Marry The Star

Marry The Star
Bab 34 - Kekacauan Di Perusahaan


__ADS_3

Jessica tetap mengawasi dan menjaga Talisha dari musuh yang lebih besar, Ezaz mempercayai wanita itu untuk melindungi istrinya.


Dito bekerja seperti biasanya, sebagai sekretaris pribadi Lisha di kantor.


Seorang office girl memohon izin kepada Dito untuk memberikan minuman untuk Talisha. "Kamu karyawan baru?"


"Ya, Tuan."


"Saya akan memberikannya, letakkan saja di sini!" menunjuk ke meja kerjanya.


"Tidak, Tuan. Saya ingin memastikan Nona Lisha meminumnya," ucap wanita itu.


Dito dan Jessica mengerutkan keningnya.


"Memangnya ini minuman apa?" tanya Dito.


"Hanya teh hangat saja, Tuan. Karena kata office girl lama Nona Lisha membutuhkannya segera," jawabnya.


"Biar saya yang memberikannya," ucap Dito.


Mau tidak mau karyawan tersebut menyerahkannya kepada asisten pribadi direktur.


Jessica mulai mendekati cangkir teh. "Apa kau tidak mencurigainya?"


"Ya, makanya aku pastikan terlebih dahulu!" Dito memeriksa cangkir ada sesuatu yang mencurigakan itu.


Jessica menyiduk teh dengan sendok kecil dan mencium aroma yang sangat menusuk lalu mengarahkannya kepada Dito.


"Baunya terasa berbeda," ucapnya.


"Bukan seperti teh, minumannya dicampur sesuatu," tebak Jessica.


Dito membawa cangkir ke pantry lalu menyuruh office girl lama untuk membuat yang baru.


"Memangnya ini kenapa, Tuan?"


"Tadi ada lalat," jawabnya berbohong.


"Baik, Tuan. Saya akan buatkan yang baru."


Dito sengaja menunggu wanita paruh baya itu membuatnya agar tak ada orang lain yang memasukkan sesuatu ke dalam cangkir sembari bertanya, "Karyawan baru tadi rekomendasi siapa, ya?"


"Karyawan baru tadi pilihan Tuan Radit, Tuan."


"Begitu, ya," ucapnya.


Dito lalu membawa teh ke ruangan kerja Talisha.


"Kenapa kamu yang membawanya?"


"Tuan Ezaz hanya memastikan istrinya baik-baik saja," Dito pamit dan bergegas ke luar ruangan


Talisha mengerutkan keningnya, karena tak mengerti dengan jawaban dari sekretarisnya itu.


Dito menghampiri Jessica lalu berkata pelan, "Dia suruhan Tuan Radit."


Jessica mengangguk lalu mengirimkan pesan kepada pimpinannya.


-


Sore harinya, Jessica mengantarkan Talisha pulang setelah itu ia pergi ke sebuah gudang kosong. Dito juga berada di sana.


Mereka memakai masker dan kacamata hitam agar target tidak mengetahuinya.


"Siapa yang menyuruhmu?"


"Menyuruh apa? Aku tidak mengerti yang kalian katakan," jawab wanita itu.


"Ibumu di rawat di rumah sakit karena terserang stroke dia berada di kamar nomor tujuh puluh," ucap Jessica.


"Dari mana kalian tahu?" tanyanya, wajahnya begitu ketakutan.

__ADS_1


"Jangan pernah main-main dengan kami, katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya Jessica dengan nada tinggi.


Dito yang berada di sampingnya samping mengusap telinganya karena suara tinggi pengawal pribadi Lisha.


"Tuan Radit."


"Kenapa kau mau diperintahnya?" tanya Dito.


"Aku terpaksa karena memiliki utang padanya dan aku membutuhkan uang untuk biaya rumah sakit ibuku," jawabnya.


Jessica menghela nafasnya.


"Tolong, jangan sakiti ibuku!" pintanya.


"Maukah kau bekerja sama dengan kami?" tanya Jessica.


"Apa jaminan kalian untukku?"


"Kami akan memindahkan rumah sakit ibumu," jawab Jessica.


"Baiklah," ucapnya.


...---------------...


Pagi ini Talisha memasak sarapan buat suaminya. Ya, dia memasak nasi goreng dengan telur ceplok.


Ezaz keluar dari kamar lalu berjalan ke meja makan, ia melihat ada 2 piring nasi goreng.


"Hai, suamiku. Aku memasak sarapan untukmu, semoga kamu suka!" ucapnya sembari menuangkan jus jeruk ke dalam gelas.


Tanpa bertanya Ezaz lantas duduk dan menikmati masakan istrinya.


"Aku akan menyempatkan waktu memasak untukmu!" janjinya.


"Ya, memang seharusnya!" ucap Ezaz.


"Zaz.."


"Kamu tidak pernah lagi menemui Melia, kan?" tanyanya ragu.


Ezaz sejenak menatap istrinya lalu menggelengkan kepalanya.


Talisha tersenyum senang, "Terima kasih, ya!"


"Tapi, aku tidak bisa sepenuhnya melepaskannya," ujar Ezaz.


"Kenapa?"


"Ya, karena aku masih mencintainya!" jawab Ezaz berbohong.


Seketika senyum Lisha memudar.


"Aku sudah berkali-kali berkata padamu, jangan terlalu berharap lebih padaku karena akan menyakitkan," ucap Ezaz mengunyah makanannya.


"Tapi, aku tidak akan menyerah karena aku istrimu dan kita tiap hari bertemu," ujar Talisha tersenyum.


"Terserah kau saja, asal tidak membuatmu bersedih."


"Kita lihat saja siapa yang bersedih aku atau kau!" menarik bibirnya.


Talisha lebih dahulu menyelesaikan sarapannya, ia berjalan ke arah suaminya dan mengecup pipinya. "Aku berangkat kerja, ya. Aku mencintaimu!" tersenyum.


Lisha melangkah cepat ke mobilnya dan meninggalkan kediaman suaminya.


Begitu tiba, para karyawan berkumpul di halaman gedung kantor. Lisha turun dari mobil sampai harus dikawal beberapa petugas keamanan menerobos demonstran.


"Ada apa ini?" tanyanya kepada kepala karyawan.


"Kami minta gaji kami dibayarkan, Nona!" teriak salah satu karyawan.


"Gaji? Bukankah tiap bulan saya menandatangani laporan gaji karyawan?" tanya Lisha lagi.

__ADS_1


"Saya pun juga tidak tahu, Nona. Mereka menuntut dua bulan gaji yang belum dibayarkan," jelas kepala karyawan.


Lisha berdiri menghadap karyawan yang berunjuk rasa. "Saya akan memberikan gaji kalian, tapi saya mohon kalian membubarkan diri dan melanjutkan pekerjaan kalian!" berbicara lantang.


"Kami ingin tahu kapan kepastian gaji diberikan?" tanya salah satu diantara mereka.


"Hari ini juga, gaji kalian akan saya berikan!" berkata tegas.


"Kami tunggu janji, Nona!" teriak mereka.


Lisha berjalan memasuki gedung, di sampingnya ada Dito. "Aku minta padamu urus masalah ini dan siapkan rapat sekarang juga!"


"Baik, Nona!"


Lisha menjatuhkan tubuhnya di kursi kerjanya, ia memijit pelipisnya dan meminta pengawalnya membuatkan teh hangat.


Jessica pergi ke pantry membuatkan pesanan atasannya.


Tak sampai 10 menit, Jessica membawa secangkir teh hangat dan meletakkannya di meja Lisha.


"Terima kasih," ucapnya.


"Ya, Nona."


Lisha menyesap tehnya tak lama kemudian suara pintu terketuk. "Silahkan masuk!"


Dito memberitahu jika rapat akan di mulai 5 menit lagi.


"Saya akan segera ke ruang rapat!" Lisha beranjak berdiri lalu berjalan keluar.


Begitu sampai seluruh staf yang bertanggung jawab dengan gaji karyawan telah berkumpul.


"Jelaskan padaku, kenapa gaji karyawan hingga dua bulan tak dibayarkan?"


"Kami sudah mengeluarkan, Nona. Tapi, Tuan Radit menyuruh kami untuk menundanya dengan alasan keuangan perusahaan tidak mencukupi hal itu," jelas bagian kepegawaian.


"Bagaimana mungkin keuangan perusahaan tidak mencukupi? Penjualan produk kita naik sepuluh persen," ungkap Lisha.


Seluruh staf terdiam.


"Apa yang kalian sembunyikan dariku? Apa kalian ingin bermain curang?" tanyanya dengan tegas.


"Kami tidak ingin bermain curang, Nona." Jawab salah satu peserta rapat.


"Di mana Tuan Radit?" tanya Lisha lagi.


"Tidak masuk kerja hari ini, Nona." Jawab yang lainnya.


Talisha berdecak kesal.


Ruangan rapat seketika hening.


"Rapat selesai, saya ingin gaji karyawan hari ini diberikan paling lambat besok sudah harus selesai. Kalian paham, kan?"


"Paham, Nona!"


Lisha berdiri lalu kembali berkata, "Rapat selesai!" ia lantas keluar ruang.


Lisha mengajak Dito untuk pergi ke rumah orang tuanya.


"Jessica, hari ini kita ke rumah papaku!" ucapnya.


"Nona yakin kita mau ke sana?"


tanyanya.


Lisha menghentikan langkahnya, "Memangnya kenapa?"


"Tidak apa-apa, Nona!"


"Ambilkan tas di ruang kerjaku, sekarang!"

__ADS_1


"Baik, Nona."


__ADS_2