
Ezaz berlari-lari kecil mencari ruang rawat istrinya, ia begitu khawatir ketika mendengar kabar kecelakaan.
Langkah Ezaz terhenti di sebuah ruangan tempat istrinya di rawat. Ia berjalan menghampiri Talisha yang sedang terbaring di ranjang. Wanita tersebut meletakkan minuman botolnya di atas nakas lalu tersenyum.
"Aku tidak apa-apa, kau tak perlu khawatir," ujar Talisha.
"Aku bukan memikirkanmu tapi mobil milikku, pasti sangat parah kerusakannya," ucap Ezaz.
"Kau hanya memikirkan mobilmu tapi tidak dengan keselamatan istri dan sopirmu. Apa dirimu tak punya perasaan?" Kesalnya.
"Aku peduli dengan sopir, tapi tidak denganmu," jawab Ezaz.
Talisha mengerucutkan bibirnya.
"Sepertinya luka tidak terlalu serius," Ezaz memperhatikan wajah dan tangan istrinya.
"Hanya kepala saja yang sedikit luka, tapi aku sangat syok tadi," ungkapnya.
"Syukurlah kalau begitu, aku mau pulang," ujar Ezaz membalikkan badannya.
Talisha turun dari ranjang, tiba-tiba ia berteriak kesakitan.
Ezaz menoleh.
Talisha memegang kakinya, karena kurang hati-hati ia sampai terjatuh.
"Kau ingin berlama-lama di rumah sakit ini?" Sindir Ezaz.
Talisha menggelengkan kepalanya.
Ezaz kembali melanjutkan melangkah.
Dengan berjalan tertatih, Talisha menyusul suaminya yang melangkah cepat.
Dena yang sedang berada di luar ruangan berdiri dan mendekati sahabatnya. "Kau mau ke mana?"
"Pulang," jawabnya singkat dengan langkah terburu-buru.
Ezaz lebih dahulu masuk ke mobil kemudian istrinya.
Mobil pun meninggalkan rumah sakit.
Sesampainya di rumah, Talisha keluar dari dalam mobil tanpa dibantu suaminya. Ia melakukannya sendiri walaupun Dika dan beberapa pelayan menawarkan bantuan namun ia tolak. "Huh, dia memang aneh!"
-
Makan malam Talisha menyuruh pelayan membawa masakan ke kamar karena ia malas berbicara dengan suaminya itu.
Menikmati semur daging dan tumis brokoli, Talisha menyantapnya dengan lahap sembari menonton drama luar favoritnya. Pelayan datang sejam setelah dirinya makan malam untuk mengambil piring kotor.
"Kenapa dia tidak keluar untuk makan malam?" Tanya Ezaz kepada pelayan ketika wanita itu mondar-mandir dari kamar istrinya.
"Kata Nona, dia malas untuk makan diluar dan maunya di kamar saja, Tuan," tukasnya.
"Ya sudah, yang penting dia mau makan. Jangan sampai dia merepotkan aku lagi. Bibi boleh pulang," ujar Ezaz.
"Baik, Tuan." Pelayan wanita itu pun berlalu.
Selesai makan malam, Ezaz menikmati udara di balkon lantai 2 rumahnya. Duduk di temani secangkir kopi, ia mengerjakan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.
__ADS_1
Talisha yang sudah kenyang dan lelah menonton drama keluar dari kamar. Ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan suaminya. Menyusuri setiap ruangan yang ada di dalam rumah akhirnya ia menemukan sosok yang dicari. "Ini waktunya menarik perhatiannya," tersenyum menyeringai.
"Hai, suamiku!" Melemparkan senyuman terbaik.
Ezaz menoleh sejenak lalu melanjutkan pekerjaannya.
Talisha mendekatinya dengan sengaja tangannya mengelus pundak suaminya.
Ezaz menepis tangan istrinya.
Talisha tetap tersenyum lalu duduk di sebelah suaminya. "Kenapa kau belum tidur?"
"Kau tidak lihat, aku sedang apa?"
"Ya, aku tahu. Sebenarnya aku malas sekali bicara padamu, tetapi entah kenapa malam ini sangat membosankan dan rasanya ingin sekali mencari masalah denganmu," ujar Talisha.
Ezaz menatap istrinya.
"Apa hidupmu sedingin ini, manusia salju?" Sindirnya.
Ezaz tak menggubrisnya.
Talisha meraih cangkir kopi milik suaminya dan ia menyeruputnya.
"Kenapa kau minum kopiku?" Ezaz mulai protes.
"Kita sudah suami istri, tidak masalah 'kan?"
Ezaz menutup laptopnya lalu beranjak berdiri.
"Kau mau ke mana?" Meletakkan cangkir di meja.
"Aku ikut!"
Ezaz mengernyitkan keningnya.
"Maksudnya aku juga mau ikut tidur di kamarku," bergegas menjelaskan.
Ezaz pun membalikkan badannya berjalan lebih dahulu.
Suara kaca jendela pecah bersamaan dengan teriakan Talisha yang cukup kuat.
Ezaz menoleh, melihat istrinya jongkok menutup telinganya dengan kedua telapak tangan sembari memejamkan matanya.
Dengan cepat Ezaz berlari mendekati istrinya lalu berjongkok.
Talisha yang tampak takut masih menutup telinga.
"Lisha!" Panggilnya.
Talisha membuka matanya, lantas memeluk suaminya dengan wajah panik.
Ezaz membantu istrinya berdiri. "Tenanglah!" dengan suara lembut.
Ezaz lantas mengedarkan pandangannya dari atas balkon mencari sesuatu yang dicurigainya. Kejadiannya cukup cepat sehingga ia tak mengetahui pelaku penyerangan.
Ezaz mendekati serpihan kaca yang pecah tampak sebuah batu dibungkus kertas dengan tulisan ancaman.
Ezaz meremas kertas tersebut. "Brengsek!"
__ADS_1
-
Ezaz membawa istrinya ke kamarnya, namun Talisha menolak untuk tidur sendirian karena dalam sehari ini saja sudah mengalami hal yang tak terduga.
"Aku takut, Zaz!" Masih dengan bibir bergetar.
Ezaz meremas bibirnya, ia kelihatan bingung. Tidak mungkin dirinya harus menemani istrinya di kamar berdua.
"Jangan tinggalkan aku sendiri, sepertinya mereka ingin menyakitiku!" Ucap Talisha lirih.
Ezaz menatap istrinya.
"Tadi siang, seseorang menabrak mobil yang ku tumpangi dan tadi....." Talisha tak bisa melanjutkan ucapannya.
"Lisha, tenanglah. Kamu di sini aman, aku sudah menghubungi Dika dan menyuruh pengawal untuk menjaga rumah ini," ujar Dika.
"Tapi, aku takut mereka akan menyerangku kembali."
"Kau bukan target mereka tapi aku," ungkap Ezaz.
"Aku istrimu jadi sasarannya diriku. Kenapa kau harus melibatkanku dalam masalah ini?" Bertanya dengan nada tinggi.
"Aku tidak melibatkan dirimu!" Menjawabnya lantang.
"Kalau kau tidak menikahiku, aku takkan mungkin mengalami kejadian seperti ini!"
Ezaz terdiam, apa yang dikatakan istrinya adalah benar. Seandainya dirinya tak menikahinya tentunya Talisha akan baik-baik saja.
"Lebih baik aku tinggal bersama Dena atau kembali ke rumah orang tuaku," ujar Talisha.
"Tidak, kau tetap di sini. Demi kebaikanmu!" Menekankan kata-katanya.
"Kebaikan apa? Kau ingin aku mati ditangan musuhmu!" Talisha berkata lantang.
"Baiklah, aku akan menemani kamu tidur di sini. Jangan berkata apapun lagi," Ezaz akhirnya mengalah.
"Kau harus berjanji tidak akan meninggalkan aku sendiri di sini saat ku tertidur!" Pintanya.
"Ya, aku janji di sini sampai kau terbangun besok pagi!" Ujar Ezaz.
Talisha merebahkan tubuhnya, menarik selimutnya dan memejamkan matanya.
Ezaz masih berdiri, bingung harus tidur di mana. "Apa aku harus tidur di lantai?"
Menghilangkan rasa ego dan gengsinya, Ezaz akhirnya merebahkan diri di sebelah istrinya.
Sejam di kamar istrinya, Ezaz mulai di serang rasa kantuk. Hendak memejamkan matanya, suara erangan terdengar.
Dengan mata terpejam, istrinya merintih tampak keringat bercucuran. Tak lama kemudian suaranya tak terdengar lagi. Wanita itu kembali terlelap.
"Dia bermimpi lagi!"
Karena dirasa istrinya sudah tenang dan kelihatan tak ada masalah, Ezaz memejamkan matanya.
Beberapa jam kemudian, Talisha menggeliatkan tubuhnya. Tanpa sengaja ia menyentuh sesuatu membuatnya membuka matanya. Ia melihat kakinya kini sudah berada di atas barang berharga suaminya dengan cepat ia menariknya.
Talisha memunggungi suaminya, "Astaga, apa yang dilakukan kakiku? Semoga saja dia tidak merasakan kalau 'adiknya' itu ku sentuh!" merutuki dirinya.
Talisha kembali memejamkan matanya dan menjaga jarak, ia berharap anggota tubuhnya tak menyentuh suaminya.
__ADS_1