
Sudah 30 menit, Talisha tak kunjung keluar dari kamar mandi. Ezaz tampak khawatir ia pun turun dari ranjang dan mengetuk pintu. Namun tak ada jawaban, ia memegang kenop pintu dan membukanya.
Ezaz melihat istrinya berendam di bathtub dengan mata terpejam. Ia lantas mendekati dan menarik tubuh Talisha.
Wanita itu tersentak kaget lalu mendorong suaminya secara kasar. "Apa yang kau lakukan?" Sentaknya.
"Aku pikir kau pingsan," jawab Ezaz.
Talisha dengan cepat meraih handuk, "Kau sengaja ingin mengambil kesempatan dariku lagi, ya!" tudingnya.
"Pikiranmu selalu buruk!"
Talisha keluar dari bathtub, sengaja menyenggol tubuh suaminya secara keras lalu ia melangkah.
Ezaz mengikuti langkah istrinya.
"Kau ingin melihat aku berpakaian juga!" Sentaknya.
Ezaz tak menggubrisnya memilih ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Talisha sudah berdandan sangat rapi, menatap cermin.
Ezaz tak memperdulikannya, ia meraih nakas dan meminta Dika untuk membawa pakaian untuknya.
"Aku belum membayar tagihan kamar hotel ini, jadi tolong bayarkan," pinta Talisha, meraih tangan suaminya dan mengecupnya lalu melangkah.
"Aku akan mengantarmu kerja," menawarkan diri.
"Aku akan terlambat jika harus menunggumu berpakaian," Talisha membuka pintu kemudian berlalu.
-
EA Grup
"Tuan, ini laporan yang kemarin," Dika meletakkan berkas di atas meja kerja atasannya.
Ezaz tak menghiraukannya.
"Tuan!" Dika memanggil.
"Ya, ada apa?" Kelihatan bingung.
"Apa anda baik-baik saja, Tuan?"
"Jika kita melakukannya sebanyak dua kali, bisa membuatnya hamil?"
"Maksudnya apa, Tuan?" Dika mengerutkan keningnya.
Ezaz memijit pelipisnya.
"Tuan, apa saya perlu memanggilkan dokter?"
"Tidak."
"Wajah anda terlihat pucat dan sepertinya banyak sekali masalah yang dihadapi," tebak Dika.
"Ini masalah besar," ujarnya.
"Memangnya masalah besar apa Tuan selain dengan Kevin?"
"Masalah dengan dua wanita," jawabnya.
"Memangnya Nona Talisha sudah tahu sebenarnya?"
"Belum."
"Lalu?"
__ADS_1
"Semalam aku melakukannya dengannya," jawab Ezaz.
Dika tersenyum mendengarnya.
"Kenapa kau tersenyum?" Menatap curiga.
"Pantas saja, Tuan menginap di hotel dekat kantor Mira Grup ternyata bersama Nona Talisha."
"Aku tidak sengaja bertemu dengannya dalam keadaan mabuk di papah pria lain. Ya, aku tak ingin saja kalau pria itu berbuat jahat padanya," jelas Ezaz.
"Dan ternyata Tuan adalah pria yang jahat itu," celetuk Dika.
"Hei, aku bukan pria jahat. Kami melakukannya juga karena terpaksa," membela diri.
"Anda dalam keadaan sadar tetapi Nona Talisha tidak. Bukankah Tuan sudah mengambil kesempatan?"
Ezaz tak dapat menjawabnya.
"Saya yakin, suatu saat pasti Tuan akan jatuh cinta pada Nona," ujar Dika.
"Itu tidak mungkin, aku hanya mencintai Melia," ucapnya penuh keyakinan.
"Bagaimana kalau Nona Lisha hamil? Tentunya Tuan akan menjadi seorang ayah," Dika sengaja mengatakannya.
"Tak mungkin dia hamil," menepis keraguan.
"Semoga saja," Dika tersenyum mengejek.
-
Sementara itu, Talisha di ruangan kantornya memikirkan kejadian semalam. Ya, memegang kepalanya dengan kedua tangannya. "Bodoh...bodoh...suamimu itu tak menginginkanmu kenapa kau tidak sadar jika bersamanya?" Memaki diri sendiri.
"Sepertinya aku harus membuatnya bertanggung jawab atas perbuatannya," batinnya.
"Tapi, bagaimana?" Bertanya pada diri sendiri.
Selesai bertelepon, Talisha menuju kafe terdekat menemui Dena.
Tak sampai 15 menit menunggu, Dena akhirnya datang.
Tanpa basa-basi, Talisha lantas bertanya, "Kenapa bukan kau yang mengantarkan aku ke hotel?"
"Aku sengaja," jawabnya.
"Apa?" Talisha terkejut. "Kau menyuruh pria lain mengantarkan pulang. Bagaimana jika dia melakukan hal buruk kepadaku?" Tampak kecewa.
"Aku menyuruh Andre bukan pria lain. Lagian juga suamimu yang akhirnya membawamu ke kamar hotel," jawab Dena santai.
"Kau pasti sengaja juga menyuruh Ezaz ke hotel tempatku menginap, kan?" Tebaknya.
"Ya, aku dan Dika sengaja membuat Ezaz menemuimu. Seandainya ia tak datang, aku juga yang membawamu ke kamar hotel. Karena ku ada di sekitar sana," jelas Dena tersenyum.
"Ya, karena tingkah konyolmu itu. Aku harus merelakan kesucianku pada pria yang tak pernah mencintaiku," ujar Talisha sendu.
"Hei, ini cara ampuh menjeratnya. Jika kau hamil, ia takkan mungkin melepaskanmu," Dena menyakinkan sahabatnya.
"Itu jika hamil, kalau tidak?"
"Kau harus cari cara lain untuk menaklukannya," jawabnya.
"Ya, tapi apa?"
"Apa kau benar-benar menyukainya?"
"Ya."
"Nanti kita akan bicarakan lagi, setelah mengetahui kau hamil atau tidak," ujar Dena.
__ADS_1
...----------------...
Beberapa hari kemudian.....
Sejak kejadian di hotel, Ezaz dan Talisha sama-sama memilih diam.
Serumah tapi tidak ada obrolan sama sekali, berpapasan pun tak saling menyapa.
Lisha lebih banyak melakukan aktivitasnya di dalam kamarnya.
Makan malam hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring.
"Kapan kita makan malam bersama orang tuamu?" tanya Ezaz.
"Terserah kau saja," jawabnya singkat
"Bagaimana kalau besok malam?" usul Ezaz.
"Baiklah," Talisha menerima usulan suaminya. Selesai makan malam ia bergegas ke kamarnya dan memberi tahu orang tuanya.
Ezaz yang hendak memejamkan matanya, tersentak ketika mendengar ponselnya berdering. Ia lantas menjawab panggilan tersebut.
"Sayang, besok pagi aku akan tiba di sana. Jemput aku di bandara, ya!"
"Ya," jawabnya malas.
"Kamu seperti tak suka aku pulang," ujar Melia dari kejauhan.
"Aku suka dan sangat senang mendengarnya," berusaha menyakinkan.
"Ya sudah, sampai jumpa. Aku merindukanmu," Melia tampak begitu bahagia.
"Aku juga," Ezaz berucap sangat terpaksa.
Meletakkan ponselnya di atas nakas kembali, lalu menjatuhkan tubuhnya ke ranjang. "Bagaimana jika Melia tahu kalau aku tidur bersama wanita lain?"
......................
Keesokan harinya, Ezaz menjemput kekasihnya di bandara sesuai janjinya. Keduanya saling berpelukan dan melepaskan rindu.
Melia tersenyum bahagia bisa kembali bertemu dengan pria yang ia sukai. Namun, tidak dengan Ezaz yang kelihatan memikirkan sesuatu.
"Sayang, kamu tidak bahagia aku di sini?" Melia menatap wajah kekasihnya.
"Aku sangat bahagia," pura-pura tersenyum.
"Apa ada sesuatu yang menggangu pikiranmu?"
"Tidak ada," jawabnya.
Melia tersenyum, "Baguslah!"
Keduanya menikmati sarapan pagi bersama di restoran tak jauh dari bandara. Tanpa Ezaz tahu, istrinya juga ada di tempat itu sedang mengadakan rapat.
Talisha yang melihat keakraban dan kemesraan suaminya dengan wanita lain berusaha sabar. Ia harus bersikap profesional apalagi kini bersama dengan klien.
Sejam berada di restoran yang sama membuat Talisha hampir kehilangan konsentrasinya. Namun, ia mencoba tenang.
Akhirnya rapat selesai, ia menyuruh asistennya lebih dahulu kembali ke kantor dan pria itu mengiyakan.
Talisha berjalan mendekati meja yang diduduki suami dan selingkuhannya. "Apa kalian sudah selesai mengobrolnya?"
Ezaz tampak kaget, ia lalu melepaskan jemari Melia dari tangannya.
"Aku tidak apa-apa, kau jangan khawatir," Talisha tersenyum walau hatinya marah.
"Ya, baguslah," sahut Melia.
__ADS_1
"Kita lanjutkan ini di rumah," Talisha melemparkan senyuman menyindir kepada suaminya kemudian ia berlalu.