Marry The Star

Marry The Star
Bab 20 - Talisha Dalam Bahaya


__ADS_3

Ezaz keluar dari kamar setelah istrinya sudah terlelap tidur. Ia menanyakan kepada pelayan apa ada seseorang yang datang berkunjung. Mereka menjawab kalau sekretaris Talisha yang bertamu.


"Apa kalian tahu yang dilakukan pria itu pada istriku?"


"Tidak, Tuan. Mereka mengobrol di teras samping rumah, kami tak tahu membicarakan tentang apa," jelas salah satu pelayan.


"Sejak kapan istriku menjerit ketakutan seperti tadi?" tanyanya lagi.


"Setelah tamu Nona Talisha pergi."


"Ya sudah, terima kasih," Ezaz pun kembali ke kamarnya.


Ia terus berpikir, apa sekretaris istrinya itu adalah pria yang dimaksud. Tapi, ia tidak punya bukti menjeratnya. Ezaz menatap Talisha yang sedang terlelap tidur. "Dia belum bisa dimintai keterangan," batinnya.


Ezaz belum beranjak dari kamar istrinya, ia masih setia menunggu wanita itu. Memandangi wajah Talisha yang tampak pucat dengan mata sembab.


Talisha menggeliatkan tubuhnya.


Ezaz lantas mendekatinya.


Talisha menatap sekedarnya lalu duduk ia mengedarkan pandangannya di sekitar kamar.


"Lisha, ada apa?"


"Dia masuk ke kamar ini, Zaz. Coba periksa kamar mandi atau lemari," titahnya.


"Lisha, tak ada siapapun di sini yang ada hanya kita," jelas Ezaz.


"Zaz, dia mengetuk pintu kamar lalu memaksa masuk," ungkap Talisha.


"Aku sudah bertanya pada pelayan, kalau ada tamu ke sini yaitu sekretaris dirimu. Dan mereka juga mengatakan kalau kalian mengobrol di teras samping rumah," tutur Ezaz.


"Setelah Dito pergi, dia masuk ke kamar, Zaz!"


"Aku akan memeriksa kamera pengawas," ujar Ezaz.


Ezaz membuka ponselnya, ia dan istrinya


melihat tak ada pria yang masuk ke kamar.


"Kenapa tidak ada?" Talisha bingung.


"Memang tak ada orang lain yang masuk ke kamar, Lisha."


"Aku tak berbohong, Zaz."


"Kau lihat sendiri 'kan, tidak ada orang yang masuk kecuali aku dan pelayan," ujar Ezaz.


"Dia benar-benar masuk, Zaz. Dia menodongkan pisau kepadaku," Talisha menjelaskan dengan gemetaran karena takut.


"Lisha, aku tahu. Kejadian kemarin itu sangat membuatmu trauma, tapi jangan berhalusinasi seperti ini," ujar Ezaz.


"Aku tidak berbohong, Zaz!" Berkata dengan tegas.


"Lisha, aku lelah dengan tingkahmu seperti ini. Kau sengaja berpura-pura trauma agar aku selalu di dekatmu, kan!" Ezaz menuding.


"Tidak, Zaz!" Talisha menggelengkan kepalanya.


Ezaz pun berlalu.


Sementara Talisha terduduk di ujung ranjang menangis terisak, ia pun berteriak sekencang-kencangnya.


Ezaz mendengarnya dan membiarkannya.


-


Menyandarkan tubuhnya di dinding ranjang, dengan tatapan kosong. Terkejut ketika seorang pelayan mengetuk pintu.


"Nona, saya membawakan makan malam."


"Ya, silahkan masuk!"

__ADS_1


Pelayan masuk membawa nampan berisi makanan, ia meletakkannya di atas meja.


"Di mana suamiku?"


"Tuan Ezaz tadi keluar sampai sekarang belum pulang," jawabnya.


Talisha pun diam tak bertanya lagi.


-


Suara pintu terbuka, berjalan pelan. Mengangkat pisau dan siap menusukkannya.


Talisha tersentak bangun dengan cepat ia menendang tubuh pria bertopeng. Ia pun berteriak, "Tolong!"


Talisha turun dari ranjang dan berlari ke arah pintu.


Pria itu menarik rambut Talisha secara kasar sehingga terjatuh.


Talisha merintih kesakitan memegang rambutnya dengan menangis.


"Kau harus mati!" Menekankan kata-katanya.


Talisha menggelengkan kepalanya, memohon ampunan.


"Kau telah merebut semuanya dariku, Lisha!"


"Apa yang telah aku lakukan?" Talisha bertanya dengan air mata terus menangis.


"Bukan kau!" Jawabnya. "Tapi, kedua orang tua kandungmu itu yang sudah membuat keluargaku berantakan!" Lanjutnya.


"Baiklah, lakukan itu!" Talisha memejamkan matanya namun buliran kristal masih menetes.


Pria itu menatap wajah wanita itu namun ia melepaskannya.


Talisha membuka matanya dan menatap pria bertopeng itu terdiam. "Jika itu bisa membuat kau memaafkan kedua orang tuaku, lakukanlah!" Masih dengan mata berkaca-kaca.


Pria itu memilih keluar dari kamar.


Talisha lantas terduduk di lantai ruang tamu dengan keadaan lelah, tak lama kemudian ia pingsan.


Ezaz yang baru saja pulang, terkejut melihat istrinya tergeletak tak berdaya di lantai.


"Lisha!" Panggilnya dengan wajah panik.


Namun, Talisha tetap diam.


Ezaz memanggil para pelayannya, lagi-lagi satu orang pun tak ada yang datang.


"Kemana mereka?" gumamnya.


Ezaz mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar.


Tampak kamar sangat berantakan.


Ezaz keluar memanggil para pelayannya, "Mereka ini sedang apa? Pagar tak terkunci, tak ada penjaga juga di depan," ia menggerutu.


Ezaz mengetuk pintu kamar salah satu pelayan dengan sangat kuat sehingga 2 orang pria yang ada di kamar itu terkejut dan terbangun dengan terburu-buru membuka pintu.


"Ada apa, Tuan?" Tanpa bersalah salah satu diantaranya bertanya.


"Apa kalian tidak tahu kalau istriku pingsan di ruang tamu?" Bentak Ezaz.


"Nona pingsan? Maaf Tuan kami tidak tahu," jawabnya menunduk.


"Kami sangat mengantuk sekali, Tuan," ucap yang lainnya.


"Bangunkan yang lainnya, aku perlu bicara pada kalian!" Ezaz berkata dengan nada marah.


"Baik, Tuan," ucap keduanya.


Ezaz kembali ke kamarnya memastikan istrinya telah sadar atau tidak. Ia membelai wajah Talisha dan mengelus rambutnya.

__ADS_1


Mendapatkan sentuhan, Talisha terbangun menepis sebuah tangan. Ia lantas terduduk, meraih bantal dan memukul pria yang ada dihadapannya dengan benda tersebut berkali-kali. "Pergi sana!"


"Lisha, ini aku suamimu!" Ezaz bergegas berdiri dan menghidupkan lampu kamar.


Talisha melepaskan bantal yang dia pegang, lalu terduduk dan kembali menangis.


"Aku melihatmu tergeletak di ruang tamu, apa yang sebenarnya terjadi?"


"Lebih baik aku mati, Zaz," menekuk kakinya dan memeluknya.


"Katakan apa yang terjadi?" Ezaz berjalan mendekat.


"Percuma aku mengatakannya, kau tidak akan percaya," berbicara dengan posisi menunduk.


Ezaz ingin bertanya lagi namun pintu kamar di ketuk, ia bergegas membukanya.


"Seluruh pelayan sudah berkumpul, Tuan!"


"Ya," Ezaz menutup kembali pintunya setelah pelayan berlalu.


Ia berjalan mendekati istrinya, "Sepertinya telah terjadi sesuatu padamu, tetapi penjaga dan para pelayan tak mendengarnya. Aku akan menemui mereka dan bertanya," ujarnya.


Talisha mengangguk.


Ezaz berjalan menemui para karyawannya. "Apa yang terjadi sebelum kalian tertidur?"


"Kami menyantap kue pemberian dari Nona Dena, Tuan," jawab salah penjaga keamanan.


"Dia ke sini dengan siapa?" Ezaz kembali bertanya.


"Sendirian," yang lainnya menjawab.


"Setelah itu apa yang terjadi?"


"Sangat mengantuk sekali, Tuan," jawab pelayan lainnya.


"Itu artinya kalian sama sekali tidak mendengar istriku meminta tolong dan menjerit?"


Semuanya menggeleng.


"Istriku hampir saja celaka karena kelalaian kalian!" Bentak Ezaz.


Para karyawan menunduk bersalah.


"Kamar berantakan, dia sampai pingsan di lantai. Bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padanya?" Bertanya dengan nada tinggi. "Aku tidak akan memaafkan kalian!" Berkata tegas.


Ezaz memijit pelipisnya. "Sekarang kalian bisa bubar, pastikan hal seperti ini takkan terjadi lagi!"


"Ya, Tuan," serentak menjawab. Seluruhnya pun membubarkan diri.


Ezaz kembali ke kamar, Talisha masih menunggu suaminya.


"Kenapa kau mengumpulkan mereka?"


"Aku ingin mengetahui di mana mereka saat kejadian," jawabnya.


"Lalu mereka menjawab apa?"


"Apa Dena tadi kemari?" Ezaz tak menjawab malah balik bertanya.


"Ya, dia menjengukku," jawab Talisha.


"Mereka mengatakan sehabis makan kue pemberian Dena malah jadi ngantuk," ujar Ezaz.


"Jadi, kau menuduh Dena terlibat dalam kejadian ini?" Talisha menebak.


"Tidak, aku cuma curiga saja."


"Aku tidak percaya dia melakukan hal buruk kepadaku, Zaz."


"Aku hanya curiga saja, lagian bukti tidak terlalu kuat," ujar Ezaz.

__ADS_1


__ADS_2