Marry The Star

Marry The Star
Bab 7- Menurunkan Berat Badan


__ADS_3

Talisha kembali ke kamarnya mengganti pakaiannya dengan straight pants dipadupadankan blus.


Ia kembali menghampiri suaminya yang menunggunya di dalam mobil, Talisha melemparkan senyumnya kepada pria yang menikahinya 3 hari lalu. "Bagaimana dengan pakaian aku kali ini?"


"Lebih baik dari tadi," jawabnya.


"Kau sangat aneh, di dalam dan di luar rumah aku tidak boleh menggunakan pakaian seksi. Apa dirimu sedang cemburu?"


"Ikuti saja peraturan dariku, Talisha." Tanpa menatap istrinya.


"Baiklah, suamiku." Tersenyum memandangi wajah Ezaz.


Mobil pun melesat ke kantor.


Keduanya saling diam sesekali Talisha menatap wajah suaminya yang selalu cuek dan dingin.


Sesampainya di kantor, Ezaz mengenggam tangan istrinya memasuki gedung. Hal itu membuat Talisha merasa terkejut sekaligus senang.


Di dalam lift Ezaz melepaskan genggamannya.


"Kau cocok menjadi pemain drama," sindir Talisha.


"Mereka semua tahu, kau adalah istriku bersikaplah seperti seharusnya," ujar Ezaz.


"Ya, baiklah." Talisha tersenyum tipis.


Begitu keluar lift, keduanya pergi ke ruangan rapat tampak Dena hadir. Ya, secara wanita itu adalah manajernya.


Mereka membahas mengenai detail iklan yang akan menggunakan jasa Talisha sebagai modelnya sekaligus jadwal syuting kapan akan dimulai.


Rapat hampir sejam, akhirnya Talisha dan Dena bisa pulang.


Sesuai perintah suaminya, Talisha tak bisa ke mana-mana walaupun hanya menikmati secangkir kopi dengan sahabatnya.


Kembali ke rumah tanpa ada teman, walaupun ada beberapa pelayan tetapi Ezaz melarang para pekerjanya itu untuk berbicara dan mengobrol terlalu lama dengan dirinya.


"Apa yang harus ku lakukan di rumah besar ini?" Batinnya.


Talisha akhirnya memilih berenang sebagai hiburan untuknya yang kesepian. Ia meminta pelayan mengantarkan makanan.


Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, Talisha belum beranjak dari kolam renang padahal sudah lebih dari 3 jam ia berada di tempat itu.


Menikmati kentang goreng dan jus jeruk, ia bersandar di kursi santai.


Tanpa sadar ia tertidur dengan posisi memakai pakaian renang.


Ezaz pulang dari kantor, ia mengedarkan pandangannya mencari istrinya. "Apa kau melihat dia?"


"Nona Talisha, Tuan?"


"Ya, di mana dia?"


"Nona masih di kolam renang, Tuan."


Ezaz menyusul istrinya ke kolam renang, berjalan cepat mendekatinya.


Talisha tidak mengetahui kedatangan suaminya.


Ezaz mengambil handuk lalu melemparkannya ke tubuh istrinya.


Sontak membuat Talisha terbangun, ia membuka kacamata hitam yang dipakainya. "Kau menggangguku saja!" Omelnya.


"Siapa yang menyuruhmu berenang di sini?"


"Tidak ada."


"Lalu kenapa kau berenang?"


"Aku bosan, suamiku. Jadi, daripada bingung harus melakukan apa. Ya, ku berenang saja. Memangnya kau mengizinkan aku keluar rumah?"


Ezaz terdiam, menarik nafasnya perlahan lalu menghembuskannya.


"Kau ingin marah padaku?" Menunjuk wajah memelas.


"Lakukanlah sesuka hatimu di rumah ini," jawabnya.

__ADS_1


"Terima kasih!" Talisha memeluk tubuh suaminya.


Ezaz mendelikkan matanya saat di peluk istrinya, apalagi bagian tubuh atas istrinya menyentuh perutnya.


Dengan cepat ia mendorong tubuh istrinya, "Jangan pernah menyentuhku!"


Talisha hanya tersenyum nyengir.


"Jangan pernah memakai pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhmu dihadapanku!"


"Apa aku boleh menunjukkannya di hadapan orang lain?" Talisha bertingkah menggoda.


Ezaz mengeraskan rahangnya, lalu ia pergi meninggalkan istrinya.


Talisha yang melihat wajah suaminya kesal, tersenyum. Ia lalu mengambil handuk dan menyelimuti tubuhnya.


Dengan bersenandung riang, Talisha berjalan ke kamarnya. Membersihkan diri lalu berpakaian. Setelah itu, ia keluar kamar dan menuju ke meja makan.


Tanpa menunggu suaminya, ia melahap semua makanan yang ada di meja. Sampai ia mengelus perutnya yang tampak membuncit.


Ezaz sudah berpakaian santai, menatap meja yang penuh dengan piring kosong dan kotor. "Kau menghabiskan makanannya semua?"


Talisha menjawab dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau tak takut gemuk? Aku tidak mau memakai model dengan tubuh ideal," ujar Ezaz.


Talisha memperbaiki duduknya menatap suaminya.


"Aku akan menggantinya dengan model lain," ujarnya lagi.


"Jangan mengganti aku!" Talisha memohon dengan suara kencang.


"Kalau tiap hari begini, terpaksa aku menggantinya dan kau harus pasrah terus di rumah," jelas Ezaz.


"Aku janji tidak akan makan banyak lagi," ucapnya.


"Kita lihat saja besok!"


...........................................


EA Grup


Talisha seorang diri memperagakan produk tanpa model pendukung.


Ezaz berada di samping sutradara melihat akting istrinya.


Talisha mulai berlari dan harus berkeringat. Baru beberapa meter saja, napasnya terasa ngos-ngosan.


Sutradara terpaksa menghentikannya. "Sepertinya anda jarang sekali berolahraga!"


"Ya, akhir-akhir ini tak sempat berolahraga," ungkap Talisha.


"Nona, iklan ini membutuhkan tenaga ekstra apalagi tentang minuman energi. Anda juga kelihatan sedikit gemuk. Bisakah turunkan berat badan dalam satu hari ini?" Pinta Sutradara.


"Bisa, Tuan." Penuh keyakinan.


Setelah berbicara dengan Talisha, sutradara berjalan ke arah Ezaz dan mengatakan kalau iklan ditunda sampai esok pagi.


Ezaz mengiyakan penjelasan sutradara. Ia lalu menghampiri istrinya. "Ayo kita pulang!"


Talisha mengangguk menyetujui.


Di perjalanan pulang, Ezaz hanya diam. Talisha yang duduk di sebelah suaminya melirik ragu-ragu.


Sejam kemudian mereka tiba di rumah, Ezaz memerintahkan para pelayan untuk pulang lebih awal.


"Tuan, saya belum masak untuk makan malam," ujar pelayan yang bertugas sebagai juru memasak karena majikannya itu mengatakan akan pulang pada malam hari ternyata baru jam 2 siang mereka sudah tiba.


"Kami akan makan di luar," ucapnya.


"Baiklah, Tuan."


Para pelayan pun berlalu.


Ezaz kini menatap istrinya. "Tak ada makan malam untukmu hari ini!"dengan nada dingin.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kau sudah terlalu banyak makan, hingga tubuhmu buruk seperti itu!"


"Aku bisa lemas kalau tidak makan," ujarnya.


"Aku tidak peduli, iklan harus berjalan. Kau harus berhasil menurunkan berat badan lima kilo dalam waktu semalam," perintah Ezaz.


"Yang benar saja?" Talisha memprotes.


"Aku ini belum sempat makan siang, itu artinya ku tak boleh makan apapun sampai iklan dimulai?"


"Ya, kau harus mampu berlari dengan cepat dan melompat tinggi kalau tubuhmu berat, bagaimana bisa melakukan itu semua?"


"Aku butuh makan untuk menambah tenaga bekerja besok. Bagaimana jika aku sakit?"


"Kau tidak akan sakit."


"Apa aku masih boleh makan roti?"


"Tidak, kau tak cukup makan sepotong roti. Jadi, ikuti perintahku atau iklan ini ku berikan kepada orang lain," ancam Ezaz.


"Ya, baiklah," Talisha pasrah.


Ezaz hendak berjalan ke arah pintu utama.


"Kau mau ke mana?" Tanya Talisha dari kejauhan sebelum suaminya keluar rumah.


"Aku mau makan siang diluar."


"Aku tidak diajak?" Menawarkan diri.


"Kau harus menurunkan berat badanmu!"


Talisha pun hanya bisa terdiam dan membiarkan suaminya pergi.


Ia pun pergi ke kamarnya, mengganti pakaiannya. Lalu berjalan ke dapur melihat isi lemari es dan meja makan tak ada sama sekali makanan.


Talisha menuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya. Ia mulai membersihkan rumah yang ditinggal pelayan pulang sebelum sempat dibereskan.


Hampir 2 jam, Talisha membersihkan rumah.


Ia sangat kelelahan dan akhirnya menjatuhkan tubuhnya di atas sofa yang ada di ruang santai keluarga.


Ia pun tertidur.


Pukul 7 malam, ia terbangun karena perutnya terasa lapar. Tak bisa keluar walaupun memiliki uang untuk membeli makanan.


"Huh, dia sungguh tega sekali!" Keluhnya.


Talisha pun kembali ke kamarnya dan membersihkan diri.


Lalu melanjutkan berolahraga walau dalam perut kosong yang hanya di isi teh manis dan air putih saja.


Beruntung ada beberapa alat olahraga yang tersedia di rumah itu. Ia mulai menggunakannya.


Menghidupkan musik yang sangat memekakkan telinga, Talisha mulai mengikuti irama menggerakkan tubuhnya.


Pukul 9 malam, Ezaz tiba di rumah. Ia menutup telinganya ketika beberapa langkah masuk.


Ezaz berdecak kesal.


Ezaz pun berjalan mengikuti arah musik. Ternyata berasal dari ruang gym tampak istrinya sedang berolahraga. Dengan cepat ia mematikan radio.


Talisha yang sedang treadmill berhenti dan menoleh ke arah radio.


Ezaz berdiri dengan bersedekap dada.


Talisha mengambil handuk kecil yang ada dihadapannya lalu mengelap keringat di kening dan lehernya. Ia berjalan mendekati suaminya.


Ezaz memperhatikan pakaian yang dikenakan istrinya.


"Kau ingin protes karena pakaian aku seperti ini?" Talisha menggunakan celana pendek ketat menampakkan pahanya dan atasannya memakai sport bra.


"Sudah berapa kali aku bilang, jangan menggunakan pakaian yang menunjukkan lekuk tubuhmu di rumah ini!" Ezaz tampak geram.

__ADS_1


"Aku sedang sendirian di rumah lagian juga ku ingin tahu saja apakah perutku membuncit atau tidak," Talisha memberikan alasan.


"Memang sulit berbicara padamu!" Ezaz pun berlalu.


__ADS_2