari kamar tak menyapa suaminya menuju meja makan menikmati masakan yang dibuatnya seorang diri.


Karena makanan masih bersisa dan ia hanya mengambil sesendok setiap lauk dan sayur, ia lantas menyuruh pelayan untuk menghabiskannya.


"Nona yakin ini untuk kami semua?" tanya pelayan tersebut.


"Ya."


"Semur daging kesukaan Tuan Ezaz," ujarnya.


"Habiskan saja, dia juga tidak mungkin memakannya," Lisha mengelap bibirnya dengan tisu lalu memundurkan kursinya dan melangkah ke ruang santai meraih majalah kemudian membacanya.


Sejam kemudian, Ezaz keluar dari kamarnya menuju ruang makan namun tak ada makanan sama sekali. Ia lalu bertanya pada pelayan yang kebetulan sedang berada di dapur. "Apa istriku semua yang menghabiskannya?"


"Maksud Tuan masakan yang dibuat Nona?"


"Ya."


"Maaf, Tuan. Nona menyuruh kami untuk menghabiskannya," pelayan menundukkan kepalanya.


Ezaz menarik nafasnya.


"Apa Tuan ingin saya buatkan makanan?" tawarnya.


"Tidak usah," jawabnya. Ezaz meninggalkan dapur mencari keberadaan istrinya.


Lisha memainkan ponselnya sesekali tertawa.


Ezaz berdiri di dekat istrinya.


Lisha mendongakkan kepalanya menatap suaminya. "Ada apa?" tanyanya.


"Kenapa kau tidak meninggalkan makanan untukku?"


"Aku menyuruh pelayan menghabiskannya karena kau bilang tidak lapar," jawabnya lalu mengarahkan kembali pandangannya ke ponsel.


"Ya, aku memang tadi tidak lapar dan sekarang ku sangat lapar," ujar Ezaz.


"Kau bisa menyuruh pelayan memasakkannya, pesan makanan online atau ajak kekasihmu makan bersama di luar. Mudah, kan?"


"Ya, aku bisa saja melakukannya atau menyuruh pelayan. Tapi......."


Lisha kembali menatap suaminya, "Tetapi apa?"


"Tidak jadi," Ezaz membalikkan badannya.


"Katakan saja kau ingin aku yang memasakkannya untukmu," celetuknya.


Ezaz memutar tubuhnya menatap kembali istrinya. "Aku sudah tidak selera lagi!"


"Ya, terserah kau saja. Kalau mampu menahan perutmu yang kelaparan itu!" Lisha berdiri dan hendak berlalu namun lengan tangannya di pegang suaminya.


"Masakan lagi untukku!" pinta Ezaz.

__ADS_1


Talisha tersenyum. "Baiklah, dengan senang hati!" ia pun pergi ke dapur.


__ADS_2