Marry The Star

Marry The Star
Bab 15- Akhirnya


__ADS_3

Talisha kembali berangkat ke lokasi syuting pukul 6 pagi, padahal semalam ia sampai rumah hampir jam 12 malam. Tanpa sarapan, ia berpamitan kepada suaminya.


Ezaz hanya menatap wanita dari kejauhan.


Talisha tampak kesusahan dengan membawa tas yang di kalungkan di lengan tangan kanannya dan tangan kirinya menjinjing tas yang cukup besar.


"Sudah seperti orang yang mau pindah rumah saja," Ezaz membatin.


Ponselnya kembali berdering tertera nama Melia, ia pun mengangkat dan menjawabnya.


"Sayang, sepertinya aku akan mempercepat kepulangan," ujarnya.


"Kenapa?"


"Aku sudah rindu padamu dan ku tak mau kamu semakin dekat dengan istrimu itu," jawabnya.


"Melia, harus berapa kali ku bilang kalau aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu," ucap Ezaz.


"Zaz..."


Ezaz membalikkan badannya dengan cepat menutup panggilan teleponnya, tersenyum kaku.


"Aku ingin memberitahumu kalau malam ini ku tidak pulang ke rumah. Aku tidur di hotel dekat kantor, jadi berangkat kerja dari sana," ujarnya.


"Ya, tidak apa-apa," Ezaz berkata gugup.


Talisha tersenyum tipis, ia pun memutar balik tubuhnya.


"Hati-hati," ucap Ezaz.


Talisha menoleh sebentar lalu melangkah.


Ezaz menghela nafas lega memegang dadanya.


-


-


Karena istrinya tak pulang ke rumah, Ezaz pun juga. Ia tidur di hotel bersebelahan dengan perusahaan miliknya.


Hendak merebahkan tubuhnya di ranjang, sebuah notifikasi pesan ke ponselnya. Foto-foto adegan syuting drama istrinya dikirim seseorang.


Tampak Talisha tersenyum begitu manis dihadapan seorang pria. Ezaz menganggapnya hanya biasa.


Namun, foto selanjutnya memperlihatkan jika istrinya memeluk pria lain. Kelihatan sangat mesra belum lagi kedekatan keduanya di sebuah restoran.


"Ciih, mereka pikir aku cemburu melihat kedekatannya," Ezaz menutup ponselnya dan meletakkannya di atas nakas.


Ia pun membaringkan tubuhnya menatap langit-langit kamar. Bayangan foto istrinya dengan pria lain mengganggu pikirannya.


Ezaz ingat kala Talisha membantu mengobati luka di wajahnya dan memeluk dirinya ketika penyerangan terjadi di balkon.


Ezaz kembali duduk dan mengacak rambutnya. "Kenapa aku jadi memikirkannya?"


Meraih ponselnya dan menghubungi Melia namun tak ada jawaban. "Ke mana dia?" gerutunya.


Karena tak dapat memejamkan matanya, ia meraih jubah panjang yang dapat menahan dinginnya malam. Ia pun memilih keluar dari kamar hotel, sekedar berkeliling menaiki kendaraan pribadinya.


Ezaz mengendarai mobilnya ke arah kantor istrinya. Entah, kenapa perasaannya ingin berjalan ke sana.


Perjalanan dari hotel tempatnya menginap dengan kantor istrinya sekitar 15 menit.


Ezaz memelankan laju kendaraannya kala melihat sepasang pria dan wanita berjalan berdua.

__ADS_1


Tampak seorang pria memapah wanita kemungkinan dalam keadaan mabuk.


Ezaz mengenal sang wanita, ia lantas menghentikan mobilnya lalu turun. Dengan cepat ia berjalan mendekati keduanya.


"Lisha!" Panggilnya.


Kedua orang itu menoleh.


"Kau siapa?" Tanya pria itu.


"Aku suami dari wanita ini!"


"Jadi, kau suami dari Talisha? Baiklah kalau begitu aku serahkan dia kepadamu!" Pria itu menyodorkannya kepada Ezaz.


"Dia kenapa?"


"Dia terlalu banyak minum, padahal aku sudah melarangnya."


"Lalu di mana Dena?"


"Aku tidak tahu di mana wanita itu, dia hanya menitipkannya kepadaku untuk mengantarkan Talisha ke hotel ini."


Ezaz mengangguk paham.


"Kalau begitu aku pamit pulang," pria itu pun pergi.


Ezaz kini memeluk tubuh istrinya. Ia membawanya ke dalam hotel. Setelah tahu di mana kamarnya, ia merebahkan tubuh wanita itu.


Tampak kancing baju Talisha terlepas belum lagi ujung dress tersingkap sehingga kelihatan paha mulusnya.


"Kau ingin menjual tubuhmu dengan pakaian seperti ini," ocehnya.


Talisha bangkit lalu meracau, "Apa dia di sini? Kenapa suaramu seperti dia?"


"Suamiku yang aneh itu!" Celoteh Talisha dengan mata terpejam.


"Aneh?" Ezaz mengerutkan keningnya.


"Ya, sangat aneh." Masih dengan mata tertutup.


"Aneh kenapa?"


"Dia tidak mencintaiku, tapi menikahiku. Kan, cukup aneh. Aku curiga jika dia ingin sesuatu dariku," jawab Talisha tanpa sadar.


"Memangnya apa yang menarik darimu?" Tanya Ezaz penasaran.


"Kau ingin tahu?" Balik bertanya.


"Ya." Ezaz menjawabnya.


Talisha berdiri lalu membuka dress yang ia kenakan.


Ezaz mendelikkan matanya kala melihat tubuh istrinya hanya menggunakan pakaian dalam.


Tanpa sadar Talisha menurunkan kain penutup area pribadinya.


Ezaz meraih selimut kemudian berdiri lalu menutupinya. "Apa yang kau lakukan, hah?"


Talisha menarik kerah baju suaminya dan mencium bibirnya dengan rakus ia tak membiarkan pria itu melepasnya.


Ezaz yang terpancing membuka pakaian miliknya. Membalas setiap sentuhan yang dilancarkan istrinya.


Tak memperdulikan ucapannya yang dahulu, ia menikmati permainan Talisha yang begitu penuh gairah dan melanjutkannya di atas ranjang.

__ADS_1


...----------------...


Talisha menggeliatkan tubuhnya dan merasakan sakit di selangkangannya, ia menoleh ke samping dan melihat seorang pria memunggunginya. Ia lantas duduk dan memperhatikan tubuhnya yang bugil. "Apa yang aku lakukan?" tampak panik dan bingung.


"Aku harus berkata apa pada suamiku," batinnya.


Seingatnya ia semalam menghadapi acara temannya yang kebetulan baru tiba di negara ini. Ia menenggak beberapa gelas minuman keras dan tak tahu jika dirinya akan mabuk.


Dengan memberanikan diri, ia melihat sosok pria yang telah merenggut kesuciannya. Talisha menarik sudut bibirnya, ia bisa bernafas lega karena suaminya yang telah melakukannya.


"Tapi, kenapa dia tahu aku di sini?" Talisha bingung.


Ezaz membuka matanya, ia terjengkang kaget melihat istrinya kini ada dihadapannya.


"Kau harus bertanggung jawab!" Talisha menunjukkan wajah marahnya.


"Tanggung jawab apa?"


"Kita sudah tidur seranjang, Zaz!"


"Memangnya kenapa?" tampak masa bodoh.


"Kau ingin meninggalkan aku setelah apa yang dirimu lakukan kepadaku," jawab Talisha.


"Kita sama-sama menikmatinya dan kau duluan yang memulainya," ujar Ezaz santai.


"Kau bisa menolaknya, bukan mengambil kesempatan saat aku tidak sadar!"


"Kau beruntung aku yang mengambilnya bukan orang lain!"


"Aku tidak masalah jika orang lain yang melakukannya, ku akan meminta pertanggungjawabannya untuk menikahiku!"


"Kau masih istriku," ujar Ezaz.


"Dengan itu juga, aku bisa terlepas darimu!"


Ezaz tampak kesal, ketika istrinya mengatakannya.


"Kau juga tidak mencintaiku, jadi untuk apa kita melanjutkan pernikahan ini," Talisha turun dari ranjang perlahan, ia hampir terjatuh ketika hendak pergi ke kamar mandi.


"Apa perlu aku bantu?" menawarkan diri.


"Tidak!" jawabnya lantang.


Ezaz sampai terkejut.


Talisha menutup pintu kamar mandi secara kasar.


Ezaz mengacak rambutnya, "Kenapa aku bisa bertindak sebodoh ini?" merutukinya.


Ezaz meraih ponselnya, tampak beberapa panggilan dari kekasihnya. Ia pun menghubungi wanita itu tak lama kemudian diangkat.


"Sayang, kamu ke mana saja? Aku berkali-kali menghubungimu namun tak dijawab," cecar Melia.


"Aku minta maaf, semalam sangat ngantuk sekali," ucapnya berbohong.


"Aku lega mendengarnya, ku pikir sesuatu terjadi padamu karena aku sangat mengkhawatirkan dirimu," ujar Melia. "Ya sudahlah, kalau begitu pergilah mandi dan berangkat kerja. Ingat, jangan terlalu dekat dan akrab dengan istrimu itu!" mengingatkannya.


"Ya," Ezaz kembali berbohong padahal bukan hanya itu, ia dan istrinya sudah melakukan sesuatu yang lebih sekedar kata dekat dan akrab.


Melia menutup teleponnya.


Ezaz meletakkan kembali ponselnya ke nakas, ia lalu melihat ke arah kamar mandi. Istrinya tak kunjung keluar walau sudah 15 menit, ia pun merebahkan tubuhnya di ranjang menunggu.

__ADS_1


__ADS_2